Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Percepat Adopsi AI di Indonesia

Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (KORIKA), Prof. Hammam Riza, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat adopsi AI di Indonesia.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 08 Juli 2025, 14:30 WIB
Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (KORIKA), Prof. Hammam Riza, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat adopsi AI di Indonesia.

Liputan6.com, Jakarta Ketua Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (KORIKA), Prof. Hammam Riza, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat adopsi dan pengembangan kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia. 

Dalam gelaran World AI Show 2025, ia menyampaikan Indonesia tengah berada di garis depan transformasi teknologi, khususnya sejak peluncuran Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (Stranas KA) pada 2020.

KORIKA, yang selama tiga tahun berturut-turut menjadi pendukung utama World AI Show, memandang AI sebagai fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045.

Saat ini, pemerintah bersama pemangku kepentingan sedang menyusun roadmap AI 2030, yang akan merinci strategi nasional untuk menjawab berbagai tantangan, mulai dari etika hingga infrastruktur dan talenta.

“Korika sebagai sebuah perkumpulan yang menghubungkan akademisi, bisnis, pemerintah, komunitas, media dan seluruh stakeholder. Karena AI itu adalah untuk semua dan akan menjadi bagian daripada kehidupan kita ke depan,” ujar Hammam kepada wartawan di tengah acara World AI Show 2025, Selasa (8/7/2025, di JW Marriot Hotel, Jakarta.

Kesiapan SDM

Hammam menambahkan, AI tidak hanya berbicara tentang transformasi digital, tetapi bagaimana Indonesia mempersiapkan sumber daya manusia untuk bisa menjadi inovator-inovator di bidang teknologi AI ini.

Hamman menuturkan soal Roadmap AI 2030 yang dirancang bersama Kementerian Komunikasi dan Digital ini akan diluncurkan pada Agustus mendatang.

Dokumen tersebut disusun berbasis SWOT analysis dan akan menjadi acuan kerja multi-sektor untuk mengembangkan use case AI spesifik di sektor seperti kesehatan, maritim, pertanian, penanggulangan bencana, hingga pembangunan smart city.

 

Penerapan AI di Indonesia Perlu Sesuai Etika

Ilustrasi Artificial Intelligence (AI), kecerdasan buatan. (Image by rawpixel.com on Freepik)

Selain kesiapan talenta, Hammam juga menyoroti urgensi membangun AI yang etis, inklusif, dan bertanggung jawab. Ia menegaskan bahwa penerapan AI di Indonesia tidak bisa sepenuhnya meniru regulasi dari negara lain, tetapi harus disesuaikan dengan nilai budaya dan pengetahuan lokal.

“Kita tidak bisa mencomot begitu saja aturan-aturan ataupun regulasi yang ada di luar dan langsung diterapkan di Indonesia. Tapi tentu saja harus disesuaikan dalam konteks kebudayaan kita, tradisional knowledge-nya kita, heritage-nya kita,” tuturnya

Lebih lanjut, ia menyampaikan kedaulatan data juga menjadi isu krusial dalam pengembangan AI nasional. Indonesia perlu memastikan bahwa data lokal tidak sembarangan digunakan oleh model AI global. 

Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur seperti data center dan AI center menjadi prioritas untuk menopang kebutuhan komputasi lokal.

“Kalau misalnya kita tidak mengkurasi data-data tersebut, kita akan tidak memiliki lagi kedaulatan dalam data kita,” ujarnya.

 

Talenta AI di Indonesia

Ilustrasi AI Robotika Bersalaman dengan Manusia (Foto: Freepik)

Dalam aspek talenta, KORIKA menargetkan pembangunan ekosistem kompetensi AI secara berjenjang mulai dari pendidikan dasar hingga riset tingkat lanjut. Pendidikan AI tidak hanya untuk mencetak engineer atau data scientist, melainkan juga untuk membekali generasi muda dengan keterampilan berpikir komputasional dan pemahaman etika penggunaan AI.

“Karena AI itu ada di segala bidang. Multidisiplin. Tapi mereka harus diajarkan. Tetap harus diajarkan soft skill. Computational thinking bagaimana dia bisa menggunakan AI.Kita butuh jutaan AI talentnya itu dan itu mungkin harus dilakukan dari sejak sekolah dasar.”

Dengan roadmap ini, KORIKA berharap AI tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi juga bagian dari ekosistem pembangunan nasional yang kolaboratif. Hammam menegaskan bahwa keberhasilan implementasi AI bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.

“AI itu adalah milik semua. Jadi bukan hanya pemerintah yang bertanggung jawab untuk bisa melakukan pengembangan AI ini. Tapi dari industri, dari akademia, dari komunitas,” pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya