[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: Setengah Tahun Program Makan Bergizi Gratis

Hampir 7 juta penerima manfaat MBG di setengah tahun program Makan Bergizi Gratis berjalan. Ini empat masukan agar program MBG berjalan optimal.

oleh Prof Tjandra Yoga AditamaDiperbarui 26 Juli 2025, 09:07 WIB
Ini empat masukan agar program MBG yang sudah berjalan enam bulan dari Prof Tjandra Yoga Aditama. (Dok Pribadi)

Liputan6.com, Jakarta Bulan Juli 2025 program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah berjalan selama 6 bulan. Diberitakan program ini sudah atau akan segera mencakup hampir 7 juta penerima manfaat, artinya melebihi total penduduk Singapura yang berjumlah 5,9 juta orang.

Mengingat sudah setengah tahun berjalan berikut empat masukan terkait pelaksanaan MBG:

Pertama, penting melihat program Makan Bergizi Gratis sebagai suatu kerangka yang lengkap, yang oleh “World Food Program” disebut sebagai “School Nutrition Package Framework”.

Ada lima kegiatan utama di dalamnya, yaitu makanan bergizi, literasi tentang gizi, suplementasi, aktifitas fisik dan suasana lingkungan makanan sekolah yang baik.

Kedua, perlu kita sadari bahwa kegiatan MBG di negara dan berbagai negara dunia akan punya peran penting dalam pencapaian “Sustainable Development Goals (SDG)”. Dampaknya setidaknya pada empat tujuan SDG, yaitu Tanpa Kemiskinan, Tanpa Kelaparan, Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta Pendidikan Berkualitas.

Ketiga adalah dua aspek pokok kesehatan, yaitu jaminan mutu gizi makanan dan keamanan pangan (food security). Untuk jaminan mutu gizi maka perlu diperhatikan gizi seimbang sesuai konsep “Isi Piringku”.

Sementara untuk keamanan pangan maka semua pengelola Makan Bergizi Gratis di negara kita harus berpegang teguh pada prinsip keamanan pangan sejak mulai ketersediaan bahan pangan sampai masakan tersaji di depan anak-anak atau konsep from farm to plate.

 

Manajemen Pengorganisasian MBG

Keempat, aspek kepemimpinan dan manajemen pengorganisasian jelas punya peran amat penting, setidaknya karena tiga hal. Pertama karena lintas sektor yang terlibat amat luas, di pusat dan di daerah serta di lapangan, yang membutuhkan koordinasi yang mantap.

Kedua karena cakupan program juga amat luas, sampai puluhan juta penerima manfaatnya, yang tentu pengelolaannya dapat amat kompleks.

Ketiga, ini bukan hanya program yang bermanfaat tetapi juga punya nilai mulia, dan karena itu harus dikerjakan dengan pengelolaan manajemen mumpuni serta pengabdian dengan nilai yang luhur.

 

**Penulis adalah Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya