Kebaya-Kebaya Ibu Negara dari Masa ke Masa

Gaya dan karakter kebaya setiap ibu negara tak lepas dari latar belakang seperti asal daerah hingga kepribadian.

oleh SupriatinDiterbitkan 24 Juli 2025, 06:35 WIB
Iriana Jokowi menyembatkan untuk melihat-lihat booth yang menjual kebaya. (Dok: Liputan6.com/dyah)

Liputan6.com, Jakarta- Kebaya bukan sekadar busana, tapi juga warisan budaya yang menjadi identitas perempuan Indonesia. Sejak dahulu, kebaya menjadi simbol kebanggaan yang dikenakan dalam momen-momen penting, baik di panggung nasional maupun internasional.

Tak terkecuali para ibu negara. Dari Fatmawati hingga Iriana Jokowi, kebaya merepresentasikan karakter, nilai, dan gaya masing-masing. Hampir semua ibu negara memiliki kesamaan, yakni kerap menggunakan kebaya yang sederhana.

Pengamat tata busana, Suciati mengatakan, gaya dan karakter kebaya setiap ibu negara tak lepas dari latar belakang seperti asal daerah hingga kepribadian.

"Ibu Negara simbol kemakmuran, keramahtamahan, religi, peradaban, dan pendidikan," kata Suciati.

Berikut kebaya-kebaya ibu negara dari masa ke masa:

Fatmawati

Presiden RI ke-1 Ir. Soekarno dan istrinya, Fatmawati | Via: istimewa

Ibu Negara pertama ini dikenal dengan gaya berkebaya yang sederhana dan bersahaja. Istri Presiden Soekarno ini sering memakai kebaya polos atau dengan motif sederhana, serta selendang yang juga berfungsi sebagai kerudung.

Raden Ayu Siti Hartinah (Tien Soeharto)

Potret kenangan Pak Harto dan Ibu Tien Soeharto. (Foto: Dok. Instagram @cendana.archives)

Ibu Tien, istri dari presiden kedua RI, dikenal dengan gaya berkebayanya yang klasik dan anggun. Dia sering mengenakan kebaya kutu baru pendek, kain sinjang, sanggul, dan selendang yang dilipat, mencerminkan gaya Keraton.

Hasri Ainun Besari (Ainun Habibie)

Presiden BJ Habibie didampingi istrinya Ainun Habibie melambaikan tangan kepada wartawan saat tiba di Gedung Parlemen, Jakarta, 21 Sptember 1999. Habibie bakal dikebumikan di Taman Makan Pahlawan Kalibata Jakarta Selatan pada Kamis, 12 September 2019. (AFP Photo/Oka Budhi)

Ainun menampilkan kesan sederhana namun elegan dalam berkebaya. Istri presiden ke-3 RI, Bacharuddin Jusuf Habibie ini kerap terlihat mengenakan kebaya dengan desain yang simpel dan modern.

Sinta Nuriyah (Sinta Wahid)

Istri Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Sinta Nuriyah menyambangi kediaman Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, pada Rabu (6/9/2023). (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

Sama seperti Ainun, Sinta juga menampilkan kesan intelektual dalam gaya berkebayanya, seringkali dengan pilihan kebaya yang modern dan elegan. Sinta merupakan istri dari Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Kristiani Herrawati (Ani Yudhoyono)

Ani Yudhoyono dan Annisa Pohan saat mengenakan batik bersama. (dok. Instagram @annisayudhoyono/https://www.instagram.com/p/BwysNd9jELw/Dinny Mutiah)

Ani Yudhoyono dikenal dengan gaya berkebayanya yang aktif dan dinamis. Dia sering mengenakan kebaya dengan warna-warna cerah dan motif yang lebih berani, serta memadukannya dengan kain batik yang beragam.

Selama mendampingi Presiden ke-5 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ani Yudhoyono terlihat kerap memakai kebaya seperti tunik.

Iriana Widodo (Iriana Jokowi)

Masih dalam acara siraman, tampak ceria ibu Iriana Joko Widodo sedang dodol atau jualan dawet. Prosesi dodol dawet tampak bapak Presiden menemani istrinya disebelahnya dan disamping berdiri anak-anaknya. (Instagram/thebridebestfriend)

Iriana dikenal dengan gaya berkebayanya yang simpel dan elegan, seringkali memilih kebaya dengan warna-warna lembut dan motif yang tidak terlalu ramai. Istri presiden ke-6 RI Joko Widodo ini juga sering memadukannya dengan kain batik yang serasi.

Gaya kebaya Iriana juga cenderung mengikuti kondisi masa kini. Dengan rambut dicepol, selendang digerai, dan alas kaki sneakers.

Sejarah Hari Kebaya Nasional

Hari Kebaya Nasional dirayakan setiap 24 Juli. Perayaan ini berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023.

Ada tiga alasan kuat di balik penetapan Hari Kebaya Nasional. Pertama, kebaya telah menjadi simbol pemersatu lintas etnis di Tanah Air. Sebagai warisan budaya yang kaya makna, kebaya layak dijaga dan dilestarikan dari generasi ke generasi.

Kedua, kebaya tak hanya dikenakan dalam acara adat, tapi juga menjadi busana nasional yang tampil anggun di berbagai forum, baik dalam negeri maupun internasional.

Ketiga, kebaya punya jejak sejarah penting. Saat Kongres Wanita Indonesia X yang dihadiri oleh Presiden Soekarno, seluruh perempuan yang hadir memakai kain kebaya.

Lewat Hari Kebaya Nasional, pemerintah ingin menghidupkan kembali kecintaan masyarakat pada busana tradisional. Agar kebaya tak hanya dikenang, tapi terus dikenakan dengan bangga.

“Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kebaya, maka pemerintah menetapkan tanggal 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional,” bunyi pertimbangan berikutnya yang tercantum dalam Keppres 19/2023.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya