Sekjen PBB Antonio Guterres Soroti Krisis Iklim dan Dorong Transisi Menuju Energi Terbarukan

Sejumlah fakta berbasis data disampaikan oleh Antonio Guterres dalam pidatonya di Markas Besar PBB.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 23 Juli 2025, 14:08 WIB
Mantan Perdana Menteri Portugal, Antonio Gutteres yang disebut-sebut sebagai calon tunggal pengganti Sekjen PBB Ban Ki-Moon. (Portugal-India.com)

Liputan6.com, New York City - Di tengah gelombang krisis global -- mulai dari konflik bersenjata, gejolak iklim, hingga penderitaan manusia -- Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan pesan yang tegas namun penuh harapan dari markas besar PBB di New York, pada Selasa (22/7/2025). Ia menyoroti babak baru dalam sejarah umat manusia: transisi tak terelakkan menuju energi terbarukan.

"Bahan bakar fosil sudah habis masanya. Matahari tengah menyingsing menyambut era energi bersih," tegas Guterres.

Dalam pidatonya, ia menggambarkan revolusi energi bersih sebagai peluang luar biasa -- bukan hanya untuk menyelamatkan planet, tapi juga untuk membangun dunia yang lebih adil, sehat, dan sejahtera, demikian disampaikan dalam rilis yang diterima Liputan6.com dari Kantor PBB di Jakarta, Rabu (23/7).

Angin perubahan tampak nyata. Tahun lalu, investasi global di sektor energi bersih mencapai USD 2 triliun -- menyalip investasi bahan bakar fosil dan naik hampir 70 persen dalam satu dekade terakhir. Bahkan kini, tenaga surya dan angin telah menjadi sumber listrik termurah di dunia. Di banyak negara, pembangkit baru hampir seluruhnya berasal dari energi terbarukan.

Transformasi ini telah menghindarkan emisi karbon dalam skala besar, setara dengan total emisi Uni Eropa. Tapi lebih dari itu, kata Guterres, revolusi ini menyangkut "ekonomi cerdas", lapangan kerja layak, kemajuan kesehatan masyarakat, hingga pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Energi Bersih: Tak Terelakkan, Tak Terhentikan

"Tak ada pemerintah, industri, atau kepentingan khusus yang bisa menghentikan laju transisi energi ini," ujar Guterres.

Antonio Guterres mengatakan bahwa ada tiga alasan mendasar mendasari keyakinannya.

Pertama, karena logika pasar. Energi bersih mendorong pertumbuhan ekonomi. Tahun 2023, sektor ini berkontribusi hingga 10 persen pertumbuhan PDB global -- bahkan mencapai 20 persen di Tiongkok dan hampir 33 persen di Uni Eropa. Kini, lapangan kerja di sektor energi bersih telah melampaui sektor fosil, dengan lebih dari 35 juta pekerja.

Kedua, energi bersih menghadirkan kedaulatan energi sejati. Tidak seperti minyak dan gas yang rentan terhadap fluktuasi harga dan konflik geopolitik, energi dari matahari dan angin tidak bisa diembargo atau dimonopoli.

Ketiga, aksesnya yang mudah dan fleksibel. Panel surya dan turbin angin dapat menjangkau desa-desa terpencil yang selama ini terisolasi dari jaringan listrik, terutama di Afrika yang kaya potensi namun minim investasi.

 

Percepatan dan Pemerataan Jadi Kunci

Sekjen PBB Antonio Guterres berbicara di hadapan DK PBB (AP)

Namun, Guterres mengingatkan bahwa laju transisi masih belum cukup cepat dan belum cukup adil. Negara-negara maju seperti anggota OECD dan Tiongkok mendominasi kapasitas energi bersih global, sementara Afrika hanya menyumbang 1,5%.

Ia menyoroti perlunya aksi dalam enam bidang utama:

  • Perencanaan iklim nasional (NDC) yang ambisius dan konsisten, bebas dari pesan ganda seperti mendukung energi bersih sekaligus mensubsidi bahan bakar fosil.
  • Investasi besar dalam infrastruktur energi abad ke-21, seperti jaringan listrik pintar dan penyimpanan energi skala besar.
  • Pemenuhan permintaan energi yang terus meningkat secara berkelanjutan, termasuk komitmen perusahaan teknologi besar untuk menggunakan 100 persen energi terbarukan di pusat data mereka pada 2030.
  • Transisi yang adil, dengan pelatihan dan dukungan sosial bagi pekerja dan komunitas yang terdampak.
  • Perdagangan dan investasi global yang inklusif, termasuk reformasi perjanjian investasi dan penghapusan hambatan perdagangan produk energi bersih.
  • Pembiayaan yang adil untuk negara berkembang, termasuk reformasi sistem keuangan internasional dan peningkatan akses terhadap modal murah.

Guterres menutup pidatonya dengan seruan moral dan politis yang kuat: "Zaman bahan bakar fosil sedang goyah dan gagal. Kita sedang memasuki era energi baru… Sebuah era dengan energi yang murah, bersih, dan melimpah menggerakkan dunia yang penuh dengan peluang ekonomi."

Ia menegaskan bahwa masa depan bersih tidak akan terwujud secara otomatis. Ia butuh keputusan berani, kolaborasi nyata, dan kemauan politik dari seluruh pemimpin dunia.

"Dunia itu ada dalam jangkauan kita. Namun ia tidak akan terjadi dengan sendirinya. Tanggung jawab ada pada kita," pungkasnya.

INFOGRAFIS JOURNAL_ Eksploitasi Alam dan Polusi Udara Berdampak pada Krisis Iklim? (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya