Leicester City: Sebuah Dekade Penuh Kejutan, Air Mata, dan Harapan Baru

Selama satu dekade terakhir, Leicester City menjadi bukti nyata bahwa sepak bola bisa menghadirkan kisah paling gila, paling tragis, sekaligus paling membanggakan.

oleh Ari Rachman PrayogaDiperbarui 07 Agustus 2025, 18:14 WIB
Para pemain Leicester City melakukan parade juara Liga Inggris 2015/2016 dengan menggunakan bus di kota Leicester (16/5/2016). Satu klub lagi yang mampu merusak dominasi klub Big Six pada musim 2015/2016 adalah Leicester City. Tidak tanggung-tanggung, The Foxes mampu membuat prestasi fenomenal dengan merebut trofi Premier League Liga Inggris pada musim 2015/2016. Kejutan juga dibuat Leicester City pada musim 2019/2020 dan 2020/2021 dengan menempati posisi ke-5. (AFP/Glyn Kirk)

Liputan6.com, Jakarta Selama satu dekade terakhir, Leicester City menjadi bukti nyata bahwa sepak bola bisa menghadirkan kisah paling gila, paling tragis, sekaligus paling membanggakan.

Dari menaklukkan Premier League sebagai juara kejutan pada 2016, hingga kembali terdegradasi ke Championship di tengah ancaman hukuman poin, semua telah dilalui The Foxes dalam perjalanan yang penuh dinamika.

Musim 2015/2016 menjadi momen paling magis dalam sejarah klub yang bermarkas di King Power Stadium. Di bawah asuhan Claudio Ranieri, Leicester yang saat itu tak diunggulkan, bahkan dijagokan terdegradasi, justru mengguncang dunia dengan menjadi juara Premier League. Cerita 5.000 banding satu itu kini menjadi legenda, simbol bahwa mimpi gila pun bisa jadi kenyataan.


Dari Puncak Premier League ke Zona Abu-abu

Pemilik klub sepak bola Leicester City, Vichai Srivaddhanaprabha, meninggal dalam kecelakaan helikopter, 27 Oktober 2018 (AP/Matt Dunham)

Namun dua tahun kemudian, langit biru di King Power Stadium berubah kelam. Vichai Srivaddhanaprabha, pemilik sekaligus tokoh penting di balik sukses Leicester, tewas dalam kecelakaan helikopter tragis di luar stadion.

Kehilangan Vichai bukan hanya soal kepemilikan klub, tapi juga kehilangan sosok ayah bagi komunitas sepak bola Leicester.

Kini, tepat satu dekade setelah keajaiban 2016, Leicester kembali ke kasta kedua sepak bola Inggris. Lebih pahit lagi, kejatuhan ini dibarengi dengan ancaman pengurangan poin karena dugaan pelanggaran aturan keuangan, usai sebelumnya berhasil promosi sebagai juara Championship hanya satu musim sebelumnya.


Akhir dari Era Emas Leicester

Striker terakhir dari klub di luar Big Six yang mampu menjadi top skor di Premier League adalah striker Leicester City, Jamie Vardy. Momen itu terjadi pada Premier League musim 2019/2020, di mana ia mampu memimpin sendirian di puncak top skor dengan torehan 23 gol. Ia mampu mengungguli para andalan klub Big Six seperti Pierre-Emerick Aubameyang (Arsenal), Raheem Sterling (Man City), Mohamed Salah (Liverpool) dan Harry Kane (Tottenham Hotspur). (AFP/Lindsey Parnaby)

Momen ini menjadi penanda akhir dari era emas Leicester. Jamie Vardy, ikon klub dan satu-satunya pemain tersisa dari skuad juara Premier League, telah pergi.

Di sisi lain, musim panas ini nyaris tanpa aktivitas belanja pemain, memperjelas arah klub yang lebih bersifat bertahan ketimbang ekspansif.

“Perjalanan 10 tahun ini seperti rollercoaster emosi,” ujar Kate Blakemore, fans Leicester yang juga kontributor BBC Sport. “Kami pernah berada di puncak, merayakan kemenangan FA Cup dan Premier League. Tapi kini, kami kembali ke Championship dan semuanya terasa tidak menentu.”


Daya Juang yang Tak Pernah Padam

Pemain Leicester City, Jamie Vardy melakukan selebrasi setelah mencetak gol yang ke-200 bersama timnya dalam laga lanjutan Liga Inggris 2024/2025 melawan Ipswich Town di King Power Stadium, Leicester, Inggris, Minggu (18/05/2025). (AP Photo/PA/Nigel French)

Kisah Leicester bukan hanya tentang kejayaan dan kehancuran, tapi juga tentang semangat untuk terus bangkit. Dari promosi ke Premier League pada 2014, bertahan dengan dramatis di bawah Nigel Pearson, hingga mencatat sejarah di Liga Champions dan meraih FA Cup serta Community Shield di bawah Brendan Rodgers.

Lanjut Baca:

Namun, keberhasilan itu tidak diikuti dengan investasi berkelanjutan. Kehilangan pemain-pemain penting seperti Riyad Mahrez dan Harry Maguire menjadi strategi finansial untuk menjaga neraca, namun pada akhirnya tidak cukup untuk menjaga kestabilan performa tim. “Jika di sepak bola kamu diam di tempat, maka sebenarnya kamu sedang mundur,” ujar Mike Stowell, mantan pelatih kiper yang 16 tahun mengabdi di Leicester. Ia menilai bahwa minimnya investasi setelah juara Premier League menjadi salah satu penyebab utama kemunduran klub.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya