Psikosomatik, Kala Emosi Negatif Menyamar Jadi Sakit Fisik

Sakit perut hari ini, besoknya pusing, lalu susah tidur, jantung berdebar, atau badan terasa lemas. Kondisi tersebut silih berganti tapi hasil pemeriksaan medis menunjukkan tak ada masalah fisik. Bisa jadi ini gangguan psikosomatik.

oleh Benedikta DesideriaDiperbarui 29 Juli 2025, 07:32 WIB
Ilustrasi seseorang lemas lalu sakit kepala tapi setelah jalani pemeriksaan kesehatan tidak ada masalah medis. Bisa jadi itu penyakit psikosomatik. (copyright Freepik)

 

Liputan6.com, Jakarta Pusing, lemas, sakit perut, mual, sulit tidur tapi ketika menjalani pemeriksaan medis hasilnya tidak ada masalah. Bisa jadi, itu penyakit psikosomatik.

Penyakit psikosomatik adalah kondisi medis nyata yang dipengaruhi faktor psikologis dan emosional. Pada orang yang mengalami ini keluhan pusing, lemas atau sulit tidur itu bukan berarti berpura-pura sakit seperti disampaikan dokter spesialis penyakit dalam konsultan psikosomatik dan paliatif Medik, E. Mudjaddid.

"Emosi negatif seperti kecemasan, ketakutan, atau trauma masa lalu dapat ‘menyamar’ menjadi gejala fisik di berbagai organ tubuh,” kata dokter dari Bethsaida Hospital Gading Serpong ini.

Mengingat gejala penyakit psikosomatik bisa berganti-ganti, berikut kriteria klinis penyakit psikosomatik seperti disampaikan Mudjaddid: 

  • Tidak ditemukan kelainan organik meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh.
  • Tidak disertai gangguan kejiwaan berat seperti psikotik atau disintegrasi kepribadian.
  • Keluhan berkaitan dengan emosi negatif tertentu yang pernah dialami, seperti merasa rendah diri, ketakutan, trauma masa lalu, penolakan, kegelisahan, citra diri yang buruk dan lain-lain.
  • Gejala berpindah-pindah dari satu organ ke organ lainnya, misalnya dari nyeri lambung ke pusing, susah tidur, jantung berdebar, badan lemas pada saat hampir bersamaan dan gejala lainnya.
  • Keluhan sering dipicu oleh stres berkepanjangan dalam kehidupan, baik dari pekerjaan, keluarga, kondisi ekonomi, maupun hubungan sosial.
  • Terdapat pencetus emosional seperti rasa cemas yang memunculkan keluhan fisik.

 

"Jika dibiarkan, gangguan ini bahkan bisa berkembang menjadi kerusakan organik yang nyata," kata Mudjaddid.

 

 

Cara Mengatasi Penyakit Psikosomatik dengan Pendekatan Komprehensif

Mudjaddid mengatakan penanganan untuk penyakit psikosomatik perlu pendekatan komprehensif dan terintegrasi karena penyebab utamanya adalah emosi dan pikiran, bukan semata-mata kelainan fisik.

Berikut empat aspek utama penanganan psikosomatik seperti yang dilakukan di Bethsaida Hospital:

1.Bio-Organik

Pemeriksaan fisik menyeluruh, pemberian obat sesuai kebutuhan, serta edukasi hidup sehat.

2.Psiko-Edukasi

Membangun hubungan yang suportif antara dokter dan pasien, sehingga pasien merasa didengar dan dimengerti.

 

Aspek Sosio-Kultural dan Spritual

3.Sosio-Kultural

Membantu pasien mengurai persoalan sosial seperti konflik rumah tangga, tekanan pekerjaan, hingga kondisi ekonomi.

4. Spiritual

Membimbing pasien untuk melihat konflik batin dari sudut pandang spiritual atau keagamaan, demi ketenangan jiwa.

Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dokter Pitono mengatakan dalam penanganan psikosomatik penting untuk menyentuh aspek psikologis dan spiritual selain medis.

“Kami memahami bahwa pasien dengan gangguan psikosomatik memerlukan pendekatan yang berbeda dan menyeluruh. Karena itu, Bethsaida menghadirkan layanan khusus dengan dukungan dokter spesialis yang profesional dan berpengalaman, termasuk konsultan psikosomatik," ungkap Pitono.

 

 

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya