Liputan6.com, Jakarta - Strategi pengurangan bahaya tembakau dinilai dapat menyelamatkan ratusan ribu jiwa di negara berkembang seperti Nigeria dan Kenya. Namun pertanyaannya, kapan Indonesia menyusul?
Laporan bertajuk "Saving 600,000 Lives in Nigeria and Kenya: The Impact of Complementing Tobacco Control with Harm Reduction by 2060", yang dirilis oleh Lives Saved dan dipimpin oleh mantan pejabat WHO Dr. Derek Yach, menunjukkan bahwa pendekatan Tobacco Harm Reduction (THR) mampu melengkapi upaya pengendalian tembakau konvensional.
Advertisement
Dengan mengintegrasikan produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik, produk tembakau yang dipanaskan, hingga kantong nikotin, lebih dari 600 ribu kematian dini dapat dicegah di Nigeria dan Kenya hingga 2060.
Menanggapi laporan tersebut, pemerhati kesehatan masyarakat dr. Tri Budhi Baskara menegaskan bahwa strategi pengurangan bahaya tembakau bisa menjadi solusi realistis di Indonesia, mengingat tingginya prevalensi perokok di Tanah Air.
“Dalam kasus di mana penghentian total tidak dapat segera dicapai, produk alternatif dapat menjadi jembatan untuk beralih dari merokok,” ujar dr. Tri Budhi, Senin (14/7/2025).
Ia menjelaskan, selama ini pendekatan pengendalian tembakau di Indonesia lebih banyak mengandalkan pelarangan dan edukasi, namun belum cukup efektif menurunkan angka perokok aktif. Di sisi lain, banyak perokok yang sebenarnya ingin berhenti, tetapi mengalami kekambuhan karena nikotin bersifat adiktif dan tidak adanya alternatif yang mendukung transisi.
"Pendekatan pengurangan bahaya tembakau menyediakan opsi realistis, yakni berpindah ke produk yang lebih rendah risiko sambil tetap memberi ruang untuk berhenti total jika memungkinkan,” tambahnya.
Jumlah Perokok Tertinggi
Menurut laporan Lives Saved, sekitar 38 ribu orang di Nigeria dan Kenya meninggal secara dini setiap tahun akibat konsumsi rokok. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat jika kebijakan pengendalian tembakau tidak diperkuat dengan strategi yang lebih inovatif.
"Beban penyakit akibat rokok masih akan terus meningkat di kedua negara dalam beberapa dekade mendatang. Penggunaan rokok menjadi faktor utama penyebab penyakit akibat merokok,” tulis laporan tersebut.
Sementara itu, Indonesia saat ini masuk dalam jajaran negara dengan jumlah perokok tertinggi di dunia. Dr Tri Budhi menilai, sudah saatnya pemerintah melirik pendekatan berbasis pengurangan risiko sebagai pelengkap kebijakan konvensional.
“Kita tidak bisa terus mengandalkan strategi yang itu-itu saja. Kita butuh terobosan agar bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa,” tegasnya.