Crystal Palace Resmi Didepak dari Liga Europa, Mengapa Nottingham Forest Dipilih Sebagai Pengganti?

Harapan Crystal Palace untuk mencicipi kompetisi Eropa setelah meraih kemenangan bersejarah di final Piala FA akhirnya pupus. Klub asal London Selatan itu resmi dicoret dari daftar peserta Liga Europa musim 2025/2026 dan akan digantikan oleh Nottingham Forest.

oleh Ari Rachman PrayogaDiperbarui 12 Juli 2025, 08:07 WIB
Para pemain Nottingham Forest melakukan selebrasi setelah Elliot Anderson mencetak gol ke gawang Tottenham Hotspur dalam laga lanjutan Liga Inggris 2024/2025 di Tottenham Hotspur Stadium, London, Inggris, Selasa (22/04/2025). (AP Photo/Dave Shopland)

Liputan6.com, Jakarta Harapan Crystal Palace untuk mencicipi kompetisi Eropa setelah meraih kemenangan bersejarah di final Piala FA akhirnya pupus. Klub asal London Selatan itu resmi dicoret dari daftar peserta Liga Europa musim 2025/2026 dan akan digantikan oleh Nottingham Forest.

Keputusan UEFA ini bukan tanpa kontroversi. Palace, yang mengalahkan Manchester City 1-0 di Wembley, awalnya diyakini layak tampil di kompetisi kasta kedua Eropa itu.

Namun, regulasi ketat UEFA soal kepemilikan ganda klub membuat situasi berubah drastis. Jumat (11/7/2025) malam, UEFA merilis pengumuman terkait nasib Crystal Palace.


Akar Masalah: Kepemilikan John Textor

Para pemain Crystal Palace merayakan gelar juara setelah mengalahkan Manchester City dalam laga final Piala FA yang berlangsung di Stadion Wembley, London, Inggris, Sabtu (17/05/2025). (AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

UEFA menilai John Textor, pemilik saham mayoritas di Lyon sekaligus pemegang 43% saham Crystal Palace lewat Eagle Football Holdings, memiliki pengaruh signifikan di kedua klub.

Meski Textor bersikeras bahwa ia tak memiliki kendali penuh atas Palace, UEFA tidak menerima argumen tersebut.

Faktor lain yang memberatkan adalah kegagalan Palace memenuhi tenggat waktu 1 Maret 2025 untuk mengubah struktur kepemilikan mereka agar sesuai dengan aturan multi-klub UEFA.

Di sisi lain, Nottingham Forest, yang juga menghadapi masalah serupa karena pemilik mereka Evangelos Marinakis juga memiliki Olympiakos, berhasil menunjukkan itikad untuk patuh dengan memindahkan kepemilikannya ke blind trust sebelum tenggat.


Lobi Forest dan Upaya Terakhir Palace

Bek Crystal Palace asal Prancis #05, Maxence Lacroix (tengah), dan gelandang Crystal Palace asal Jepang #18, Daichi Kamada (tengah kanan), merayakan kemenangan bersama rekan satu timnya setelah pertandingan final Piala FA Inggris antara Crystal Palace dan Manchester City di Stadion Wembley, London, pada 17 Mei 2025. Palace menang 1-0. (Adrian Dennis/AFP)

Diketahui bahwa Forest secara aktif melobi UEFA dengan mengirimkan surat keberatan terhadap eligibility Palace. Tindakan itu dinilai sebagai langkah strategis yang akhirnya membuahkan hasil.

Sementara itu, Palace sempat mencoba memperkuat posisi mereka dengan menjual saham Textor ke pengusaha Amerika, Woody Johnson, dalam kesepakatan senilai hampir £190 juta. Namun langkah itu dinilai terlambat dan tidak cukup untuk mengubah keputusan UEFA.

Palace juga sempat berharap pada kemungkinan Lyon tidak dapat tampil karena degradasi administratif akibat masalah keuangan. Namun banding Lyon diterima oleh otoritas sepak bola Prancis, sehingga klub tersebut tetap berhak tampil di Liga Europa musim depan.


Menuju CAS dan Potensi Rivalitas Baru

Manchester City menelan kekalahan 0-1 dari Crystal Palace pada laga final Piala FA musim ini di Stadion Wembley, London, Sabtu (17/5/2025) malam WIB. Hasil minor itu pun membuat Man City gagal menjadi kampiun di turnamen tersebut. (AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

Kekecewaan besar ini membuat Palace mempertimbangkan membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) untuk mencari keadilan.

Di sisi lain, keputusan ini bisa menjadi pemicu rivalitas baru antara dua klub yang sebelumnya tak memiliki sejarah persaingan panjang di Liga Inggris.

Nottingham Forest kini menjadi pihak yang diuntungkan, mendapat tiket Liga Europa tanpa melalui jalur tradisional. Sementara itu, Palace harus puas turun kasta ke UEFA Conference League—dengan prestise dan pemasukan yang jauh lebih kecil.

Ini bukan sekadar soal regulasi. Kasus ini membuka mata dunia akan kompleksitas kepemilikan klub modern, dan bagaimana satu keputusan bisnis bisa berdampak pada nasib satu musim penuh di level Eropa.

Sumber: BBC

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya