Khamenei Sebut Israel Lakukan Genosida Lewat Mekanisme Bantuan di Gaza

Khamenei menggambarkan situasi tragis yang dihadapi warga Palestina.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 13 Juli 2025, 14:02 WIB
Pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei (Dok. AFP)

Liputan6.com, Teheran - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei melontarkan kritik tajam terhadap mekanisme distribusi bantuan kemanusiaan yang dilakukan Israel di Jalur Gaza.

Dalam sebuah unggahan di platform X (sebelumnya Twitter), Khamenei menyebut cara Israel menyalurkan bantuan tersebut sebagai “bentuk genosida murahan.”

Khamenei menggambarkan situasi tragis yang dihadapi warga Palestina, yang menurutnya dipaksa memilih antara “mati kelaparan di bawah reruntuhan” atau “ditembak ketika berusaha mendapatkan paket makanan.” Ia menilai skenario ini sebagai taktik terencana, dikutip dari laman Livemint, Minggu (13/7/2025).

“Ini adalah bentuk genosida murahan, yang dirancang dengan presisi oleh Barat,” tegas Khamenei. “Sebuah bangsa yang pernah tewas dihujani bom senilai ratusan ribu dolar, kini jatuh satu per satu dalam antrean bantuan hanya oleh peluru yang harganya beberapa dolar saja.”

Sementara itu, seorang sumber Palestina menuding delegasi Israel sengaja memperlambat proses perundingan, dengan mengatakan mereka datang tanpa wewenang memadai untuk memperpanjang kesepakatan apa pun — yang oleh sumber tersebut disebut sebagai “perang pemusnahan.”

Konflik di Gaza sendiri meletus pada 7 Oktober 2023, setelah serangan Hamas ke wilayah Israel yang menewaskan sedikitnya 1.219 orang, mayoritas warga sipil, menurut data yang dihimpun AFP dari otoritas Israel. Dari total 251 orang yang disandera saat itu, 49 masih ditawan hingga kini, dengan militer Israel melaporkan bahwa 27 di antaranya telah meninggal.

 

Upaya Gencatan Senjata

PM Israel Benjamin Netanyahu saat memberikan pidato di hadapan Kongres Amerika Serikat (AS) pada Rabu (24/7/2024). (Dok. AP Photo/Julia Nikhinson)

Dalam menghadapi desakan internasional dan tekanan dalam negeri untuk menghentikan perang, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pekan ini menegaskan bahwa pembicaraan gencatan senjata yang “bermakna” baru bisa dilakukan setelah Hamas tidak lagi menjadi ancaman keamanan. Netanyahu menekankan perlunya pelucutan senjata Hamas, seraya memperingatkan bahwa jika kelompok tersebut tidak menyerah secara sukarela, Israel akan mengambil langkah militer untuk melucuti mereka, demikian dilaporkan AFP.

Sejak awal konflik, Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas melaporkan setidaknya 57.882 warga Palestina tewas, sebagian besar juga warga sipil.

Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia mengungkapkan pada Jumat lalu bahwa dalam enam pekan terakhir saja, sedikitnya 798 orang kehilangan nyawa di titik-titik distribusi bantuan di Gaza. Angka tersebut mencakup korban di lokasi distribusi yang dikelola Gaza Humanitarian Foundation (GHF) — lembaga yang didukung AS dan Israel — serta di sekitar konvoi yang dijalankan organisasi kemanusiaan lainnya, menurut laporan Reuters.

GHF sendiri banyak mengandalkan perusahaan keamanan dan logistik swasta asal AS untuk menyalurkan bantuan ke Gaza, melewati mekanisme PBB yang dinilai Israel rentan dimanfaatkan militan Hamas untuk menyita pasokan yang seharusnya bagi warga sipil. Tuduhan ini telah dibantah oleh Hamas, seperti dilaporkan Reuters.

Tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung di Gaza menegaskan betapa rumitnya upaya penyaluran bantuan di wilayah konflik, serta betapa rentannya warga sipil menjadi korban dalam tarik-menarik kepentingan militer dan politik.

Infografis 4 Pesan Jokowi di KTT OKI Desak Gencatan Senjata Hamas-Israel. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya