Liputan6.com, Kyiv - Rusia kembali melancarkan serangan udara ke Ukraina pada Selasa malam hingga Rabu pagi waktu setempat. Sedikitnya 15 orang dilaporkan terluka dalam gempuran yang menargetkan infrastruktur energi di empat kota besar, termasuk Kharkiv dan Odesa.
Serangan terbaru ini menandai eskalasi kampanye udara Rusia terhadap wilayah sipil, yang terjadi di tengah tekanan baru dari Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump menetapkan tenggat waktu hingga 2 September bagi Rusia untuk menyepakati solusi damai atas perang yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun. Jika tidak tercapai, Washington mengancam akan menjatuhkan sanksi berat tambahan terhadap Kremlin.
Advertisement
Meski belum ada tanggal resmi untuk perundingan damai putaran ketiga antara Rusia dan Ukraina, tekanan diplomatik terus meningkat. Dua pertemuan sebelumnya tidak menghasilkan kemajuan berarti selain pertukaran tahanan, dikutip dari laman Japan Today, Kamis (17/7/2025).
Serangan Masif Rusia
Menurut angkatan udara Ukraina, Rusia meluncurkan sekitar 400 drone Shahed dan pesawat nirawak pengalih serta satu rudal balistik dalam serangan malam tersebut. Kota-kota yang diserang mencakup Kharkiv (timur laut), kampung halaman Presiden Volodymyr Zelenskyy di Kryvyi Rih (Ukraina tengah), Vinnytsia (barat), dan Odesa (selatan).
"Rusia tidak mengubah strateginya," ujar Zelenskyy dalam pernyataan resminya. "Untuk melawan teror ini secara efektif, kita membutuhkan sistem pertahanan yang lebih kuat: lebih banyak pertahanan udara, lebih banyak pencegat, dan tekad yang lebih besar agar Rusia merasakan dampak dari respons kita."
Respons AS dan Kekhawatiran Uni Eropa
Presiden Trump telah berjanji untuk mengirimkan lebih banyak persenjataan ke Ukraina, termasuk sistem pertahanan udara Patriot yang krusial. Pernyataan ini menjadi sinyal sikap paling keras Trump terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin sejak ia kembali ke Gedung Putih hampir enam bulan lalu.
Namun, tenggat waktu yang diberikan AS menuai kekhawatiran dari sebagian anggota parlemen AS dan pejabat Eropa. Mereka khawatir Putin akan memanfaatkan waktu 50 hari ini untuk merebut lebih banyak wilayah sebelum perjanjian damai dirumuskan.
Sebelumnya, berbagai ultimatum dari Washington gagal mendorong Rusia menghentikan agresi militernya. Menurut PBB, lebih dari 12.000 warga sipil Ukraina telah tewas, dan puluhan ribu tentara dari kedua belah pihak gugur di medan perang yang membentang lebih dari 1.000 kilometer.
Institute for the Study of War yang berbasis di Washington memperkirakan bahwa Putin masih percaya strategi kemenangan dapat dicapai melalui perang jangka panjang dan menunggu kelelahan dukungan Barat terhadap Ukraina.
Bantuan dan Beban Finansial
Trump menegaskan bahwa AS akan terus menyediakan senjata tambahan, namun negara-negara Eropa tetap akan menanggung sebagian besar biaya. Pernyataan ini disambut dengan kelegaan, meskipun sejumlah pihak di Eropa berharap Washington berbagi beban lebih besar.
"Kami menyambut baik pengumuman Presiden Trump untuk mengirim lebih banyak senjata ke Ukraina, meskipun kami ingin melihat AS ikut menanggung bebannya," ujar Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas.
Sementara itu, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengusulkan anggaran bantuan sebesar 100 miliar euro (sekitar Rp2.064 triliun) untuk Ukraina. Dana ini akan digunakan untuk menopang ekonomi Ukraina yang terpukul akibat perang, bukan untuk kebutuhan militer. Proposal tersebut masih menunggu persetujuan dari seluruh 27 negara anggota Uni Eropa dan Parlemen Eropa.