Cerita Tukang Bakso Jauh-Jauh Temui Bupati, Usul Bakso Jadi Warisan Budaya Takbenda dari Wonogiri

Bakso yang semakin dikenal luas ini dapat berdampak pada perekonomian Wonogiri.

oleh Moch HarunsyahDiperbarui 27 Juli 2025, 08:22 WIB
Kedatangan puluhan juragan bakso ini untuk berdiskusi soal Bakso Wonogiri Mendunia kepada Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno.

Liputan6.com, Wonogiri - Sebanyak 30 tukang bakso yang tergabung dalam Bakso Wonogiri Mendunia mendatangi kantor Bupati Wonogiri, di Jalan Kabupaten Nomor 4, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah pada 25 Juli 2025.

Kedatangan puluhan juragan bakso ini untuk berdiskusi soal Bakso Wonogiri Mendunia kepada Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno.

Ketua Umum Bakso Wonogiri Mendunia, Maryanto mengatakan, populasi pedagang mi ayam dan bakso dari Wonogiri sangat banyak. Jumlahnya, kata dia, 80 persen lebih warga Wonogiri yang merantau ke seluruh wilayah Indonesia merupakan pedagang mi ayam dan bakso.

"Populasi ini menjadi potensi untuk memajukan Wonogiri," cerita Maryanto di depan Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno.

Selain memajukan ekonomi, populasi pedagang ini bisa menjadikan bakso semakin dikenal luas, termasuk di dunia internasional. Salah satu caranya dengan mendaftarkan bakso Wonogiri sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

Bakso yang semakin dikenal luas ini dapat berdampak pada perekonomian Wonogiri. Apalagi, Wonogiri masuk dalam daftar teratas daerah sebagai penghasil daging ternak sapi terbanyak di Jawa Tengah.

"Daging sapi jika kita kelola dengan baik tentunya akan menambah pendapatan penduduk Wonogiri. Suplai daging sapi itu cukup banyak," tutur Maryanto.

Bertumbuhnya usaha bakso dan mie ayam juga berperan dalam menyerap tenaga kerja. Hal semacam ini justru bisa meningkatkan penghasilan warga lokal.

"Tukang bakso di seluruh indinesia, serapan tenaga kerja ini banyak. Kami tidak perlu syarat khusus dan segala macam, anda mau kerja dan jujur, kami terima," tambah pria yang dikenal sebagai Ketua Paguyuban Pedagang Mi dan Bakso (Papmiso) Kota Bekasi.

 

Rencana Pembangunan Museum Bakso di Wonogiri

Pembina Bakso Wonogiri Mendunia, Suparno berpendapat bahwa menjadikan Wonogiri sebagai kota bakso dapat meningkatkan ekonomi warga setempat.

Sementara Pembina Bakso Wonogiri Mendunia, Suparno berpendapat bahwa menjadikan Wonogiri sebagai kota bakso dapat meningkatkan ekonomi warga setempat.

Karena itu, Suparno berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri bisa membantu dan turut andil menjadikan Wonogiri sebagai kota bakso dan mendunia.

"Kami ingin membantu pergerakan bersama Mas Maryanto. Kami berpikir, lahan-lahan nganggur digarap untuk menanam cabai. Nantinya akan disalurkan ke pedagang bakso Wonogiri. Cabai ini bahan baku untuk membuat sambal, makan bakso kan lebih nikmat kalau pakai sambal," ungkap Suparno.

Bukan hanya itu, Suparno mengaku sedang menyiapkan sebuah musem bakso untuk mendukung dan mewujudkan Wonogiri sebagai kota bakso. Dalam museum itu, terdapat berbagai alat memproduksi bakso.

Museum ini juga diharapkan sebagai wadah edukasi, mengenalkan, serta melestarikan bakso Wonogiri. Hal tersebut selaras dengan misi Bakso Wonogiri Mendunia mengusulkan bakso sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

"Kami bekerja tidak ada dasar politik tapi dasar kecintaan terhadap Wonogiri," kata Suparno.

Pada kesempatan ini, Maryanto meminta kesediaan Bupati Wonogiri Setyo Sukarno untuk menjadi pelindung dari Bakso Wonogri Mendunia. Merespons permintaan ini, Bupati Setyo menyatakan siap dan akan ikut mengawal inisiasi Wonogiri sebagai kota bakso.

"Pada prinsipnya kami sangat terbuka untuk membranding Wonogiri. Kami siap dalam rangka berkolaborasi," kata Setyo.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya