Rahasia Bahagia ala Denmark: Bagaimana Mengubah Hidup Seorang Profesor

Bukan gaji tinggi atau liburan mahal—rahasia kebahagiaan orang Denmark ternyata sederhana: punya hobi. Inilah yang terjadi saat seorang profesor mencobanya.

oleh Linda Maulina KhairunnisaDiterbitkan 11 Juli 2025, 06:00 WIB
Ilustrasi bahagia, menikmati hidup, bebas. (Photo by Alora Griffiths on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Marina Cooley, profesor di Sekolah Bisnis Goizueta, Universitas Emory, menemukan cara baru untuk bahagia, lebih percaya diri, dan terhubung dengan orang lain—berawal dari satu pelajaran sederhana yang ia pelajari saat berkunjung ke Denmark: berhobi.

Negeri Skandinavia itu dikenal sebagai salah satu negara paling bahagia di dunia, dan ternyata, kuncinya bukan hal besar. Cooley menemukan bahwa banyak warga Denmark menyisihkan waktu untuk menikmati hobi—mulai dari menjahit hingga bersepeda—yang memberi makna lebih dalam kehidupan mereka.

Setelah kembali ke Amerika, Cooley memutuskan untuk mencoba pendekatan serupa. Selama satu tahun, ia menjalani eksperimen pribadi: mencoba 17 hobi berbeda, dari membuat kolase, DIY rumah, menjahit, panjat tebing, sampai pertukangan kayu.

“Tahun lalu, saya memutuskan untuk menguji teori itu,” katanya dikutip dari CNBC, Jumat (11/7/2025).

“Saya mencoba semuanya: dari menyulam dan bermain mahjong hingga bermain tenis dan membuat tembikar.”

Eksperimen ini tidak hanya memberinya kebahagiaan, tetapi juga membentuk ulang caranya memandang diri sendiri, waktu, dan dunia sekitar.

1. Berhenti Doomscrolling, Mulai Menggunakan Waktu Lebih Baik

Ilustrasi orang bahagia. Sumber foto: unsplash.com/rawpixel.

Salah satu perubahan terbesar adalah menghentikan kebiasaan menggulir media sosial tanpa tujuan (doomscrolling). Cooley menyadari, waktu luangnya sering habis untuk televisi atau ponsel.

Dengan mulai berkegiatan—menyentuh tepung saat memanggang, memegang kuas saat melukis, atau panjat tebing—ia menjadi lebih fokus dan merasa tenang. Hobi memberikan jeda yang sehat dari dunia digital yang melelahkan.

2. Tak Semua Hobi Harus Dimulai Sekarang

Saat mencoba pertukangan kayu, Cooley menyadari biaya dan situasi rumah tangganya belum memungkinkan. Namun, ia tidak menyerah. Ia mencatatnya sebagai hobi yang bisa dijalani di masa depan.

“Saya menyadari bahwa pertukangan kayu adalah hobi yang tidak cocok untuk saat ini,” katanya. “Saya bisa membayangkan masa depan saat anak-anak saya sudah besar dan kami membangun rak buku bersama.”

Pelajarannya: tak apa jika hobi belum bisa dimulai sekarang. Tandai saja untuk nanti.

 

3. Apa yang Menjadi Bebanmu, Bisa Jadi Terapi Bagi Orang Lain

Memulai kebahagiaan kembali bersama pasangan (Foto: Freepik.com)

Sebagai ibu dua anak, memasak sering terasa seperti tugas yang melelahkan. Tapi ketika melihat orang lain menjadikan kegiatan yang sama sebagai hiburan, Cooley memahami satu hal penting:aktivitas yang membuat stres bagi satu orang, bisa jadi hobi menyenangkan bagi orang lain.‍4. Mendefinisikan Ulang Makna "Self-Care"

Dulu, self-care bagi Cooley berarti ke salon atau facial. Tapi itu justru sering membuat stres karena waktu yang terbatas. Setelah mencoba berbagai hobi, ia menemukan bahwa perawatan diri sejati adalah waktu yang digunakan untuk menyalurkan energi secara bermakna.

Ia menyebutkan prinsip yang ia pegang:

“Satu hobi untuk otak, satu hobi untuk kreativitas, satu hobi untuk kebugaran.” Bagi Cooley, itu adalah mahjong, DIY rumahan, dan tenis.

5. Merasa Lebih Terhubung dan Tidak Sendirian

Melalui hobi, Cooley masuk ke komunitas-komunitas baru—komunitas penunggang kuda, pendaki tebing, hingga tim tenis ibu-ibu. Ia menyadari bahwa komunitas hobi bukan hanya soal minat bersama, tapi juga tempat membangun identitas dan hubungan sosial.

“Tim tenis saya terdiri dari 20 ibu yang bersama-sama mengasuh 53 anak. Kami sibuk, tapi tetap punya ruang untuk hobi.”

 

6. Basa-Basi Diganti dengan Percakapan Bermakna

Ilustrasi diri sendiri, bahagia, gembira. (Photo by Priscilla Du Preez 🇨🇦 on Unsplash)  

Berhobi juga mengubah caranya berbicara dengan orang lain. Ia tak lagi hanya berbasa-basi. Ketika orang tahu ia sedang melakukan eksperimen hobi, mereka berbagi cerita pribadi yang lebih dalam.

“Saya mendapati diri saya terlibat dalam percakapan yang lebih mendalam dan mengenal orang-orang di luar pekerjaan mereka.”

 

Ruang Diri Ada di Tengah Hal yang Kita Sukai

Di akhir eksperimen, Cooley sadar bahwa keseimbangan hidup tidak ditemukan setelah pekerjaan usai, tapi justru melalui hobi yang memberi energi baru.

“Sekarang saya masih bermain tenis, mahjong, dan belajar golf dengan anak-anak saya. Suatu malam, anak saya yang berusia 7 tahun berkata, ‘Saya punya banyak hobi.’ Saat itulah saya tahu, saya sedang menunjukkan sesuatu yang benar,” ungkapnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya