Gawat, Bahan Baku Industri Kakao dan Susu Mayoritas Impor

Beberapa komoditas yang masih belum sepenuhnya dipenuhi dari dalam negeri seperti kakao dan susu. Produksi kakao sendiri diketahui menurun, sama halnya dengan produksi susu nasional.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 03 Juli 2025, 18:15 WIB
Petani kakao di Kabupaten Mahakam Ulu sedang menjemur biji kakao hasil panen.

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perindustrian mencatat masih banyak bahan baku industri agro yang dipenuhi dari impor. Bahkan impor bahan baku seperti kakao sempat menyentuh 200 ribu ton per tahun.

Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza menyampaikan masih banyak masalah di sektor hulu untuk pemenuhan bahan baku industri agro. Padahal potensi ekspor produk olahan makanan dan minuman cukup menjanjikan.

"Sehingga karena terbatas, sementara volume dan permintaan ekspor tinggi untuk produk makanan dan minuman talahan, ini akhirnya bahan baku juga beberapa impor," kata Faisol, ditemui di Kantor Kemenperin, Jakarta, Kamis (3/7/2025).

"Dan tentu ini PR (pekerjaan rumah) buat kami untuk bisa berkomunikasi dan bisa membantu para pelaku usaha supaya bisa mengembangkan juga ketersediaan bahan baku di hulu," ucapnya.

Faisol mencatat beberapa komoditas yang masih belum sepenuhnya dipenuhi dari dalam negeri seperti kakao dan susu. Produksi kakao sendiri diketahui menurun, sama halnya dengan produksi susu nasional.

"Ada kakao maupun susu. Ini memang tidak mudah karena tanaman kakao semakin menurun, susu juga bukan sesuatu yang mudah karena iklim, cuaca, maupun bibit dari sapi penghasil susu ini juga tidak mudah," ungkap Faisol.

 

Butuh 300 Ribu Ton Kakao per Tahun

Petani Kakao di Kabupaten Mahakam Ulu mulai memanen kebun kakao hasil dari konsistensi di sektor ini.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengungkapkan industri lokal butuh setidaknya 300.000 ton per tahun. Namun, masih banyak kebutuhan itu dipenuhi dari impor.

"Kalau dari kita, paling sedikit untuk Kakao ya, untuk paling sedikit kita itu membutuhkan 300 ribu ton, pertahun. (Impornya pernah) 200 ribu (ton). Jadi kalau dipersentasi sudah lebih daripada 50 persen. Tapi sekarang sudah menurun nih, karena kita sekarang sudah bisa dipenuhi dalam negeri sekitar berapa persennya," tutur dia.

Sama halnya dengan susu. Kebutuhan industri susu nasional sekitsr 4,4 juta ton per tahun. Sayangnya, 80 persennya masih disuplai dari impor. "Jadi kalau susu, kita empat koma sekian juta. Memang kita sekarang baru dalam negeri itu baru bisa menyuplai 20 persennya," ujarnya.

 

Apa Solusinya?

Kembali ke Faisol, dia mencatat ada sejumlah langkah yang bisa diambil. Misalnya, menggandeng kementerian dan lembaga yang bekerja di sektor hulu untuk meningkatkan produksi dalam negeri.

Di sisi lain, dia juga membuka kerja sama dengan perguruan tinggi. Caranya bisa melalui penelitian agar mendapatkan bibit yang berujung pada kenaikan produksi.

"Kami ingin kolaborasikan dengan banyak pihak, termasuk dengan kementerian/lembaga lain, ataupun dengan kampus. Karena beberapa kampus, secara khusus kan memiliki fokus dan memiliki studi mengenai industri di hulu," sebutnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya