Liputan6.com, Jakarta - Fenomena langit mengenai Gerhana Matahari Total (GMT) yang terjadi pada 2 Agustus tengah menjadi sorotan. Ramai disebut akan terjadi pada tahun ini 2025, benarkah?
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin menuturkan, Gerhana Matahari Total akan terjadi pada 2 Agustus 2027, bukan pada 2025.
Advertisement
"Gerhana matahari total (GMT) 2 Agustus 2027 terjadi di Afrika Utara dan Arab Saudi," kata Thomas Djamaluddin dalam pesan tertulisnya kepada Liputan6.com, Rabu 23 Juli 2025.
"GMT hanya gelap sesaat di wilayah yang dilalui. Tidak seluruh seluruh bumi, Indonesia pun tidak terlintasi. GMT sering terjadi, ketika matahari terhalangi bulan," sambung dia.
Thomas pun menerangkan alasan mengapa wilayah di Indonesia tidak terlintas GMT pada 2 Agustus 2027.
"Jalur gerhana bergantung konfigurasi bumi-bulan-matahari. Saat itu di Indonesia malam hari," kata dia.
Sementara itu, dikutip dari situs Space, durasi GMT akan mencapai 6 menit 23 detik. Waktu gerhana pada 2 Agustus 2027 ini akan menjadi yang terlama sejak tahun 1991 dan hingga tahun 2114.
Proses Terjadinya Gerhana Matahari
Fenomena gerhana adalah fenomena astronomi yang berkaitan dengan bayangan. Gerhana terjadi saat sebuah objek bergerak lewat di depan objek lain atau objek tersebut masuk ke dalam bayangan objek diamati dari permukaan Bumi.
Untuk dapat terjadi gerhana, ketiga objek harus berada dalam satu garis, atau dikenal dengan terminologi sygyzy, yang berarti “terhubung bersama” dalam bahasa Yunani. Gerhana yang dikenal luas melibatkan Bumi, Bulan, dan Matahari.
Berikut proses terjadinya Gerhana Matahari dikutip dari website Observatorium Bosscha:
Gerhana matahari terjadi saat Bulan tepat berada di antara Bumi dan Matahari sehingga bayangan bulan jatuh ke sebagian permukaan Bumi. Bayangan ini terbagi menjadi 3 bagian, yaitu umbra, penumbra, dan antumbra.
Umbra adalah bayangan bagian dalam yang lebih gelap sedangkan penumbra adalah bayangan bagian luar yang tidak segelap umbra. Selain itu, antumbra adalah terusan dari umbra tetapi lebih terang.
Gerhana Matahari Total dan Gerhana Matahari Sebagian
Gerhana Matahari Total
Daerah di permukaan Bumi yang berada di dalam umbra akan dapat menyaksikan Gerhana Matahari Total (GMT), saat piringan matahari tertutup seluruhnya oleh piringan bulan. Seiring rotasi Bumi dan revolusi Bulan, bayangan umbra akan bergerak dari barat ke timur menghasilkan pita sempit di permukaan bumi yang dikenal dengan jalur totalitas.
Daerah yang berada di jalur totalitas akan dapat menyaksikan Matahari perlahan masuk ke bayangan bulan. Saat itulah peristiwa gerhana matahari mulai terjadi. Peristiwa tertutupnya piringan matahari berlangsung perlahan selama kurang lebih satu jam hingga tiba pada fase totalitas gerhana, saat piringan matahari ditutupi sepenuhnya.
Fase totalitas akan terjadi selama beberapa menit saja sampai perlahan Matahari meninggalkan bayangan umbra dan gerhana berangsur selesai.
Gerhana Matahari Sebagian
Wilayah di permukaan Bumi yang berada di dalam penumbra akan dapat menyaksikan Gerhana Matahari Sebagian (GMS), yaitu saat piringan matahari tidak tertutup sepenuhnya oleh piringan bulan ketika fase maksimum gerhana.
Wilayah lain di permukaan Bumi di luar penumbra tidak akan dapat menyaksikan gerhana matahari. Ada kalanya bayangan umbra tidak sampai di permukaan Bumi. Hal ini membuat hanya bayangan penumbra yang jatuh sampai ke permukaan Bumi sehingga akan terjadi Gerhana Matahari Sebagian tanpa ada Gerhana Matahari Total.
Gerhana Matahari Cincin dan Gerhana Matahari Hibrida
Gerhana Matahari Cincin
Orbit Bulan mengelilingi Bumi berbentuk elips sehingga akan ada saatnya Bulan berada pada jarak terdekat dari Bumi (perigee) dan terjauh (apogee). Gerhana Matahari Cincin (GMC) terjadi ketika Bulan berada pada apogee sehingga membuat ukuran piringan bulan menjadi lebih kecil dibanding ukuran piringan matahari ketika dilihat dari Bumi.
Hal ini menjadikan piringan bulan tidak dapat menutupi piringan matahari sepenuhnya dan menyebabkan Matahari terlihat sebagai “cincin” saat mencapai fase maksimum gerhana.
Gerhana Matahari Hibrida
Dalam sebuah kejadian gerhana matahari, ada kalanya jarak Bulan tertentu menghasilkan panjang bayangan umbra yang sampai di permukaan Bumi. Namun, bayangan tersebut tidak cukup panjang untuk sampai di bagian lain permukaan bumi sehingga hanya mendapatkan bayangan antumbra.
Bila hal ini terjadi, gerhana dapat dimulai sebagai gerhana cincin kemudian berubah ke gerhana total, lalu berakhir kembali sebagai gerhana cincin. Gerhana ini disebut gerhana matahari hibrida.
Gerhana matahari hibrida merupakan jenis gerhana yang jarang terjadi, sekitar satu gerhana per dekade. Hal ini karena jarak Bulan dan Matahari terhadap Bumi haruslah sesuai.Jika jarak Bulan dan Bumi relatif dekat, hanya umbra yang jatuh di permukaan Bumi, menciptakan gerhana matahari total.
Sementara itu jika jarak Bulan dan Bumi relatif jauh, antumbra akan jatuh di permukaan Bumi dan menciptakan gerhana matahari cincin. Kendalanya adalah jarak terhadap Matahari dan Bulan yang terus berubah. Karena rentang jarak yang diperlukan agar terjadi gerhana matahari hibrida sangatlah sempit, sebagian besar konfigurasi gerhana tidak cocok untuk jenis gerhana ini.