Liputan6.com, Gaza - Setelah 27 tahun hidup dalam pengasingan, Ketua Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Yasser Arafat, akhirnya menginjakkan kaki kembali di Jalur Gaza. Kepulangannya menandai babak baru bagi perjuangan rakyat Palestina, meski dibayang-bayangi ketegangan dan ancaman kekerasan.
Kembalinya Arafat memaksa Israel melancarkan operasi keamanan terbesarnya sejak kunjungan bersejarah Presiden Mesir Anwar Sadat ke Yerusalem pada era Perjanjian Camp David 1979.
Advertisement
Langkah itu diambil lantaran muncul kekhawatiran serangan balasan dari kelompok garis keras baik di pihak Israel maupun Palestina.
Dengan mengenakan seragam militer dan keffiyeh khasnya, Arafat memberi hormat penuh kemenangan saat melintasi perbatasan Rafah dari Gurun Sinai, Mesir, dikutip dari BBC, Selasa (1/7/2025).
Sebelum menaiki helikopter bersama Presiden Mesir Hosni Mubarak dari Kairo, ia mengungkapkan emosinya. “Sekarang saya kembali ke tanah Palestina pertama yang bebas. Anda bisa bayangkan betapa hati dan perasaan saya tergerak,” ujarnya.
Setibanya di Gaza, Arafat dikawal ketat pasukan berseragam hijau. Ia langsung memasuki mobil Mercedes hitam antipeluru yang membawanya menempuh perjalanan sekitar 30 kilometer ke Kota Gaza, untuk menghadiri demonstrasi besar. Rute yang dilalui terpaksa diubah lantaran muncul ancaman pembunuhan dan grafiti intimidasi dari pemukim Israel di Kfar Dorom.
Dalam perjalanan itu, Arafat untuk pertama kalinya melihat langsung tantangan besar yang menantinya: jalanan penuh sampah, hingga daerah kantong pemukiman Israel seperti Gush Qatif yang berdiri di tengah wilayah Palestina yang ingin ia bangun menjadi negara merdeka.
Kepulangan Arafat terjadi hanya sebulan setelah tercapainya Perjanjian Kairo antara Israel dan PLO, yang membuka jalan bagi terbentuknya pemerintahan sendiri Palestina—meski masih rapuh—di Gaza dan Jericho, Tepi Barat. Gaza dan Tepi Barat sendiri adalah wilayah yang direbut Israel dalam Perang Enam Hari pada 1967.
Sesampainya di Kota Gaza, Arafat menyampaikan pidato penuh semangat dari balkon bekas markas gubernur militer Israel. Di bawahnya, sekitar 200.000 warga Palestina memadati Lapangan Parlemen, menyambut sang pemimpin dengan sorak sorai.
Dalam pidatonya, Arafat tak bisa menyembunyikan keinginannya yang besar terhadap Yerusalem, meski menurut penasihatnya, Nabil Shaath, agenda kunjungannya selama tiga hari hanya mencakup Gaza dan Jericho, tanpa Yerusalem.
Sementara itu, sejumlah demonstrasi menentang kehadiran Arafat juga terjadi di Yerusalem dan beberapa tempat lain, menegaskan jalan panjang yang masih harus dilalui dalam upaya mewujudkan damai di tanah yang telah lama berkonflik ini.