Pandu Sjahrir Yakin Prospek Investasi Indonesia Meski Ada Gejolak Global

CIO Danantara Pandu Sjahrir menekankan pentingnya investasi pada sektor padat karya dan hilirisasi untuk mendukung produksi baterai listrik dalam negeri.

oleh Natasha AmaniDiterbitkan 26 Juni 2025, 20:10 WIB
Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Pandu Patra Sjahrir menjelaskan, Danantara yang dibentuk di bawah pemerintahan Presiden Prabowo, bertugas mengelola dividen BUMN dan dua jenis holding yaitu investment dan operasional. Hal tersebut diungkapkan Pandu dalam Forum Bisnis bertajuk “Prospek Danantara Menuju Sovereign Fund Bertaraf Dunia” yang digelar President Club. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - CIO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Pandu Sjahrir mengaku masih optimis pada perekonomian dan iklim investasi di Indonesia, meski pasar global tengah dilanda ketidakpastian akibat gejolak geopolitik.

Dalam sesi diskusi di acara BSI International Expo 2025 yang digelar Bank Syariah Indonesia, Pandu menyoroti posisi Indonesia tak hanya sebagai salah satu negara anggota G20 terbesar, tetapi juga memiliki ekonomi dan politik yang cukup stabil.

“(Ekonomi) Indonesia tidak buruk, inflasi tetap menjadi salah satu yang paling penting, juga stabilitas politiknya sangat baik,” ujar Pandu di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (26/6/2025).

Meski demikian, Pandu juga tidak mengesampingkan bahwa masih perlu adanya sikap kehati-hatian dan waspada pada perkembangan ekonomi global.

“Tetapi kita juga harus berhati-hati, bagaimana perkembangan ekonomi bisa berdampak pada masyarakat. Maka dari itu kami sangat fokus untuk pembangunan ekonomi melalui investasi,” bebernya.

Pandu pun menekankan pentingnya investasi pada sektor padat karya dan hilirisasi untuk mendukung produksi baterai listrik dalam negeri.

“Indonesia saat ini merupakan salah satu tempat investasi paling menarik untuk berinvestasi, karena sumber daya alamnya yang besar, 300 juta penduduk yang tumbuh, ekonomi yang baik, dan inflasi yang rendah,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Danantara hadir dalam pergelaran BSI International Expo 2025 pada Kamis, 26 Juni 2025.

Acara tersebut dijadwalkan berlangsung pada 26-29 Juni 2025 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Pusat.

BSI menargetkan nilai transaksi hingga Rp 1 triliun dalam gelaran BSI International Expo 2025.

 

Ekonomi Syariah RI Masih Kalah dari Malaysia-Arab Saudi, Rosan: Ini PR Kita Bersama

Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Perkasa Roeslani di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (21/5/2025). (Arief/Liputan6.com)

Menteri Investasi Rosan Roslani menyoroti posisi Indonesia yang berada di urutan ketiga indeks ekonomi islam global, di bawah Malaysia dan Arab Saudi.

Rosan mengakui, hal ini menjadi PR bagi Indonesia untuk meningkatkan kinerja ekonomi syariah nasionalnya, yang dikenal sebagai salah satu negara dengan populasi muslim terbesar dunia.

“Ini menjadi salah satu PR kita bersama bagaimana bisa meningkatkan peran dari industri ekonomi halal di Indonesia bukan sebagai tambahan, tetapi sebagai tujuan utama agar ekonomi industri halal bisa terus berkembang dan memberikan kontribusi yang positif,” ujar Rosan dalam pembukaan BSI International Expo 2025 di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (26/6/2025).

Maka dari itu, Rosan menegaskan, industri produk dan layanan halal Indonesia perlu untuk terus aktif berkolaborasi guna memperluas jangkauannya.

 

Bos BSI Soroti Penetrasi Perbankan Syariah RI Masih Kecil: Hanya 8 Persen

PT Bank Syariah Indonesia Tbk resmi membuka pergelaran BSI International Expo 2025. (Foto: Liputan6.com/Natasha A)

Adapun Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo menuturkan bahwa ekonomi syariah diharapkan menjadi arus utama dan penggerak ekonomi nasional ke depan.

Anggoro menyoroti posisi strategis Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia atau 88 persen dari total populasi.

Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam penetrasi perbankan syariah, dengan jumlah yang relatif kecil (8 persen) dibandingkan negara-negara muslim lainnya.

Meski demikian, BSI tetap optimistis terhadap industri keuangan syariah di dalam negeri. Anggoro mengutip data riset internal BSI yang menunjukkan bahwa hampir 60 persen penduduk muslim di Indonesia tergolong memiliki nilai spiritual yang tinggi, dengan 29 persen bersifat konformis dan 30 persen universalis.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya