Ekonom soal Rojali dan Rohana: Mal Cuma jadi Tempat Pajang Barang, Belinya Online

Fenomena Rojali (rombongan jarang beli) dan Rohana (rombongan hanya nanya-nanya) semakin marak terlihat di berbagai pusat perbelanjaan.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 29 Juli 2025, 19:00 WIB
Suasana pusat perbelanjaan yang relatif sepi pengunjung di Mal Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (17/3/2020). Seiring meluasnya virus corona Covid-19 di Indonesia, pengunjung pusat perbelanjaan atau mal langsung turun drastis dengan penurunan fluktuatif sekitar 10-15%. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta Fenomena Rojali (rombongan jarang beli) dan Rohana (rombongan hanya nanya-nanya) semakin marak terlihat di berbagai pusat perbelanjaan. Berbagai faktor semisal penurunan daya beli hingga masyarakat lebih suka berbelanja online dibanding offline, ditengarai jadi penyebab.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, fenomena Rojali dan Rohana mencerminkan perubahan perilaku konsumen yang cukup kompleks.

Menurut dia, perilaku ini terjadi sebagai akibat dari tiga faktor utama yang saling terkait. Pertama, jelas karena adanya penurunan daya beli. Ketika harga-harga naik, tapi pendapatan banyak orang stagnan.

"Ditambah lagi, beban cicilan dan kebutuhan pokok yang makin besar bikin orang lebih hati-hati saat belanja. Mereka datang ke mal, tapi lebih untuk jalan-jalan atau cuci mata daripada belanja sungguhan," kata Yusuf kepada Liputan6.com, Selasa (29/7/2025).

Berikutnya, lantaran ada pergeseran perilaku dari belanja offline ke belanja online. Yusuf tidak menampik jika platform e-commerce kini banyak menawarkan diskon, plus kemudahan berbelanja tanpa harus beranjak dari tempat tinggal.

"Konsumen makin cerdas datang ke toko buat lihat-lihat dan tanya-tanya, lalu beli di e-commerce karena lebih murah atau ada promo. Ini yang melahirkan Rohana," ungkap dia.

 

Mal Sebagai Tempat Nongkrong

Pengunjung melintas di depan tenant JD Sports Lippo Mall Puri, Jakarta (3/03/2022). JD Sport, “King of Trainer” resmi membuka gerai keduanya di salah satu mal yang dikelola oleh PT Lippo Malls Indonesia (LMI) bagi warga di wilayah Jakarta Barat dan sekitarnya. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Kendati begitu, ia menilai pusat perbelanjaan atau mal belum kehilangan perannya sebagai tempat untuk didatangi. Meskipun, fungsinya kini lebih dijadikan sebagai tempat berkumpul atau nongkrong dengan kawan, ketimbang berbelanja.

"Ketiga, mal sekarang lebih jadi tempat rekreasi sosial daripada tempat belanja. Dengan minimnya ruang publik yang nyaman, mal jadi tempat nongkrong, foto-foto, atau sekadar ngadem," sebutnya.

"Jadi wajar kalau banyak pengunjung datang bergerombol, tapi enggak beli apa-apa," ujar Yusuf.

 

Mal Tidak Sepenuhnya Tergantikan

Pengunjung melihat-lihat pakaian di gerai Mall Senayan City, Jakarta, Senin (15/6/2020). Pusat perbelanjaan atau mal di Jakarta kembali dibuka pada Senin (15/6) di masa PSBB transisi dengan jumlah pengunjung masih dibatasi hanya 50 persen dari kapasitas normal. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Kendati begitu, Yusuf percaya mal tetap punya tempat di hati masyarakat. Khususnya untuk berbelanja beberapa barang yang tidak disajikan di pasar online.

"Mungkin tidak sepenuhnya tergantikan, karena ada beberapa produk yang untuk beberapa konsumen lebih cocok berbelanja langsung tanpa menggunakan e-commerce," tutur dia.

Hanya saja, ia tidak memungkiri konsumen saat ini memang lebih suka berbelanja secara online ketimbang pergi ke mal. "Selama produk e-commerce akan menawarkan harga yang lebih murah, sulit berharap peran mal, bisa kembali seperti misalnya sebelum terjadinya pandemi Covid-19," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya