Ladang Rezeki Hangus Dilumat Api, Kisah Pilu Pedagang Pandangi Puing Sisa Kebakaran Taman Puring

Sejumlah pedagang yang kiosnya habis dilumat api, memandang kosong sisa puing kebakaran Pasar Taman Puring, Jakarta Selatan.

oleh Ady AnugrahadiDiperbarui 29 Juli 2025, 13:34 WIB
Kebakaran Pasar Taman Puring terjadi pada Senin malam 28 Juli 2025. (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

Liputan6.com, Jakarta - "Sawah kita ini, tempat kita cari makan," ucap Utep (43), Pemilik Laris Audio Mobil di Blok Q4 Pasar Taman Puring, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan kepada Liputan6.com, Selasa (29/7/2025).

Dia mengenakan baju training dan celana pendek duduk di kursi kayu dengan warna yang lusuh. Matanya memandangi bangunan, kayu-kayu dan besi yang menghitam akibat di lumat si jago merah.

Bagi Utep, itu ladang penghidupan sehari-hari. Utep punya kios audio mobil yang sudah berdiri sejak 2003 di Pasar Taman Puring. Saban hari, ia berdagang di sana, menyambung hidup untuk istri dan tiga anaknya.

Utep dengan muka yang lesuh mengingat kembali kejadian malam itu. Langit belum gelap sepenuhnya ketika kepulan asap mulai muncul. Waktu menunjukkan pukul 18.00 WIB.

Utep saat itu baru saja menutup kiosnya yang menjual audio mobil di Blok Q4. Dia hendak bersiap-siap menunaikan salat magrib.

Namun, matanya melihat sesuatu yang janggal dari atas langit, ada asap hitam membumbung tinggi.

"Pas azan lihat ke atas sudah banyak asap. Jadi langsung lari ke sini," kata Utep.

Malam itu, ia bersama seorang temannya bergegas membuka rolling door kios dan meraih barang apa pun yang bisa diselamatkan.

"Lihat api belum maju. Saya ambil apa yang bisa diambil," ucap dia.

Usep kembali datang untuk mengecek puing-puing yang masih bernilai sisa kebakaran Taman Puring. Walau pun, semalam ia sudah berusaha.

"Cek aja, lihat sisa-sisa aja," ucap Utep.

Dia belum tahu akan ke mana akan berdagang. Tetapi, Utep masih menaruh harapan bisa kembali jualan demi sesuap nasi.

"Sebagai warga negara mohon pemerintah gimana caranya harapannya kita bisa jualan lagi," cerita Utep.

 

Kios Sepatu Ikut Hangus Terbakar

Kisah pedagang Pasar Taman Puring yang kiosnya habis dilumat api. (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

Pagi setelah kebakaran, Selasa (29/7/2025) halaman pasar disesaki manusia. Warga dan pedagang korban kebakaran bergerombol di sekitar diantara reruntuhan, aroma asap yang masih menyengat. Ada yang datang untuk menyaksikan, ada yang mencari barang sisa.

Sebagian mengobrol dalam suara pelan, sebagian lain memilah-milah barang sisa dagangan yang masih bisa terselamatkan. Mereka mengangkutnya dalam karung putih atau menumpuknya di sudut-sudut pasar yang belum sepenuhnya padam.

Disudut lain, Haji Mad Soccer (60) berdiri memandangi puing-puing yang pernah menjadi kios sepatu miliknya. Pria asal Tangerang itu datang bersama anaknya. Ia mengenakan gamis putih, peci putih.

Ia sudah berdagang di Taman Puring selama 35 tahun. Tapi malam itu, ia memilih tak datang. Ia hanya menyaksikan pasar terbakar dari televisi dan memutuskan tak menerobos kemacetan.

"Pas kejadian saya lagi jaga istri. Toko udah tutup. Lihat dari TV sama aja. Semalem kan macet total. Nanti udah susah tambah susah. Kalau gini di pikirin, udah susah tambah susah masuk rumah sakit," ucap Mad Soccer.

 

Kehilangan Bukan Akhir Segalanya

Kebakaran Pasar Taman Puring terjadi pada Senin malam 28 Juli 2025. (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

Bagi Mad, kehilangan bukan akhir segalanya. Ia justru melihat hal lain dibalik musibah kebakaran.

"Harta kalau begini gak usah dipikirin, berarti ada yang gak bagus sama harta kita. Koreksi diri saja diri kita. Allah gak mungkin menegur umatnya kalau gak berlebihan. Jadi harus legowo aja sama yang kuasa," ucap Mad.

Kehilangan barang dagangan bernilai lebih dari seratus juta rupiah tak membuatnya uring-uringan.

"Ini cobaan, teguran macem-macem. Ya ini cobaan melalui ini," ucap dia.

Namun tidak semua bisa setegar Mad Soccer. Neni Heryani (48) masih tak menyangka dua kios audio mobil miliknya di Blok Q34 dan Q35 lenyap dilahap api.

Ia baru mendapat kabar ketika sedang salat magrib di rumahnya di Radio Dalam. Suaminya sedang dinas luar kota. Karyawan yang biasa menjaga kios tengah pulang kampung.

"Kemudian saya buru-buru datang ke sini kebetulan dekat dari Radio dalam," ucap Neni.

Setelah api padam, ia kembali ke lokasi untuk merapikan sisa-sisa reruntuhan.

"Semalam masih ada yang busa dibawa satu bak. Sekarang apa yang bisa dikumpulin-dikumpulin," ucap dia.

Neni sudah tiga dekade berdagang di Taman Puring. Dari sanalah ia bergantung penuh pada hasil dagangannya untuk menyekolahkan anaknya, menyambung napas sehari-hari.

Dia berharap ada relokasi dan bantuan modal, secepatnya.

"Mudah mudahan pemerintah meliha. Saya habis bener-bener gak ada satupun yang tertolong," tandas dia.

Infografis Marak Kebakaran di Jakarta. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya