Inovasi Teknologi Jadi Kunci Ciptakan Sistem Pangan Tangguh

Menghadapi krisis iklim dan isu gizi, sistem pangan Indonesia butuh transformasi besar. Inovasi teknologi dari hulu ke hilir menjadi jawabannya.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 01 Agustus 2025, 13:15 WIB
Petani memisahkan gabah saat panen padi di sawah Desa Bube Baru, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo (15/3). Mereka lebih memilih menggunakan tenaga manusia agar Kebersamaan mereka terhaga. (Liputan6.com/Arfandi Ibrahim)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia menghadapi tantangan besar dalam sistem pangannya, mulai dari krisis iklim hingga isu gizi. Untuk menjawab tantangan ini, transformasi menuju sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan menjadi sangat krusial.

Peneliti dan Analis Kebijakan dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Maria Dominika, bahwa inovasi teknologi pangan adalah kunci utama untuk mencapai transformasi tersebut.

"Kunci transformasi tersebut tidak terlepas dari inovasi teknologi pangan. Perkembangan riset dan teknologi pangan mampu membuka peluang besar untuk mendorong upaya transformasi." kata dia, dalam keterangan tertulis, Jumat (1/8/2025). 

"Namun, inovasi tidak tercipta secara instan, melainkan perlu dukungan dari sebuah ekosistem yang suportif dan terbuka terhadap ide-ide baru,” jelas Maria.

Menurut Maria, inovasi yang dibutuhkan mencakup berbagai aspek. Di antaranya, pengembangan benih unggul yang tahan terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem, yang saat ini makin sulit diprediksi.

Selain itu, diperlukan inovasi dalam proses produksi agar lebih efisien dan ramah lingkungan, serta teknologi untuk penyimpanan, distribusi, dan pengolahan pangan yang dapat menekan angka kerugian pascapanen. Inovasi harus dilakukan secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir, untuk menjamin kelangsungan rantai pasok pangan.

 

Peran Sektor Swasta dan Akademisi

Petani menanam padi di persawahan di kawasan Tangerang, Kamis (3/12/2020). Kementerian Pertanian menargetkan pada musim tanam pertama 2020-2021 penanaman padi mencapai seluas 8,2 juta hektare menghasilkan 20 juta ton beras. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Meski adopsi teknologi pertanian di Indonesia masih terbatas, berbagai inisiatif telah bermunculan dari sektor swasta dan lembaga penelitian. Salah satunya dari PT Indolakto, yang menerapkan pendekatan circular economy dalam produksi susu.

GM R&D Health and Wellness sekaligus Head of Quality Management - Dairy & Beverages PT Indolakto, Tjatur Lestijaman menyatakan bahwa pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan peternak susu, tetapi juga menjaga keberlanjutan sektor peternakan.

Dunia akademisi juga tak kalah berperan. Della Rahmawati S.Si, M.Si., PhD, Head of Food Technology Department dari Swiss German University (SGU), memaparkan bagaimana universitasnya terlibat aktif dalam riset dan pengembangan inovasi.

 

Peran Perguruan Tinggi

Bersama mahasiswa, SGU berhasil menciptakan produk pangan bergizi seperti 'Rhisoya', olahan bubuk tempe semangit yang telah dilirik pemerintah untuk mengatasi masalah stunting. Contoh lain adalah pemanfaatan kelakai, tanaman lokal dari Palangkaraya, menjadi produk pangan berupa nori.

Inovasi-inovasi ini menunjukkan bahwa peran perguruan tinggi sangat penting dalam mengoptimalkan pemanfaatan pangan lokal, memperpanjang daya simpan, dan meningkatkan kualitas gizi bagi masyarakat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya