Harumkan Nama Indonesia, Atlet Dancesport Cilik Asal Yogyakarta Sabet 5 Medali di Australia

Siswi kelas 5 SD Budi Utama Yogyakarta ini menjadi satu-satunya atlet dancesport dari Indonesia yang berlaga dalam kompetisi The Golden Rose International Championship 2025 yang digelar di Sydney, Australia.

oleh Liputan6.comDiperbarui 28 Juli 2025, 15:04 WIB
Angelaida Agil Maharanny, atlet Dancesport asal Indonesia (Liputan6.com/Istimewa)

Liputan6.com, Yogyakarta - Prestasi membanggakan kembali diraih oleh anak bangsa di ajang internasional. Kali ini datang dari cabang olahraga dancesport yang masih belum banyak mendapat perhatian publik. Adalah Angelaida Agil Maharanny, atlet cilik asal Yogyakarta yang sukses mengharumkan nama Indonesia dalam The Golden Rose International Championship 2025 yang digelar di Sydney, Australia.

Di usianya yang masih 10 tahun, Angelaida berhasil menyabet dua medali emas dari kategori Pro-Am (professional–amateur) Samba dan Cha Cha, satu medali perak dari Pro-Am Jive, serta dua medali perunggu dari kategori Solo Junior Open Waltz dan Tango. 

Aldila, ibu kandung Angelaida, mengatakan bahwa ini terjadi berkat bantuan banyak pihak khususnya para Coach yg telah melatih Angelaida yaitu Coach Deddy Ratmoyo, Mr. Soni, Mr. Kelvin Choo yg melatih Angelaida Ballroom Dance, serta Coach Dyah Dwinita, Miss. Finasti, Mr. Rama dan Mr. Vernon Choo yg melatih Angelaida untuk Latin Dance.

"Selain itu dukungan dan support tiada henti dari Kepala Sekolah dan para guru serta teman-teman Angelaida menjadikan dia bisa mengharumkan nama Indonesia di dunia," tambah Aldila. 

Siswi kelas 5 SD Budi Utama Yogyakarta ini menjadi satu-satunya atlet dancesport dari Indonesia yang berlaga dalam kompetisi tersebut. Angel pun harus bersaing dengan ratusan atlet dari negara lainnya. Dalam kompetisi itu dia bersaing ketat dengan atlet dari Taiwan, Korea, Malaysia, New Zealand serta Australia sebagai tuan rumah penyelenggara.

Kompetisi sempat menegangkan karena Angelaida harus masuk di kategori U-16, meski usianya masih 10 tahun. Pertandingan di awal tampak sudah tidak berimbang, sampai beberapa kali bertabrakan di floor dengan atlet lain yang lebih tinggi. Meski demikian Angel tetap mampu menjaga ritme dansanya dengan baik.

Angelaida juga berlaga di kelas Solo Junior Open untuk Latin Dance maupun Ballroom Dance. Selain itu Angel juga turut serta di kelas Pro-Am (Professional-Amateur) berpasangan dengan Mr. Vernon Choo yg merupakan salah satu guru dansa Angelaida dari Malaysia. Berkat motivasi dan latihan intensif yang dilakukan Angelaida ia berhasil memperoleh 2 emas di kelas Pro-Am Samba dan Cha Cha, perak di kelas Pro-Am Jive, serta perunggu di kelas Solo Open Junior Waltz dan Tango.

"Yang banyak membuat decak kagum hingga mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari atlet lain, semua penonton yang menyaksikan serta para juri adalah di mana Angelaida selalu masuk final," terangnya

 

 

Dibina Pelatih Legendaris

Angelaida Agil Maharanny, atlet Dancesport asal Indonesia (Liputan6.com/Istimewa)

Nama Deddy Ratmoyo mungkin belum terlalu dikenal publik luas, namun di dunia dancesport, ia adalah sosok legendaris. Coach Deddy dikenal sebagai pelatih yang memperkenalkan ballroom dance ke kalangan anak-anak di Indonesia. Di balik kesuksesan Angelaida, ada jam-jam latihan yang panjang, konsistensi pembinaan, dan pendekatan emosional yang mendalam dari sang pelatih.

“Saya tidak langsung ajarkan teknik. Anak-anak itu harus senang dulu. Harus nyaman dulu dengan gerakan. Kalau teknik diajarkan terlalu cepat, mereka bisa jenuh,” ungkap Deddy. 

Angelaida pertama kali ditemukan Coach Deddy saat ikut kelas tari biasa di usia 7 tahun. Melihat potensi luar biasa dalam diri Angel, Coach Deddy lalu mengajaknya ikut kompetisi di Malaysia hingga menjadi titik awal kemunculan Angel sebagai atlet dancesport muda berbakat.

Tak hanya Coach Deddy, Angel juga dilatih oleh pelatih internasional seperti Mr. Kelvin Choo, Coach Dyah Dwinita, Miss Finasti, Mr. Rama, dan tentu saja Mr. Vernon Choo yang menjadi partner kompetisinya. Mereka tergabung dalam kolaborasi pelatih dari sekolah dansa Yud’s Ballroom Dancesport dan Yo Dancesport, tempat Angel menimba ilmu.

Yang mencengangkan, hingga kini Angelaida belum mendapatkan dukungan resmi dari pemerintah. Semua pembiayaan keberangkatannya ke luar negeri ditanggung oleh orang tua dan komunitas dancesport. Mulai dari kostum, tiket, hingga akomodasi selama di Australia, semuanya dikelola secara mandiri.

“Selama ini belum ada perhatian dari pemerintah. Tapi kami tetap semangat, karena kami percaya proses ini akan membuka jalan,” ujar sang ayah, Agus Eko Hidayat, yang selalu mendampingi Angel ke setiap turnamen.

Meski begitu, Angelaida mendapatkan dukungan penuh dari sekolahnya. Kepala Sekolah SD Budi Utama Yogyakarta dan para guru selalu memberi izin dan fleksibilitas waktu agar Angel bisa tetap menjalani pendidikan formalnya tanpa tertinggal, meskipun jadwal kompetisinya sangat padat.

Prestasi di Sydney hanyalah satu dari deretan panjang kompetisi yang akan diikuti Angelaida tahun ini. Selanjutnya, ia dijadwalkan membela tim squad dancesport DIY dalam ajang Fornas (Festival Olahraga Rekreasi Nasional) yang digelar di Nusa Tenggara Barat pada akhir Juli.

Tak berselang lama, Angel akan terbang ke Kuala Lumpur untuk bertanding dalam International Ballroom Dance Championship 2025 pada 16 Agustus. Dan sebagai puncaknya, ia akan tampil di kejuaraan internasional di Italia pada akhir tahun—sebuah pencapaian luar biasa bagi seorang atlet cilik seusianya.

“Kalau ditanya capek, pasti. Tapi saya suka nari. Setiap kali tampil, saya merasa senang banget. Dan kalau menang, rasanya kayak terbang,” ucap Angel polos saat ditanya tentang perasaannya mengikuti kompetisi bertubi-tubi.

Angelaida juga punya mimpi besar: tampil di Blackpool Dance Festival di Inggris, yang dikenal sebagai ajang paling prestisius di dunia dancesport. “Itu mimpinya Angel. Kami sedang menabung dan mencari jalan agar bisa sampai ke sana,” kata Aldila, sang ibu.

Menariknya, Angelaida tak hanya menari. Ia juga aktif di berbagai kegiatan seni lain seperti menyanyi, bermain piano, paduan suara, bahkan pantomim. Semua ini ia jalani dengan manajemen waktu yang baik, dibantu orang tua dan guru-guru yang mendukungnya.

Dengan semangat tak kenal lelah, Angelaida membuktikan bahwa anak-anak Indonesia punya daya saing tinggi di level global—asal diberi kesempatan dan dibina dengan konsisten. Ia kini menjadi wajah baru dancesport nasional, yang bisa menjadi inspirasi generasi muda lainnya.

“Angelaida adalah bukti nyata bahwa prestasi bisa lahir bukan hanya dari olahraga besar yang populer. Bahkan dari cabang yang jarang disorot, anak Indonesia bisa bersinar di panggung dunia,” tutup Coach Deddy dengan bangga.

Simak juga video pilihan berikut ini:

 

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya