Sekjen PBB Soroti Perintah Evakuasi Baru di Gaza: Krisis Kemanusiaan Memburuk

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan mengatakan sebagian besar wilayah Gaza masih berada di bawah perintah pengungsian.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 01 Juli 2025, 15:04 WIB
Data yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza yang dikuasai Hamas, pada Selasa (24/6/2025), sedikitnya ada 450 orang tewas dan hampir 3.500 lainnya terluka sejak GHF mulai mendistribusikan bantuan. (BASHAR TALEB/AFP)

Liputan6.com, New York City - Perintah evakuasi baru Israel untuk wilayah utara Jalur Gaza membuat Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres khawatir, sekaligus mengecam jatuhnya korban jiwa akibat serangan udara Israel terbaru, demikian disampaikan Kepala Juru Bicara PBB Stephane Dujarric pada Senin (30/6/2025).

"Warga sipil harus dihormati dan dilindungi," kata Dujarric, lapor Xinhua pada Selasa.

Menyerukan pembebasan segera dan tanpa syarat bagi semua sandera, Dujarric mengatakan Guterres juga menyambut upaya berkelanjutan para mediator dan menegaskan kembali seruannya untuk mencapai gencatan senjata permanen di Gaza.

Sumber medis dan keamanan Palestina mengatakan sedikitnya 21 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka pada Senin itu ketika serangan udara Israel menghantam sebuah kafe tepi pantai di Gaza City, dikutio dari Antara News, Selasa (1/7).

Rumah Sakit Al-Shifa mengatakan dalam pernyataan singkat bahwa sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak yang dibawa ke rumah sakit pascaserangan tersebut.

Pejabat keamanan Palestina dan sejumlah saksi mata mengatakan kepada Xinhua bahwa pesawat Israel menembakkan setidaknya satu rudal ke arah kafe yang berada di sebelah barat kamp pengungsi al-Shati.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) mengatakan sebagian besar wilayah Gaza masih berada di bawah perintah pengungsian.

Israel, sebagai pihak yang menduduki, harus memastikan perlindungan warga sipil di mana pun mereka berada dan ke mana pun mereka pergi.

"Orang-orang dipaksa masuk ke area padat penghuni tempat ribuan orang lain sudah tinggal," kata OCHA mengenai perintah pengungsian pada Minggu (29/6). "Area-area ini kekurangan tempat tinggal, air, sistem pengolahan limpah, dan fasilitas medis."

OCHA menyebutkan bahwa puluhan orang dilaporkan tewas dan terluka, termasuk saat menunggu makanan, di tengah operasi militer Israel yang berlangsung selama akhir pekan. Banyak laporan serangan yang menargetkan rumah-rumah, serta sekolah yang menampung pengungsi.

Israel Keluarkan Instruksi Baru

Kerumunan besar warga menanti dengan penuh harap pembagian bantuan bahan pangan berupa tepung. (BASHAR TALEB/AFP)

Menurut badan kemanusiaan itu, Israel menginstruksikan warga Gaza di wilayah Jabalya dan Gaza City untuk pergi ke Al Mawasi, menyusul perintah pengungsian sebelumnya pada akhir pekan untuk wilayah tengah Gaza. Sekitar 150.000 orang berada di wilayah pengungsian berdasarkan perintah pada Minggu saja, termasuk keluarga yang tinggal di puluhan lokasi pengungsian sementara.

Dikatakan oleh OCHA bahwa di tengah hambatan besar dalam membawa pasokan dan melaksanakan operasi kemanusiaan di seluruh Gaza, orang-orang menderita kelaparan.

Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan bahwa satu dari lima orang menghadapi kelaparan parah, dan lebih dari 90.000 wanita dan anak-anak membutuhkan perawatan darurat untuk malanutrisi. Kantor tersebut mengatakan bahwa otoritas Israel terus menolak banyak pergerakan kemanusiaan.

Menurut WFP, 130.000 metrik ton makanan telah disiapkan di wilayah tersebut dan siap didistribusikan kepada penduduk Gaza jika akses diizinkan. Israel harus memfasilitasi akses dan masuknya pasokan esensial ke Gaza melalui titik penyeberangan dan koridor yang tersedia guna memenuhi kebutuhan penduduk yang mendesak.

Badan kemanusiaan PBB dan mitra-mitra mereka mendesak otoritas Israel untuk mengizinkan bahan bakar masuk ke Gaza.

"Ini sangat diperlukan untuk operasi penyelamatan nyawa, termasuk rumah sakit, air dan peralatan sanitasi, telekomunikasi, pengangkutan barang dari perbatasan, dan pengoperasian dapur umum," kata OCHA. "Jika larangan bahan bakar terus berlanjut, lebih banyak layanan kritis ini akan segera berhenti beroperasi, dan di beberapa daerah, dalam waktu dekat."

Kantor tersebut mengatakan implikasinya mengancam nyawa.

 

Desakan dari OCHA

Warga Palestina berkumpul di titik distribusi bantuan yang didirikan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) di dekat kamp pengungsi Nuseirat, Jalur Gaza Tengah pada 25 Juni 2025. (Eyad BABA/AFP)

OCHA juga mendesak agar bahan-bahan penampungan kritis, tenda, lembaran plastik, kayu, dan barang-barang rumah tangga lainnya diizinkan masuk. Bahan-bahan ini telah ditolak masuk selama 17 pekan.

Menurut OCHA, mereka menolak lima dari 15 upaya badan dunia itu untuk mengoordinasikan langkah bantuan, termasuk upaya untuk menyingkirkan limbah padat dan puing-puing serta memulihkan truk yang rusak. Dua misi lainnya tidak dilaksanakan, baik karena hambatan atau karena penyelenggara terpaksa membatalkannya.

Delapan misi lainnya, termasuk pergerakan staf dan misi lainnya, telah diselesaikan.

Kantor tersebut menyatakan bahwa mitra mereka yang bekerja di bidang pendidikan melaporkan bahwa anak-anak usia sekolah terus kehilangan kesempatan belajar.

Perintah pengungsian yang dikeluarkan pada Minggu memengaruhi lebih dari 12 ruang belajar sementara, yang menampung 5.000 siswa dan 200 guru. Karena sebagian besar anak-anak di Gaza tidak memiliki akses ke pendidikan, di tengah perintah pengungsian dan kerusakan parah pada sekolah-sekolah, masa depan anak-anak tersebut tetap suram.

Mitra OCHA lainnya melaporkan peningkatan risiko kekerasan berbasis gender dalam dua bulan terakhir. Perempuan khususnya terdampak oleh insiden di mana mereka ditolak akses ke layanan dan sumber daya saat berusaha memenuhi kebutuhan keluarga mereka.

Kantor tersebut menyatakan bahwa pada April dan Mei, 45 mitra memberikan dukungan psikososial, tempat tinggal yang aman, serta paket perlengkapan kebersihan dan kebutuhan dasar untuk perempuan. Namun, layanan kritis lainnya, seperti bantuan hukum, tetap sangat terbatas atau tidak tersedia.

Infografis Bencana Kelaparan Mendera Warga Gaza. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya