Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco berharap perang antara Thailand-Kamboja tidak berlanjut. Ia juga mendukung upaya Malaysia untuk mendamaikan kedua negara tersebut.
"Sehingga inisiasi dari mungkin Perdana Menteri Malaysia untuk mempertemukan Thailand dan Kamboja itu patut kita apresiasi," ujar Dasco di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (28/7/2025).
Advertisement
Terkait keberadaan 15 Warga Negara Indonesia (WNI) di perbatasan negara tersebut, Dasco meminta Kementerian Luar Negeri (Kemlu) aktif memantau keselamatan mereka.
"Ya, kami sudah minta kepada Kementerian Luar Negeri untuk proaktif. Melakukan komunikasi-komunikasi kepada warga negara kita di sana," terang dia.
"Dan kita juga sudah mendapatkan informasi bahwa sudah ada dari Kementerian Luar Negeri yang melakukan komunikasi," ucap Dasco.
Terkait evakuasi WNI, Dasco menilai masih perlu melihat perkembangan di sana. Apabila benar ada genjatan senjata, ia menilai maka gak perlu ada evakuasi.
"Ya, kita lihat perkembangannya. Kalau keadaannya membaik, kan kita juga tahu bahwa ada keinginan dari pihak Kamboja untuk gencatan senjata.Kita harapkan bahwa keadaan di sana lebih baik sehingga tindakan-tindakan lebih lanjut mungkin tidak perlu dilakukan," pungkas Dasco.
Sebelumnya, ketegangan di perbatasan antara Thailand dan Kamboja kembali menjadi sorotan serius, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik.
Perang Thailand Kamboja dan Menanti Peran Mediasi ASEAN
Perang Thailand Kamboja ini berpusat pada sengketa wilayah yang tak kunjung usai. Situasi ini mendorong berbagai pihak, termasuk Komisi I DPR RI, untuk menyerukan upaya mediasi damai.
"Karena penyebabnya soal perbatasan, saya menyarankan sebaiknya kedua kepala negara, Kamboja dan Thailand, segera diundang oleh Ketua ASEAN, yaitu Malaysia. Sekretariat ASEAN perlu difungsikan untuk memediasi dan mendamaikan kedua pihak secara regional," kata Anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin dalam keterangannya, Sabtu 26 Juli 2025.
Ia juga mendorong agar ASEAN mempertimbangkan menggelar pertemuan tingkat tinggi jika situasi tidak segera mereda.
"Jika diperlukan, ASEAN harus mengadakan pertemuan khusus di tingkat kepala negara untuk menyelesaikan sengketa ini secara damai dan konstruktif," tegasnya.
Menurutnya, pendekatan damai melalui ASEAN sangat penting untuk menjaga kohesi internal organisasi tersebut.
"Masalah antarnegara ASEAN harus diselesaikan oleh ASEAN sendiri. Ini penting untuk menjaga keutuhan dan kredibilitas ASEAN dalam menghadapi tantangan kawasan," ungkap TB Hasanuddin.
Berharap ke ASEAN
Lebih lanjut, dia menegaskan Indonesia harus memiliki tanggung jawab moral dan strategis untuk ikut berperan dalam proses perdamaian.
"Sebagai negara besar dan berpengaruh di ASEAN, Indonesia dapat memainkan peran penting dalam menjembatani komunikasi antara Kamboja dan Thailand. Baik melalui diplomasi bilateral maupun dalam kerangka ASEAN," katanya.
Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas menyesalkan konflik yang terjadi di perbatasan Thailand dan Kamboja hingga memakan korban jiwa.
Dia berharap Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim selaku Ketua ASEAN tahun 2025 untuk mengentikan perang antara Thailand dan Kamboja.
"Kita berharap agar Anwar Ibrahim perdana menteri Malaysia sebagai ketua Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) saat ini untuk melakukan langkah-langkah konkrit bagi menghentikan peperangan," jelas Anwar Abbas melalui siaran persnya, Sabtu 26 Juli 2025.
Dia juga mendorong PM Malaysia mendesak Thailand dan Kamboja agar menyelesaikan konflik melalui meja perundingan. Anwar menilai hal ini penting agar kawasan ASEAN menjadi aman dan damai.
"Ini sangat penting dilakukan karena kita ingin kawasan ASEAN tetap menjadi kawasan yang aman, tentram dan damai," ujarnya.
Anwar mengingatkan Thailand dan Kamboja bahwa perang akan membawa kerugian bagi pihak yang menang maupun kalah. Untuk itu, dia mengimbau kedua negara segeramenghentikan peperangan dan menyelesaikan masalah mereka melalui perundingan.
"Marena bagaimanapun juga seperti kata peribahasa "menang jadi arang, kalah jadi abu. Kata-kata ini hendaknya benar-benar disadari oleh kedua belah pihak karena jika perang ini terus berlanjut maka baik yang menang maupun yang kalah akhirnya akan sama-sama mengalami kerugian dan kehancuran," tutur Anwar.
Sebelumnya, Pejabat Kamboja melaporkan korban tewas akibat konflik perbatasan yang sedang berlangsung dengan Thailand bertambah 12 orang, yang kini totalnya mencapai 32 orang dari kedua belah pihak.
Korban Bertambah
Juru bicara Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja, Maly Socheata, mengatakan bahwa tujuh warga sipil dan lima tentara lagi telah dikonfirmasi tewas.
Sebelumnya, seorang pria Kamboja dilaporkan tewas ketika roket Thailand menghantam pagoda Buddha tempat ia berlindung pada Kamis 26 Juli 2025.
Menurutnya, tak kurang 50 warga sipil Kamboja dan lebih dari 20 tentara juga dilaporkan terluka.
Thailand melaporkan bahwa 13 warga sipil, termasuk anak-anak, serta enam tentara tewas selama dua hari terakhir pertempuran. Sebanyak 29 tentara Thailand dan 30 warga sipil juga dilaporkan terluka akibat serangan dari pihak Kamboja.
Seperti dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (26/7/2025), surat kabar Kamboja The Khmer Times, mengutip pejabat di Provinsi Preah Vihear, melaporkan sekitar 20.000 penduduk telah dievakuasi dari wilayah perbatasan utara negara itu dengan Thailand.
Sementara itu, lebih dari 138.000 orang juga telah dievakuasi dari wilayah perbatasan Thailand, dengan sekitar 300 pusat evakuasi dibuka, menurut pejabat Thailand.