Liputan6.com, Lampung - Fenomena perilaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di kota-kota besar, termasuk di Lampung, mengalami peningkatan signifikan. Namun, di balik fakta tersebut, para ahli menyebut bahwa perilaku itu bukan sekadar penyimpangan seksual, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis dan lingkungan sosial.
Psikolog Rumah Sakit Jiwa Daerah Lampung, Retno Riani menyebut bahwa penyebab munculnya perilaku LGBT sangat kompleks. Mulai dari lemahnya peran orang tua dalam pengasuhan hingga pengaruh lingkungan yang minim nilai moral, menjadi latar belakang yang tidak bisa diabaikan.
Advertisement
“Kalau ditanya, pasti banyak yang kaget. Tapi ini realita yang harus kita hadapi bersama. Banyak orang gagal membentuk kehidupan yang sehat secara psikologis karena lemahnya kontrol diri dan minimnya pendidikan moral,” ungkap Retno, Rabu (9/7/2025).
Dia bilang, pola asuh keluarga memiliki kontribusi besar dalam membentuk orientasi dan karakter anak sejak usia dini.
Peran Keluarga Jadi Kunci
Retno menegaskan bahwa perilaku LGBT termasuk dalam disorientasi seksual yang tidak sejalan dengan ajaran mayoritas agama di Indonesia. Namun, dia menolak anggapan bahwa perilaku itu muncul tanpa sebab.
“Ini seperti perilaku menyimpang lainnya, seperti berbohong atau mencuri. Jika kontrol diri lemah dan nilai moral tidak tertanam sejak dini, maka potensi penyimpangan sangat besar,” tegas dia.
Menurut dia, banyak pelaku LGBT yang mengalami trauma masa kecil dan cenderung menyangkal kondisi mereka. Beberapa bahkan menyalahkan orang tua atau pengalaman buruk di masa lalu.
“Sering kali mereka menolak fakta dan malah menyalahkan orang lain atas apa yang mereka alami. Ini bentuk denial, salah satu mekanisme pertahanan diri secara psikologis,” terang dia.
Fenomena LGBT yang muncul bersamaan dengan meningkatnya kasus perselingkuhan dan krisis identitas, menurut Retno, menunjukkan bahwa nilai-nilai religius di masyarakat Indonesia belum benar-benar membumi.
“Kalau kita bilang Indonesia negara religius, tapi faktanya penyimpangan makin marak, berarti ada yang salah secara struktural. Bisa jadi dari pola pengasuhan yang tidak tepat,” kata dia.
Polisi Bongkar Jaringan Gay di Facebook
Dalam kasus terbaru, Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Lampung berhasil mengungkap jaringan kelompok gay yang beraktivitas secara daring lewat media sosial. Polisi menemukan dua grup Facebook bertajuk “Gay Lampung” dan “Gay Bandar Lampung” dengan total anggota mencapai 20 ribu akun.
Tiga orang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Mereka adalah JM yang berperan sebagai pembuat dan pengelola grup, serta SR dan HS yang aktif menyebarkan konten seksual menyimpang di dalam grup.
Retno menerangkan, tanggung jawab terbesar mencegah penyimpangan perilaku ada di tangan keluarga, khususnya orang tua. Dia menekankan pentingnya menanamkan nilai agama dan akhlak sedari kecil, bukan hanya lewat aktivitas ritual semata, tetapi juga lewat contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Anak itu bukan milik kita, tapi titipan Tuhan. Maka orang tua harus menjadi teladan yang layak ditiru. Jangan hanya menuntut anak jadi baik, sementara orang tuanya sendiri memberi contoh sebaliknya,” tutur Retno.
Dia menyarankan para orang tua untuk membangun komunikasi yang terbuka, memberi perhatian emosional yang cukup, dan tidak mengandalkan hukuman sebagai bentuk pendidikan utama.
“Bangun hubungan emosional yang sehat, ajak diskusi, dan ajarkan budi pekerti yang baik. Dengan begitu, anak merasa dihargai dan lebih kuat dalam menghadapi pengaruh buruk lingkungan,” tutup dia.