Cerita Paolo Maldini: Menang Karena Pernah Kalah

Paolo Maldini adalah legenda AC Milan yang tak tergantikan, baik di lapangan maupun dalam sejarah klub.

oleh Gia Yuda PradanaDiperbarui 04 Agustus 2025, 16:20 WIB
4. Paolo Maldini - Pemain legenda ini menjadi bek paling tangguh dan loyal yang pernah dimiliki AC Milan. Berkat ketangguhan Maldini menjaga lini pertahanan, AC Milan sukses meraih trofi Liga Champions 2007. (AFP/Giuseppe Cacace)

Liputan6.com, Jakarta Paolo Maldini adalah legenda AC Milan yang tak tergantikan, baik di lapangan maupun dalam sejarah klub. Ia baru-baru ini mengenang perjalanan kariernya, mulai dari debut tanpa sepatu yang tepat hingga mengakui bahwa kekalahan membentuk kesuksesannya.

Selama 25 tahun bersama Milan, Maldini telah meraih banyak gelar, tapi ia tak lupa bagaimana rasa kalah menempa mentalitasnya. Ia juga bicara soal debut yang mengejutkan, tekanan karena nama besar ayahnya, hingga derbi-derbi yang sempat membuatnya gemetar.


Debut Tak Terduga di Usia 16 Tahun

Meski demikian, Milan juga mengabarkan bahwa Duo Maldini dalam kondisi baik-baik saja dan akan tetap berada dalam karantina hingga penyakit tersebut hilang. (AFP/Guiseppe Cacace)

Maldini mengawali karier profesionalnya di usia 16 tahun dan ia sama sekali tidak menyangka akan bermain hari itu. "Ketika saya melakukan debut, saya pikir saya tidak akan bermain. Saya bahkan tidak membawa sepatu yang tepat," ungkapnya kepada Rai 3.

Kala itu, ia merasa masih berada di belakang pemain yang lebih senior dan berpengalaman. Namun, begitu diminta masuk oleh pelatih, ia langsung siap tempur, "Saya bilang pada pelatih, saya bisa bermain di mana saja."


Bermain di Bawah Bayang-bayang Sang Ayah

1. Maldini - Sebuah contoh sukses kisah ayah dan anak dalam dunia sepakbola. Paolo memulai debut dilatih sang ayah, Cesare, saat memperkuat Timnas Italia U-21 pada tahun 1996. (Kolase foto-foto AFP)

Sebagai putra dari Cesare Maldini, nama besar sang ayah menjadi beban tersendiri bagi Paolo. "Saya memiliki hubungan yang baik dengannya. Di tahun-tahun awal, saya tidak bisa menyangkal bahwa warisannya cukup membebani saya."

Namun, tekanan itu menjadi bagian dari proses pendewasaan dan pematangan mental di lapangan. Maldini membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar anak dari seorang legenda, tetapi mampu menjadi legenda itu sendiri.


Belajar dari Kekalahan

Kapten AC Milan, Paolo Maldini, saat mengangkat trofi Liga Champions 2003 usai mengalahkan Juventus, di Old Trafford. (UEFA)

Maldini percaya bahwa kemenangan sejati lahir dari kekalahan yang menyakitkan. "Kesuksesan juga datang melalui kekalahan. Pada akhirnya, saya adalah salah satu pecundang terbesar sekaligus pemenang terbesar."

Ia merasa beruntung bisa meraih banyak trofi, tapi juga banyak belajar dari kekalahan. "Saya cukup beruntung bisa menang sambil banyak mengalami kekalahan juga," katanya dengan nada reflektif.


Derby della Madonnina yang Bikin Gemetar

2. Paolo Maldini (AC Milan) - Saat sang legenda memutuskan untuk pensiun, saat itu pula nomor tiga diistirahatkan. Persembahan 26 trofi untuk klub kota Milan itu membuat I Rossoneri layak memberikan penghormatan tinggi untuknya. (AFP/Emilio Andreoli)

Derby della Madonnina selalu jadi laga penuh emosi bagi Maldini, terutama di awal kariernya. "Derby-derby pertama adalah yang paling sulit, karena saya sangat ingat setelah pertandingan saya bilang, 'Saya tidak suka bagaimana saya bermain.'"

Tegang dan gugup membuatnya sulit tampil maksimal, bahkan merasa tubuhnya kaku. "Saraf saya terlalu tegang, dan saya agak lumpuh," ucapnya mengingat masa-masa penuh tekanan itu.

Sumber: Rai 3, Sempre Milan

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya