Cerita Korban Selamat Bom Hiroshima: Insiden 80 Tahun Silam, Tapi Lukanya Tak Pernah Sembuh

Lee Jung-soon, seorang warga Korea menceritakan kisahnya yang selamat dari bom Hiroshima.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiperbarui 06 Agustus 2025, 14:34 WIB
Sehari jelang upacara peringatan 80 tahun bom atom pertama di dunia, Kubah Bom Atom di kota Hiroshima, Prefektur Hiroshima ramai dikunjungi wisatawan dan peziarah. (Richard A. Brooks/AFP)

Liputan6.com, Tokyo - Pagi hari 6 Agustus 1945, saat sebuah bom atom meluncur di langit Hiroshima, Lee Jung-soon yang kala itu berusia delapan tahun sedang berjalan menuju sekolah dasar. Kini, 80 tahun setelah peristiwa itu, Lee, yang telah berusia 88 tahun, masih berupaya melupakan kenangan buruk tersebut.

"Ayah saya sedang bersiap berangkat kerja, tapi tiba-tiba ia kembali dan menyuruh kami mengungsi," kenang Lee.

"Kata orang-orang, jalanan penuh dengan mayat, tapi yang saya ingat hanyalah menangis. Saya menangis dan terus menangis."

Bom berkekuatan setara 15.000 ton TNT itu meluluhlantakkan kota Hiroshima yang saat itu dihuni 420.000 jiwa. Tubuh para korban, kata Lee meleleh hingga yang tersisa hanya bola mata mereka, dikutip dari laman BBC, Rabu (6/8/2025).

Setelah ledakan, yang tersisa hanyalah mayat-mayat hancur tak berbentuk.

"Bom atom itu adalah senjata yang sangat mengerikan," kata Lee.

Hari ini, dunia mengenang 80 tahun serangan bom atom pertama di dunia itu. Saat Amerika Serikat menjatuhkan bom yang dijuluki "Little Boy" di pusat Hiroshima. Sekitar 70.000 orang tewas seketika, dan puluhan ribu lainnya meninggal dalam bulan-bulan berikutnya karena radiasi, luka bakar, dan dehidrasi.

Namun, dari banyak kisah yang tercatat tentang Hiroshima, sedikit yang menyoroti nasib sekitar 20 persen korban yang berasal dari Korea. Saat itu, Korea masih menjadi koloni Jepang. Diperkirakan ada 140.000 warga mereka yang tinggal di Hiroshima, sebagian besar dari mereka datang karena dipaksa bekerja oleh penjajah Jepang, atau mencari hidup di bawah tekanan kolonialisme.

Bagi para penyintas bom atom asal Korea, tragedi tersebut tidak berhenti pada kehancuran fisik. Mereka mewarisi beban disfigurement, rasa sakit berkepanjangan, dan perjuangan panjang menuntut pengakuan yang hingga kini belum terselesaikan.

"Tak ada yang mau bertanggung jawab," ujar Shim Jin-tae, penyintas yang kini berusia 83 tahun.

"Negara yang menjatuhkan bom tak meminta maaf. Negara yang seharusnya melindungi kami pura-pura tak tahu. Amerika Serikat tak pernah meminta maaf. Jepang berpura-pura lupa. Korea sendiri tak lebih baik. Mereka saling lempar tanggung jawab, dan kami dibiarkan sendirian."

Shim kini tinggal di Hapcheon, sebuah wilayah kecil di Korea Selatan yang dikenal sebagai "Hiroshima-nya Korea" karena menjadi rumah bagi banyak penyintas bom atom.

Bagi Lee Jung-soon, trauma hari itu tidak hanya membekas di ingatan, tapi juga tertanam dalam tubuhnya. Ia kini mengidap kanker kulit, Parkinson, dan angina yang membuat jantungnya melemah. Namun, yang lebih menyakitkan baginya adalah melihat penderitaan itu menurun kepada anaknya, Ho-chang Lee, yang kini menjalani cuci darah akibat gagal ginjal.

"Saya percaya ini akibat paparan radiasi, tapi siapa yang bisa membuktikannya?" ujar Ho-chang.

"Membuktikannya secara ilmiah sangat sulit. Tes genetik mahal dan melelahkan."

 

 

Kehidupan yang Sulit

Kubah Bom Atom di Hiroshima menjadi simbol kuat dari kekuatan menghancurkan dari senjata nuklir dan menjadi pengingat dampak mengerikan perang. Bangunan ini merupakan saksi bisu peristiwa pemboman di Hiroshima. (Richard A. Brooks/AFP)

Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan mengaku telah mengumpulkan data genetik antara tahun 2020 hingga 2024, dan akan melanjutkan penelitian hingga 2029. Namun, perluasan definisi korban kepada generasi kedua dan ketiga baru akan dilakukan jika hasil penelitian menunjukkan bukti statistik yang kuat.

Hapcheon, tempat asal banyak korban bom Hiroshima adalah daerah pegunungan dengan lahan pertanian yang minim. Di bawah penjajahan Jepang, kehidupan di sana makin sulit. Tanaman disita, kemarau melanda, dan ribuan orang pergi ke Jepang demi bertahan hidup. Ada yang dipaksa menjadi buruh, ada yang tergiur janji "makan tiga kali sehari dan menyekolahkan anak-anak."

Namun, di Jepang, mereka diperlakukan sebagai warga kelas dua. Orang Korea sering ditempatkan di pekerjaan paling berat, kotor, dan berbahaya. Ayah Shim bekerja di pabrik amunisi sebagai buruh paksa, sementara ibunya memaku peti-peti amunisi dari bahan kayu.

Setelah bom meledak, orang-orang Korea-lah yang disuruh membersihkan mayat-mayat. "Awalnya mereka pakai tandu, tapi terlalu banyak jenazah. Akhirnya mereka pakai serokan dan membakar mayat-mayat itu di halaman sekolah," kenang Shim.

Terpapar Radiasi

Tahun ini, dunia memperingati 80 tahun serangan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. (Richard A. Brooks/AFP)

Studi dari Gyeonggi Welfare Foundation mencatat, para korban asal Korea tidak hanya terpapar langsung ledakan, tapi juga radiasi jangka panjang karena tidak memiliki kerabat untuk mengungsi dan akses ke layanan medis sangat terbatas. Akibatnya, tingkat kematian di kalangan orang Korea mencapai 57,1 persen, jauh di atas rata-rata korban Hiroshima yang sekitar 33,7 persen.

Ketika perang usai dan Jepang menyerah, sekitar 23.000 penyintas Korea kembali ke tanah air. Namun, bukannya disambut, mereka malah dianggap aib. Luka-luka bakar dan cacat tubuh akibat bom atom membuat mereka dijauhi.

"Hapcheon sudah punya koloni lepra," ujar Shim. "Karena itu, orang mengira korban bom atom punya penyakit kulit yang menular."

Lee Jung-soon juga menyaksikan sendiri diskriminasi itu. "Orang-orang yang kulitnya hangus, wajahnya cacat, mereka ditolak menikah. Mereka dianggap kutukan."

Stigma itu membuat banyak korban memilih diam, menyembunyikan penderitaan mereka. Sementara, penyakit-penyakit aneh mulai bermunculan, dari kanker, gagal ginjal, hingga gangguan jantung. Namun tak ada yang berani atau bisa menjelaskan secara pasti.

 

Masalah Cacat Tubuh yang Tak Terhindar

Pengeboman dua kota besar di Jepang tersebut sekaligus menandai tahap akhir Perang Dunia II. (Richard A. Brooks/AFP)

Generasi kedua dan ketiga mulai ikut merasakan dampak tersebut. Han Jeong-sun, anak dari korban selamat, menderita kerusakan pada tulang pinggul sehingga ia harus berjalan dengan menyeret tubuhnya. Anak pertamanya lahir dengan cerebral palsy.

"Anak saya tak pernah bisa melangkah seumur hidupnya," ujarnya.

"Mertua saya bilang, 'Kau melahirkan anak cacat, kau sendiri cacat—apa kau mau hancurkan keluarga kami?' Waktu itu adalah neraka bagi saya."

Butuh waktu hingga 2019 bagi pemerintah Korea Selatan untuk merilis laporan resmi pertama tentang korban bom atom. Laporan itu pun hanya berdasarkan survei kuesioner. Kementerian Kesehatan berdalih, sebelum 2019 tidak ada dasar hukum untuk membiayai penelitian atau memberi dukungan resmi.

Namun beberapa studi telah membuktikan bahwa generasi kedua korban bom atom lebih rentan terhadap berbagai penyakit fisik dan mental.

Di tengah perjuangan panjang ini, Lee dan Shim mengaku tak lagi menuntut ganti rugi, mereka hanya ingin pengakuan.

"Bagi kami, ingatan lebih penting daripada kompensasi," kata Shim. "Tubuh kami mengingat apa yang terjadi. Jika kita melupakan, maka hal ini akan terulang. Dan suatu hari nanti, tidak akan ada lagi yang bisa menceritakan kisah ini."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya