Liputan6.com, Jakarta Ada banyak ras anjing dan diantara sekian banyak itu, beberapa diantaranya rentan stres seperti disampaikan pakar genetika ekologi IPB University, Profesor Ronny Rachman Noor.
Border Collies, Australian Shepherds, German Shepherds, Labrador Retrievers, dan Cavalier King Charles Spaniels merupakan ras anjing yang rentan mengalami stres.
Advertisement
“Jenis anjing ini termasuk kelompok cerdas dan memiliki ikatan kuat dengan pemiliknya. Karena itu, mereka lebih rentan mengalami stres ketika ditinggalkan dibandingkan jenis anjing lainnya,” kata Ronny mengutip laman IPB University Rabu, 9 Juli 2025.
Ketika anjing stres, hewan berkaki empat ini pun menunjukkan perubahan perilaku. Termasuk tidak mau makan dan kerap menggonggong.
“Jika anjing peliharaan tampak tidak mau makan, menggonggong, merengek, menangis serta terkadang dia tidak mau buang air, kita harus mulai waspada karena ada kemungkinan ia mengalami stres,” ujar Ronny.
Sebagai contoh, ketika ditinggal pemiliknya untuk sementara waktu dan dititipkan pada pengasuh, anjing sering berusaha kabur karena merasa pengasuhnya bukanlah bagian dari keluarganya.
“Perubahan perilaku ini dapat diterjemahkan sebagai salah satu bentuk stres yang dialami hewan tersebut,” kata Prof Ronny.
Banyak Anjing Alami Stres
Prof Ronny mengungkap, studi di Amerika menunjukkan masalah perilaku anjing meningkat 10 kali lipat dalam periode 2010-2020.
Di Australia, penggunaan antidepresan seperti fluoxetine untuk anjing juga meningkat, menandakan semakin banyak anjing yang mengalami depresi.
Data empiris juga menunjukkan, seiring berjalannya waktu, semakin banyak anjing yang mengalami masalah perilaku seperti berubah menjadi agresif, cemas, dan perilaku menyimpang lainnya yang dideteksi di berbagai klinik hewan.
“Peningkatan jumlah anjing yang bermasalah ini mengkhawatirkan karena data tersebut baru berasal dari anjing yang dibawa ke klinik hewan. Jadi, bukan tidak mungkin masalah stres pada anjing merupakan fenomena gunung es. Karena itu, perlu mendapat perhatian serius, termasuk dampak negatif penggunaan antidepresan pada anjing,” tuturnya.
Domestikasi Anjing Dimulai 40 Ribu Tahun Lau
Diperkirakan, anjing sudah mulai didomestikasi manusia sekitar 20.000-40.000 tahun yang lalu dari serigala.
“Titik domestikasi awal anjing diperkirakan dilakukan di wilayah Siberia dan selanjutnya menyebar ke seluruh bagian dunia seiring dengan bermigrasinya manusia,” ucapnya.
Di era modern, anjing sengaja diseleksi dengan tujuan tertentu sesuai fungsi dan selera manusia. Dengan demikian, terbentuk berbagai ras anjing dengan beragam ukuran, mulai dari mini sampai berukuran sangat.
“Dampak negatifnya, seleksi yang dilakukan manusia ini makin menyempitkan keragaman genetik. Akibatnya, setiap ras anjing hasil domestikasi dan seleksi ini memiliki tingkat ketahanan terhadap stres yang berbeda-beda,” ulasnya.