Cerita Inspiratif Pendiri Djarum, Jualan Minyak Kacang Tanah Sebelum Rambah Industri Rokok

Perjalanan bisnis pengusaha kondang asal Indonesia, Hartono, memberi banyak inspirasi bagi masyarakat Indonesia

oleh Septian DenyDiterbitkan 27 Juli 2025, 20:00 WIB
Semangat ribuan pekerja PT Djarum melinting, merapikan, dan mengepak jutaan batang rokok. (Fiki/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta Perjalanan bisnis pengusaha kondang asal Indonesia, Hartono, memberi banyak inspirasi bagi masyarakat Indonesia. Pria yang memegang peran penting dalam PT Djarum, salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia itu ternyata mengawali bisnis bukan dari industri hasil tembakau.

Direktur Utama PT Djarum Victor Rachmat Hartono, dalam acara Meet The Leaders by Universitas Paramadina di Trinity Tower, Jakarta Selatan, Sabtu (26/7/2025), menceritakan perjalanan bisnis keluarga tersebut.

Dia menjelaskan, sebelum menjajaki bisnis rokok, kakek moyangnya memulai bisnis dengan masuk ke industri minyak kacang tanah.

"Kita peres kacangnya jadi minyak kacang dan nanti dipakai buat masak sayur, dan lain-lain. Ini di zaman yang belum ada minyak sawit. Begitu minyak sawit keluar, minyak kacang tanah kalah saingan, jadi berkurang," kata Victor dikutip Minggu (27/7/2025).

Dia mengatakan, bisnis minyak kacang tanah tersebut dikelola oleh kakek buyutnya yang merupakan generasi keluarga ke-4. Lalu dari generasi ke generasi berikutnya, bisnis keluarganya terus terombang-ambing tanpa kejelasan. Victor lantas membandingkan kejayaan keluarganya dari ukuran makam kakek buyutnya.

"Saya ini pengurus makam keluarga. Jadi saya tahu makam yang generasi keempat itu gede banget, yang pengusaha kacang. (Generasi) ke-5 makin kecil, ke-6 kok makin kecil ya. Ini enggak punya dana ini. Itu indikasi kenyataan. Real estatenya makin kecil," kata Victor.

 

Pabrik Kembang Api

Sejumlah pekerja menyelesaikan proses pelintingan rokok di pabrik rokok PT. Djarum, Kudus, Jateng, Selasa (8/4). (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

Memasuki generasi ke-7, kakeknya Oei Wie Gwan memulai usaha mercon, hingga mampu mendirikan pabrik kembang api pada 1927. Produk mercon tersebut dilabeli merek Cap Leo.

Namun saat Jepang masuk ke Indonesia, Belanda melakukan antisipasi dengan melarang peredaran bubuk mesiu sehingga pabriknya harus tutup.

Selama 1942--1951, berbagai sektor bisnis dijajaki, termasuk kontraktor yang membangun landasan udara Ahmad Yani. Barulah pada 1951, Oei Wie Gwan membeli sebuah pabrik rokok kretek kecil di Kudus.

"Keluarga kita tuh bukan tipe yang nggak punya uang banget, terus tiba-tiba punya uang. Kita tuh pelan-pelan makin makmur. Dan saya lihat kuburannya abis-abisan juga. Saya ngurus dari generasi 1 sampe generasi 6, jadi saya bisa lihat dari kualitas kuburan. Ini pelan-pelan naik, sudah berapa generasi," jelas Victor.

Kini, Djarum telah tumbuh menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia. Tidak hanya itu, Djarum Group juga merambah bisnis di berbagai lini, mulai dari perbankan, properti, elektronik, bahkan hingga kesehatan.

Grup Djarum Beli 62,93 Juta Saham Treasuri SSIA, Segini Nilainya

Karyawan berjalan di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Indeks acuan bursa nasional tersebut turun 96 poin atau 1,5 persen ke 6.317,864. (Liputan6.com/Johan Tallo)

PT Surya Internusa Semesta Tbk (SSIA) mengalihkan sebagian saham treasuri sebesar 62,93 juta kepada PT Dwimuria Investama Andalan, perusahaan holding milik grup Djarum.

Mengutip keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Jumat (25/7/2025), pengalihan saham treasuri SSIA sebesar 62.930.200 kepada Dwimuria Investama Andalan dilakukan pada 22 Juli 2025 dengan harga penjualan Rp 2.700 per saham.

Harga penjualan itu lebih tinggi dari harga rata-rata dari harga penutupan perdagangan harian di bursa efek selama 90 hari terakhir sebelum penjualan kembali saham. Dengan demikian, Dwimuria Investama Andalan rogoh kocek Rp 169,91 miliar untuk beli saham treasuri SSIA. Pengalihan saham treasuri kepada Dwimuria Investama itu dibantu oleh Mandiri Sekuritas.

Adapun SSIA memiliki 156.709.900 saham treasuri. Perseroan telah mengalokasikan saham treasuri tahap pertama, tahap kedua dan sebagian tahap ketiga atas saham treasuri kepada pihak-pihak dalam Perseroan.

 

Persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan

Layar indeks harga saham gabungan menunjukkan data di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/1). Angka tersebut naik signifikan dibandingkan tahun 2016 yang hanya mencatat penutupan perdagangan pada level 5.296,711 poin. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Hal ini dalam rangka program kepemilikan saham/management and employee stock option program (MESOP) berjumlah 87.017.600 saham. Di mana alokasi itu telah memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Perseroan pada 14 Mei 2020.

Perseroan telah mengalihkan sebagian saham treasuri Perseroan sejumlah 6.762.100 pada 25 Agustus 2023, di mana pihak-pihak yang menerima sebagian saham treasuri tersebut adalah Direksi Perseroan.

Pada penutupan perdagangan sesi pertama, Jumat, 25 Juli 2025, saham SSIA ditutup stagnan di posisi Rp 2.600 per saham. Harga saham SSIA dibuka naik 10 poin ke posisi Rp 2.610 per saham. Saham SSIA berada di level tertinggi Rp 2.650 dan level terendah Rp 2.560 per saham. Total frekuensi perdagangan 6.303 kali dengan volume perdagangan 168.779 saham. Nilai transaksi Rp 43,9 miliar.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya