Liputan6.com, Jakarta - Para penyelidik tengah menyelidiki apakah kecelakaan Air India yang menewaskan 260 orang itu disebabkan oleh sabotase. Pesawat Boeing 787 Dreamliner tersebut menabrak sebuah perguruan tinggi kedokteran setelah kedua mesinnya tampak rusak beberapa saat setelah lepas landas.
Semua, kecuali satu dari 242 penumpang, dan seluruh awak pesawat meninggal dunia. Hanya penumpang di kursi 11A bernama Vishwash Ramesh yang selamat dari kecelakaan nahas itu, sementara 19 orang lain meninggal dunia di darat akibat hantaman pesawat.
Advertisement
Melansir news.com.au, Senin (30/6/2025), Menteri Negara Penerbangan Sipil India Murlidhar Mohol mengatakan, "Biro Investigasi Kecelakaan Pesawat Udara (AAIB) telah memulai investigasi penuh. Hal ini tengah diselidiki dari semua sudut, termasuk kemungkinan sabotase."
Meski sebelumnya telah ada spekulasi tentang potensi sabotase, ini adalah pertama kalinya para pejabat secara resmi mengakuinya sebagai kemungkinan penyebab kecelakaan. Pilot Air India 171, Kapten Sumeet Sabharwal, dengan panik menghubungi kontrol lalu lintas udara melalui radio.
Rekaman Kotak Hitam
Itu terjadi hanya beberapa saat setelah lepas landas pada 12 Juni 2025. Kapten Sabharwal berteriak, "Tidak ada daya dorong... May Day... May Day." Kedua mesin tampaknya kehilangan tenaga, kejadian yang sangat langka yang digambarkan oleh para ahli sebagai "peristiwa satu dari satu miliar."
AAIB tengah menyelidiki apakah hal itu disebabkan kontaminasi bahan bakar akibat tindakan yang disengaja. "Begitu laporan datang, kami akan dapat memastikan apakah itu masalah mesin atau masalah pasokan bahan bakar atau mengapa kedua mesin berhenti berfungsi."
"Ada CVR (perekam suara kokpit) di kotak hitam yang menyimpan percakapan antara kedua pilot. Masih terlalu dini untuk mengatakan apapun, tapi apapun itu, itu akan terungkap. Laporannya akan keluar dalam tiga bulan," sebut Mohol.
Kotak hitam pesawat telah ditemukan di lokasi kecelakaan dan sekarang sedang dianalisis di India. Kotak hitam tersebut mencakup Perekam Data Penerbangan Digital (DFDR) yang merekam data, seperti ketinggian dan kecepatan.
Kotak Hitam Tidak Akan Dibawa ke Luar Negeri
Juga, terdapat Perekam Suara Kokpit yang menyimpan semua yang dikatakan pilot, serta suara latar belakang. Mohol menepis laporan bahwa kotak hitam akan dikirim ke luar negeri untuk diteliti.
Ia berkata, "Kotak hitam itu tidak akan dibawa ke mana pun. Kotak itu berada dalam pengawasan AAIB dan tidak perlu dikirim ke luar negeri. Kami akan melakukan seluruh penyelidikan."
Mohol juga meyakinkan para penumpang bahwa perjalanan udara di India, khususnya dengan 33 Dreamliner di negara itu, aman. Ia berkata, "Ke-33 Dreamliner telah diperiksa atas perintah DGCA (Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil). Semuanya dinyatakan aman."
"Itulah sebabnya saya katakan itu kecelakaan langka. Orang-orang tidak lagi takut dan bepergian dengan nyaman," menurut dia. Pesawat itu mencapai ketinggian hanya 190 meter sebelum meluncur turun dan jatuh 33 detik setelah lepas landas.
Pesawat itu menghantam asrama sebuah perguruan tinggi kedokteran tempat ratusan mahasiswa dan staf sedang makan siang. Vishwash Ramesh dari Leicester adalah satu-satunya orang di pesawat yang selamat setelah merangkak keluar dari badan pesawat yang hancur.
Pengakuan Satu-satunya Korban Selamat
Tragisnya, saudaranya Ajay meninggal di pesawat. Ramesh, seorang ayah satu anak, kemudian mengatakan pada The Sun bahwa pelariannya adalah sebuah keajaiban, tapi mengungkap bahwa ia trauma karena Ajay meninggal dunia.
"Saya mencoba untuk mendapatkan dua kursi yang berdekatan, tapi kursi itu sudah ditempati orang lain. Saya dan Ajay seharusnya duduk bersama."
"Tiga puluh detik setelah lepas landas, terdengar suara keras, kemudian pesawat jatuh. Semua terjadi begitu cepat," katanya dalam sebuah wawancara dengan CNN di rumah sakit tempat ia dirawat.
Seorang dokter mengatakan pada publikasi itu bahwa kondisi Ramesh "tidak terlalu kritis" dan ia dapat pulang dalam beberapa hari. "Ada sedikit darah dalam gambar, tapi ia tidak terluka parah. Ia sangat nyaman dan dalam pengawasan ketat, tidak ada masalah," kata Dr. Rajnish Patel, profesor dan kepala bedah di Rumah Sakit Sipil Ahmedabad.