Liputan6.com, Jakarta Piala AFF U-23 2025 menjadi ajang penting bagi Indonesia, tak hanya soal gelar juara, tapi juga pembuktian generasi muda yang tengah tumbuh. Di antara nama-nama yang siap mencuri perhatian, Cahya Supriadi hadir sebagai sosok penting di bawah mistar. Kiper muda ini bukan hanya penjaga garis pertahanan terakhir, tapi juga penjaga harapan Garuda Muda.
Nama Cahya memang sudah tidak asing bagi penggemar sepak bola usia muda. Sejak tampil bersama Timnas U-20 di turnamen-turnamen internasional, kehadirannya selalu memberi rasa aman. Kini, di usia 22 tahun, Cahya kembali mendapat kepercayaan untuk menjaga gawang Indonesia di turnamen Asia Tenggara paling bergengsi bagi kelompok usia U-23.
Advertisement
Perjalanan Cahya menuju titik ini bukanlah cerita instan. Ia merintis karier dari nol, dari lapangan-lapangan kecil di Karawang hingga masuk dalam skuad Timnas. Semangat dan tekadnya menjadikan Cahya sebagai contoh nyata bahwa kerja keras dan keteguhan hati bisa membawa mimpi jadi kenyataan.
Awal Mula dari Tangis di Kampung Halaman
Karier Cahya bermula dari momen sederhana namun emosional, yaitu rasa sedih karena tak diajak bermain bola di kampungnya. Ia yang kala itu masih bocah, sering menangis saat teman-temannya bermain sepak bola tanpa mengajaknya. Momen itu justru menjadi awal dari segalanya.
“Melihat saya seperti itu, kakak saya langsung mendaftarkan saya ke SSB,” kata Cahya mengenang masa kecilnya, dikutip dari Kita Garuda. Keputusan sang kakak menjadi langkah awal yang kemudian mengantar Cahya menuju panggung nasional.
Tak hanya membuka jalan, sang kakak juga menjadi sumber inspirasi terbesar Cahya. Meski kini telah tiada, semangatnya masih menyala dalam diri sang kiper. “Beliau sudah meninggal, tapi inspirasinya masih membekas. Saya sering melihat dia jatuh bangun di lapangan. Dari situ, saya mulai sadar bahwa sepak bola bukan cuma permainan, tapi juga bisa jadi tanggung jawab dan masa depan,” ucapnya penuh makna.
Lompatan Besar dari Cikampek ke Jakarta
Dari SSB Tunas Pupuk Kujang di Cikampek, Cahya melangkah lebih jauh ke Jakarta. Ia diterima di Ragunan Soccer School saat berusia 13 tahun. Di sana, ia menimba ilmu sekaligus mulai merasakan atmosfer kompetisi yang lebih serius melalui Liga TopSkor dan Liga Kompas.