Piala Presiden 2025: Tradisi Pramusim yang Kini Menggema hingga 16 Ribu Kilometer

Dalam kalender sepak bola nasional, Piala Presiden bukan lagi sekadar turnamen pramusim

oleh Asad ArifinDiperbarui 15 Juli 2025, 16:45 WIB
Penonton menyaksikan pertandingan Oxford United melawan Liga Indonesia All-Stars pada Piala Presiden 2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (7/7/2025). (Bola.com/Muhammad Adiyaksa)

Liputan6.com, Jakarta Dalam kalender sepak bola nasional, Piala Presiden bukan lagi sekadar turnamen pramusim. Sejak pertama kali digelar pada 2015, kompetisi ini telah menjelma menjadi panggung tradisi, semangat sportivitas, dan simbol kemandirian industri sepak bola Indonesia.

Kini, di edisi ke-8 tahun 2025, Piala Presiden mencatat sejarah baru, gema kompetisinya melintasi 16.000 kilometer hingga ke Inggris.

Bukan sekadar metafora. Tahun ini, Oxford United, klub League One asal Inggris, datang jauh-jauh ke Stadion Si Jalak Harupat, Jawa Barat, untuk ambil bagian dalam turnamen yang dulunya hanya diikuti klub-klub domestik.

Selain Oxford United, Piala Presiden 2025 juga diramaikan oleh Port FC dari Thailand. Untuk pertama kalinya, kompetisi ini menjelma menjadi ajang internasional, tanpa meninggalkan nilai-nilai yang telah menjadi fondasinya selama satu dekade.

Port FC sendiri kemudian keluar sebagai juara Piala Presiden 2025. Asnawi Mangkualam dan meraih kemenangan dengan skor 2-1 atas Oxford United pada laga final. Namun, cerita tentang Piala Presiden 2025 bukan hanya tentang siapa tim yang menang, akan tetapi juga sisi menarik yang melibatkan unsur budaya dan manusia.


Jejak Tradisi yang Terawat

Asnawi Mangkualam Bahar saat mengangkat trofi usai timnya Port FC berhasil keluar menjadi juara Piala Presiden 2025 yang berlangsung di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, pada Minggu (13/7/2025) malam WIB. (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Turnamen pramusim bukan hal baru dalam dunia sepak bola. Di Spanyol, ada Trofi Joan Gamper yang rutin digelar Barcelona sejak 1966. Di Italia, publik mengenal Trofeo Luigi Berlusconi sebagai warisan AC Milan. Sementara Arsenal punya Emirates Cup yang sudah eksis sejak 2007.

Indonesia tidak ketinggalan. Piala Presiden lahir dari kekosongan kompetisi pada 2015 dan kini tumbuh menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi sepak bola nasional. Lebih dari sekadar pemanasan sebelum liga, Piala Presiden menjadi arena pembuktian, panggung regenerasi, dan yang tak kalah penting, pesta rakyat.

Namun yang membuat Piala Presiden benar-benar istimewa adalah prinsip penyelenggaraannya. Ketua Steering Committee, Maruarar Sirait, menegaskan bahwa turnamen ini digelar tanpa menggunakan dana negara.

"Selama Piala Presiden kita tidak pernah menggunakan uang negara, tidak ada APBN, dan tidak ada BUMN. Kita mau industri olahraga ini maju bukan dengan pembiayaan dari pemerintah," kata Maruarar.

Lanjut Baca:

Selain itu, tiga nilai lainnya terus dijaga: pelibatan UMKM, komitmen pada fair play, dan transparansi keuangan—yang dibuktikan dengan audit rutin oleh PricewaterhouseCoopers (PwC).

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya