Liputan6.com, Purwakarta - Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, selama ini terkenal akan kebersihan dan keasriannya. Bahkan, di kepemimpinan Kang Dedi Mulyadi sebagai bupati kala itu, daerah ini diibaratkan 'Raja Tanpa Mahkota' di bidang kebersihan.
Di kepemimpinan Saepul Bahri Binzein sebagai bupati, kejayaan Kabupaten Purwakarta sebagai salah satu daerah yang bersih dan asri di Jawa Barat bersih akan dikembalikan. Sejak dilantik, pihaknya telah berkomitmen untuk fokus membenahi lingkungan.
Advertisement
Beberapa waktu lalu, Om Zein (sapaan Bupati Purwakarta) menuturkan, di awal kepemimpinan sebagai kepala daerah di kabupaten ini telah berkomitmen untuk mengembalikan kejayaan wilayahnya sebagai daerah bersih nan asri. Yakni, dengan menggulirkan program 'Ngosrek' yang wajib dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
"Purwakarta dulu termasyur akan kebersihannya. Nah ini salah satu fokus kita sekarang. Mari bersama-sama menata lingkungan supaya menjadi bersih seperti sedia kala," ujar Om Zein.
Program 'Ngosrek' atau singkatan dari Ngored, Bersih-bersih dan Berseka yang digagasnya itu, tak lain adalah ajakan untuk seluruh masyarakat agar bisa bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan.
Om Zein memaparkan, program 'Ngosrek' bareng, digalakan setiap hari Selasa dan Jumat. Pihaknya bersyukur, karena sejauh ini masyarakat di kabupaten tersebut sangat 'guyub'. Bukan hanya mereka yang tinggal di pusat kota, tapi juga menyeluruh hingga ke peloksok desa.
Ngosrek Bareng Pecahkan Rekor MURI
Di momentum Hari Jadi Purwakarta ke-194 dan Kabupaten Purwakarta ke-57, seluruh lapisan masyarakat di kabupaten ini membuktikan kebersamaanya dengan melakukan 'Ngosrek' bareng di seluruh penjuru wilayah.
Ngosrek bareng ini, melibatkan lebih dari 400.000 perserta dari berbagai kalangan, dari mulai seluruh pegawai pemerintah hingga tingkat desa/kelurahan, BUMN/BUMD, pelajar sampai masyarakat umum. Mereka, tersebar di seluruh penjuru wilayah.
Alhasil, kerja keras tersebut membuahkan hasil hingga mengukir prestasi di Museum Rekor Indonesia (MURI). Torehan prestasi tersebut, didapat melalui kegiatan kerja bakti bersih jalan oleh peserta terbanyak di Indonesia.
Om Zein menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari upaya membangun karakter masyarakat yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.
"Hingga pukul 08.30 tadi, tercatat sudah ada 401.000 peserta yang dimana awalnya itu ditargetkan hanya 250.000 peserta, dan ini kemungkinan bisa terus bertambah." tegas dia.
Namun, Om Zein menegaskan, torehan prestasi ini tidak untuk menjadikan langkahnya terhenti. Justru, prestasi ini akan terus menjadi spirit jajarannya dalam menjaga kebersihan lingkungan secara konsisten.
Om Zein juga menekankan pentingnya budaya gotong royong sebagai warisan luhur yang harus terus dipelihara di tengah modernisasi.
Oleh karena itu, pihaknya mengajak seluruh lapisan masyarakat masyarakat untuk bersama-sama menyamakan persepsi dan menguatkan komitmen dalam menjaga kebersihan lingkungan,
Karena, menurut dia, upaya menjaga lingkungan akan berjalan dengan maksimal jika saja masyarakat juga turut andil. Artinya, perlu peran penting masyarakat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
Cara mudahnya, dengan tidak membuang sampah sembarangan. Dengan kata lain, Om Zein meminta, seluruh lapisan masyarakat dibiasakan untuk membuang sampah pada tempatnya.
Karena, menurutnya, sampah yang dibuang di tempat yang tidak seharusnya hanya menambah beban bagi kebersihan dan keindahan kota. Di sisi lain, ada dampak besar yang ditimbulkan akibat perilaku membuang sampah sembarangan.
"Membuang sampah itu kelihatan sepele, tetapi dampaknya sangat besar," ujarnya.
Dampak buruk dari sampah yang dibuang sembarangan, menurut Om Zein, antara lain menyebabkan saluran air tersumbat, yang dapat menyebabkan banjir.
Selain itu, sampah juga berpotensi menimbulkan berbagai penyakit, merusak pemandangan, dan mengganggu kenyamanan warga.
"Bayangkan jika banyak orang yang sakit dan rumah sakit penuh, sementara yang datang tidak mampu membayar. Ini akan sangat mempengaruhi kehidupan kita semua," katanya.
Selain itu, sampah yang menumpuk juga berpotensi menyumbat drainase, yang akhirnya menyebabkan banjir.
"Ketika drainase tersumbat, tanah akan menumpuk di sana, dan yang terjadi adalah banjir. Kita harus terus memperbaiki dan mengeluarkan biaya yang besar untuk itu. Jangan sampai hal ini terus berulang," tambah dia.
Sementara itu, pihak Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) yang hadir langsung di lokasi kegiatan menyampaikan apresiasinya. Tryono, Senior Manager MURI, mengumumkan bahwa kegiatan ini resmi tercatat dalam MURI dengan nomor: 12285/R.MURI/VII/2025.
"Kegiatan ini kami catat sebagai rekor kerja bakti membersihkan jalan oleh peserta terbanyak, dilaksanakan serentak di seluruh desa di Kabupaten Purwakarta. Kolaborasi yang luar biasa antara masyarakat, pelajar, dan berbagai instansi ini patut diapresiasi dan dijadikan contoh," kata Tryono.
Ia juga menambahkan bahwa gerakan ini merupakan bentuk nyata pelestarian budaya gotong royong, yang mulai memudar di beberapa wilayah perkotaan.