Penerimaan Bea Masuk AS Tembus Rekor Berkat Tarif Trump

Penerimaan bea masuk Amerika Serikat (AS) mencetak rekor baru, tembus USD 100 miliar dalam satu tahun fiskal. Kebijakan tarif tinggi Presiden Donald Trump menjadi penyumbang besar terhadap lonjakan pendapatan ini.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 18 Juli 2025, 14:20 WIB
Presiden AS Donald Trump saat keluar dari Air Force One, yang mendarat di bandara Schiphol, Amsterdam, untuk menghadiri pertemuan puncak NATO di Den Haag, pada 24 Juni 2025. (Brendan Smialowski/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mencatat penerimaan dari bea masuk (impor) mencapai USD 100 miliar atau kurang lebih Rp 1.630 triliun (estimasi kurs Tp 16300 per USD) untuk pertama kalinya dalam satu tahun fiskal, berkat kenaikan tarif impor yang diberlakukan Presiden Donald Trump.

Menurut laporan Departemen Keuangan AS, kenaikan ini membantu menciptakan surplus anggaran mengejutkan sebesar USD 27 miliar pada bulan Juni.

Mengutip Yahoo Finance, Jumat (18/7/2025), khusus pada Juni saja, pendapatan dari tarif melonjak empat kali lipat menjadi USD 27,2 miliar secara bruto, atau sekitar USD 26,6 miliar secara neto setelah pengembalian dana. Ini menjadi rekor baru dan menunjukkan bahwa tarif telah menjadi sumber pemasukan signifikan bagi pemerintah.

"AS sedang menikmati keuntungan dari kebijakan tarif Presiden Trump," kata Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, lewat media sosial X.

Ia menambahkan bahwa kenaikan ini terjadi tanpa menimbulkan inflasi tambahan.

Selama sembilan bulan pertama tahun fiskal 2025, pendapatan dari tarif mencapai USD 108 miliar (neto) — hampir dua kali lipat dari tahun lalu. Pemerintah AS kini menjadikan tarif sebagai sumber pendapatan terbesar keempat, di bawah pajak penghasilan pribadi dan perusahaan.

Sumbangan tarif terhadap total pendapatan pemerintah meningkat tajam, dari 2% menjadi 5% dalam waktu empat bulan.

Surplus Sekaligus Defisit

Dalam surat yang ditandatangani langsung Donald Trump tersebut menyatakan bahwa AS mungkin akan mempertimbangkan untuk menyesuaikan besaran tarif impor baru, namun itu semua sangat tergantung pada hubungan kami (AS) dengan negara yang bersangkutan. (Bay ISMOYO/AFP)

Surplus anggaran Juni terjadi karena penerimaan negara meningkat 13% menjadi USD 526 miliar — rekor tertinggi untuk bulan tersebut — sementara pengeluaran menurun 7% menjadi USD 499 miliar.

Namun, setelah disesuaikan dengan kalender pembayaran, Juni sebenarnya mencatat defisit anggaran sebesar USD 70 miliar, sedikit lebih baik dari defisit USD 143 miliar pada Juni tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, defisit anggaran selama sembilan bulan pertama tahun fiskal 2025 mencapai USD 1,337 triliun, naik 5% dibanding tahun lalu. Penyebabnya antara lain meningkatnya belanja untuk sektor kesehatan, jaminan sosial, pertahanan, dan bunga utang.

Sementara itu, penerimaan negara secara total naik 7% menjadi USD 4,008 triliun, didorong oleh kenaikan lapangan kerja dan pendapatan. Tapi belanja negara juga naik 6% menjadi USD 5,346 triliun.

Beban Utang Masih Tinggi

Surat tersebut menginformasikan bahwa tarif impor terhadap berbagai produk akan dinaikkan ke level antara 25% hingga 40%. (Bay ISMOYO/AFP)

Biaya bunga atas utang nasional selama sembilan bulan pertama telah mencapai $921 miliar, menjadikannya pos pengeluaran terbesar pemerintah. Meski demikian, suku bunga rata-rata utang tetap stabil di 3,3%.

Scott Bessent mengatakan, jika tren saat ini berlanjut, pendapatan dari tarif bisa mencapai USD 300 miliar pada akhir 2025. Namun, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa lonjakan ini bisa bersifat sementara, karena pelaku usaha dan konsumen bisa menghindari tarif dengan mengubah pola belanja.

"Ada risiko bahwa pemerintah akan bergantung terlalu besar pada pendapatan tarif," ujar Ernie Tedeschi dari Universitas Yale.

Meski begitu, Presiden Trump tampaknya tak mengendurkan kebijakan tarif. Ia baru saja mengumumkan tarif baru sebesar 50% untuk barang dari Brasil, 35% untuk Kanada, dan rencana tambahan tarif tinggi untuk produk semikonduktor dan farmasi mulai 1 Agustus.

Infografis Barang Indonesia Masuk AS Kena Tarif Trump 32%. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya