Puma Goyah, Saham Anjlok 17% Usai Pangkas Proyeksi Akibat Tarif AS

Puma memangkas proyeksi penjualan dan laba 2025 akibat dampak tarif AS, membuat sahamnya anjlok hingga 17%. CEO baru isyaratkan strategi perombakan besar. Seperti apa perombakan tersebut?

oleh Arthur GideonDiterbitkan 26 Juli 2025, 14:00 WIB
PUMA SELECT Autumn & Winter (Foto: PUMA)

Liputan6.com, Jakarta - Saham Puma merosot hingga 18% pada perdagangan hari Jumat setelah perusahaan perlengkapan olahraga asal Jerman itu melaporkan kinerja penjualan kuartal II 2025 yang lebih buruk dari perkiraan. Puma juga memangkas proyeksi penjualan dan laba untuk tahun ini.

Penyebab utamanya: dampak tarif impor dari Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari CNBC, Sabtu (26/7/2025), dalam pembaruan kinerja sementara yang dirilis Kamis malam, Puma mengungkapkan bahwa penjualan sepanjang 2025 diperkirakan akan turun dua digit (low double-digit), berbanding terbalik dari prediksi sebelumnya yang memperkirakan pertumbuhan di kisaran satu digit rendah hingga menengah.

Tak hanya itu, Puma juga memperkirakan akan mencatat rugi operasional di tahun depan. Hal ini berbalik tajam dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan laba operasional antara 445 juta hingga 525 juta euro atau sekitar Rp 8,5 triliun.

Pada pukul 11.00 waktu London, saham Puma tercatat turun 17% setelah sempat melemah lebih dalam di awal perdagangan.

“Di tengah ketidakpastian geopolitik dan kondisi ekonomi global yang terus berubah, kami memperkirakan tantangan industri dan internal akan tetap membebani kinerja Puma pada 2025,” tulis perusahaan dalam pernyataan resminya.

Beberapa faktor utama yang disebutkan antara lain lemahnya daya tarik merek, perubahan strategi distribusi, tingginya level inventori, dan tentunya dampak tarif AS.

 

Naikkan Harga, Kurangi Impor dari China

PUMA SELECT Autumn & Winter (Foto: PUMA)

Untuk mengurangi tekanan tarif, Puma menyatakan telah mengurangi impor dari China ke AS dan berencana menaikkan harga mulai kuartal IV tahun ini (Oktober). Namun demikian, perusahaan tetap memperkirakan tarif akan menggerus laba kotor 2025 sebesar sekitar 80 juta euro.

Perusahaan juga mengaku telah mempercepat pengiriman produk ke AS sebelum tenggat tarif baru berlaku—langkah yang justru menyebabkan lonjakan persediaan barang (inventory) di gudang.

CEO Puma Arthur Hoeld yang baru menjabat pada 1 Juli lalu, menyampaikan bahwa selain faktor eksternal, pihak internal perusahaan juga harus introspeksi.

“Kami harus bercermin. Hasil yang kami dapatkan saat ini mencerminkan bahwa kami gagal memenuhi ekspektasi kami sendiri,” ujarnya.

 

Kinerja di Bawah Ekspektasi

Mengolaborasikan seni dan musik, PUMA H-Street hadir dengan berbagai warna menarik. (Foto dok: PUMA Indonesia).

Dalam laporan awal, Puma mencatat penurunan penjualan sebesar 2% secara tahunan (disesuaikan nilai tukar) menjadi 1,94 miliar euro. Angka ini meleset dari estimasi analis dalam jajak pendapat LSEG yang memprediksi 2,06 miliar euro.

Laba operasional kuartalan (yang disesuaikan dan tidak termasuk biaya satu kali) tercatat minus 13,2 juta euro. Perusahaan juga membukukan biaya satu kali senilai 84,6 juta euro yang terkait dengan program efisiensi biaya.

Penurunan penjualan terbesar terjadi di Amerika Utara yang anjlok 9%, disusul penurunan di Eropa dan Asia Pasifik.

Hingga saat ini, saham Puma telah kehilangan setengah nilainya sejak awal tahun, tertekan oleh kombinasi tekanan perdagangan global dan permintaan konsumen yang lesu di pasar pakaian olahraga yang sangat kompetitif.

Pada Mei lalu, Puma sempat mengungkap bahwa kenaikan harga di industri adalah hal yang tak terhindarkan akibat tarif perdagangan.

Namun, mereka memilih tidak menjadi yang pertama memulai.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya