Liputan6.com, Blitar: Warga di empat kecamatan di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, terpaksa mengkonsumsi tiwul sebagai makanan pokok pengganti beras. Pasalnya, tanaman padi mereka puso atau tak dapat dipanen menyusul kemarau panjang. Empat kecamatan itu masing-masing Kecamatan Kedemangan, Bakung, Tambakrejo, dan Kecamatan Wonokitri. Keempat kecamatan itu berlokasi di Pegunungan Kidul, yang selama ini memang diketahui tandus dan minim air bersih. Demikian pemantauan SCTV, Sabtu (23/8) ini.
Warga di empat kecamatan itu sudah tak mampu membeli beras. Seperti yang juga dialami Sutrisno. Warga Desa Desa Sumberejo, Kademangan, itu makan tiwul dengan lauk seadanya. "Saya kurang mampu. Jadi kini dari bulan tujuh sampai bulan delapan ini harus makan tiwul," kata bapak empat anak yang selama ini berprofesi sebagai buruh tani. Dia dan warga lainnya juga tidak pernah mengambil jatah beras miskin karena tak punya uang. Kini Sutrisno hanya bisa berharap pemerintah kabupaten setempat mempercepat peluang padat karya.
Persoalan serupa juga dialami warga Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Ironisnya, kini mereka harus ekstra waspada. Sebab, pencurian gaplek sebagai bahan dasar tiwul justru sedang marak di sana. Alhasil, warga harus selalu menunggui gaplek yang sedang dijemur dan dikeringkan di depan rumah atau ladang mereka. Tak jarang warga pun harus menginap di ladang [baca: Kekeringan Semakin Parah].
Perangkat Desa Begoyo, Kecamatan Ponjong, Age Haribowo mengatakan, para pencuri selalu menggunakan sepeda motor atau mobil. Tandanya, jumlah gaplek yang hilang bisa mencapai ratusan kilogram. Kasus ini sudah acap kali dilaporkan ke kepolisian sektor setempat. Namun sampai sekarang, toh pencurian gaplek masih saja terjadi.
Kemarau panjang di Pulau Jawa ini tentu mendapat perhatian khusus pemerintah. Rencananya pemerintah membuat hujan buatan untuk mengikis kekeringan di Jawa. Tapi selagi belum terlaksana, Kepala Balai Penelitian Agroclimate dan Hidrologi Gatot Irianto cepat mematahkan rencana tersebut. Menurut dia, hujan buatan hanya buang-buang duit karena bersifat sementara. Sedangkan Badan Meteorologi dan Geofisika memperkirakan kekeringan berlangsung sampai September atau Oktober mendatang.
Gatot menerangkan, hujan diperkirakan baru akan turun pertengahan Oktober mendatang. Itu pun sebatas di daerah pegunungan Jawa Barat. Sedangkan di daerah lainnya kemarau terus berlangsung. Di luar Jabar, curah hujan baru akan turun pertengahan November 2003 [baca: BMG: Kekeringan Baru Berakhir November]. Dia menjelaskan, kekeringan terjadi bukan hanya faktor curah hujan, tapi juga karena buruknya kondisi lingkungan dan penataan sumber air.
Karena faktor itulah, Menteri Pertanian Bungaran Saragih mengatakan, kekeringan tahun ini bukan bencana nasional, namun hanya persoalan lokal. Itu ditegaskannya seusai menghadiri panen kacang hijau di Demak, Jateng, kemarin. Di samping itu, kekeringan juga hanya terjadi di Pulau Jawa, dengan luas daerah kering mencapai 90 ribu hektare. Bungaran menyarankan, selama kemarau sebaiknya petani menanami lahan mereka dengan tanaman jenis kacang-kacangan.
Bungaran menegaskan, sebenarnya kekeringan kali ini pun belum menganggu stok beras nasional. Alasannya, stok nasional masih bisa ditutup dari luar Pulau Jawa, karena ada tambahan dari lahan sawah pasang surut seluas 420 ribu hektare. Bahkan, menurut Mentan, Badan Pusat Statistik Nasional memprediksi produksi beras nasional saat ini lebih tinggi dibandingkan tahun kemarin.(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)
Warga di empat kecamatan itu sudah tak mampu membeli beras. Seperti yang juga dialami Sutrisno. Warga Desa Desa Sumberejo, Kademangan, itu makan tiwul dengan lauk seadanya. "Saya kurang mampu. Jadi kini dari bulan tujuh sampai bulan delapan ini harus makan tiwul," kata bapak empat anak yang selama ini berprofesi sebagai buruh tani. Dia dan warga lainnya juga tidak pernah mengambil jatah beras miskin karena tak punya uang. Kini Sutrisno hanya bisa berharap pemerintah kabupaten setempat mempercepat peluang padat karya.
Persoalan serupa juga dialami warga Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Ironisnya, kini mereka harus ekstra waspada. Sebab, pencurian gaplek sebagai bahan dasar tiwul justru sedang marak di sana. Alhasil, warga harus selalu menunggui gaplek yang sedang dijemur dan dikeringkan di depan rumah atau ladang mereka. Tak jarang warga pun harus menginap di ladang [baca: Kekeringan Semakin Parah].
Perangkat Desa Begoyo, Kecamatan Ponjong, Age Haribowo mengatakan, para pencuri selalu menggunakan sepeda motor atau mobil. Tandanya, jumlah gaplek yang hilang bisa mencapai ratusan kilogram. Kasus ini sudah acap kali dilaporkan ke kepolisian sektor setempat. Namun sampai sekarang, toh pencurian gaplek masih saja terjadi.
Kemarau panjang di Pulau Jawa ini tentu mendapat perhatian khusus pemerintah. Rencananya pemerintah membuat hujan buatan untuk mengikis kekeringan di Jawa. Tapi selagi belum terlaksana, Kepala Balai Penelitian Agroclimate dan Hidrologi Gatot Irianto cepat mematahkan rencana tersebut. Menurut dia, hujan buatan hanya buang-buang duit karena bersifat sementara. Sedangkan Badan Meteorologi dan Geofisika memperkirakan kekeringan berlangsung sampai September atau Oktober mendatang.
Gatot menerangkan, hujan diperkirakan baru akan turun pertengahan Oktober mendatang. Itu pun sebatas di daerah pegunungan Jawa Barat. Sedangkan di daerah lainnya kemarau terus berlangsung. Di luar Jabar, curah hujan baru akan turun pertengahan November 2003 [baca: BMG: Kekeringan Baru Berakhir November]. Dia menjelaskan, kekeringan terjadi bukan hanya faktor curah hujan, tapi juga karena buruknya kondisi lingkungan dan penataan sumber air.
Karena faktor itulah, Menteri Pertanian Bungaran Saragih mengatakan, kekeringan tahun ini bukan bencana nasional, namun hanya persoalan lokal. Itu ditegaskannya seusai menghadiri panen kacang hijau di Demak, Jateng, kemarin. Di samping itu, kekeringan juga hanya terjadi di Pulau Jawa, dengan luas daerah kering mencapai 90 ribu hektare. Bungaran menyarankan, selama kemarau sebaiknya petani menanami lahan mereka dengan tanaman jenis kacang-kacangan.
Bungaran menegaskan, sebenarnya kekeringan kali ini pun belum menganggu stok beras nasional. Alasannya, stok nasional masih bisa ditutup dari luar Pulau Jawa, karena ada tambahan dari lahan sawah pasang surut seluas 420 ribu hektare. Bahkan, menurut Mentan, Badan Pusat Statistik Nasional memprediksi produksi beras nasional saat ini lebih tinggi dibandingkan tahun kemarin.(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)