Prabowo Bertemu Mantan PM Timor Leste Marie Alkatiri

Prabowo mengatakan, Gerindra mendukung setiap usaha untuk mempererat persahabatan Indonesia dengan negara lain.

oleh Ismoko WidjayaDiterbitkan 10 Juni 2013, 15:47 WIB
Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto bertukar pengalaman politik dengan mantan Perdana Menteri Timor Leste Marie Alkatiri. Pertemuan yang berlangsung selama satu setengah jam tersebut tertutup bagi media.

"Ini sebuah kehormatan dikunjungi di markas kami. Saling tukar pengalaman dan ke depan mudah-mudahan saling tukar-menukar kunjungan," kata Prabowo di kantor DPP Gerindra, Jakarta Selatan, Senin (10/6/2013).

Prabowo mengatakan, Gerindra mendukung setiap usaha untuk mempererat persahabatan Indonesia dengan negara tetangga maupun negara lain. Kunjungan yang dilakukan Marie, kata Prabowo, sangat baik dalam rangka mempererat hubungan persahabatan antara Indonesia dan Timor Leste.

Sementara, Wakil Ketua Umum DPP Gerindra Fadli Zon mengemukakan, pertemuan lanjutan antara kedua belah pihak sangat mungkin dilakukan untuk menjalin sebuah kerja sama, tidak hanya di bidang politik, namun juga perekonomian.

Prabowo didampingi Ketua Umum DPP Gerindra Suhardi, Fadli Zon dan Sekretaris Jenderal Ahmad Muzani. Petinggi Gerindra menyambut kunjungan Marie Alkatiri didampingi Ketua Majelis Ulama Indonesia Amidan beserta rombongan.

Menurut Fadli, Marie mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pada Senin siang dan akan mengunjungi beberapa tokoh di Indonesia, termasuk Prabowo yang menjadi tokoh pertama yang dikunjungi. Marie dan rombongan datang pukul 12.05 WIB dan meninggalkan kantor pusat DPP Gerindra pada 13.35 WIB.

"Yang disampaikan secara lisan adalah untuk silaturahim dan juga perkenalan. Apalagi dulu Prabowo cukup lama bertugas di Timor Timur," tambah Fadli Zon.

Fadli mengatakan, Gerindra sangat terbuka untuk melakukan komunikasi politik dengan pihak manapun. Baik dari dalam maupun luar negeri, seperti duta besar atau para tokoh dari negara sahabat.

"Kami biasa sebetulnya menerima kunjungan seperti ini, misalnya dari dubes atau tokoh dari beberapa negara sahabat. Ini saya kira untuk menjalin jaringan dan silaturahim. Jadi tidak masalah," ujar Fadli. (Ant/Ism)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya