Potensi Tembus Rp 131,7 Triliun, Mendag Sasar Pasar Produk Halal Australia

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyasar pasar produk halal Australia, yang punya potensi hingga mencapai USD 8,13 miliar, atau setara Rp 131,7 triliun (kurs Rp 16.200 per dolar AS).

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 26 Juni 2025, 17:45 WIB
Menteri Perdagangan Budi Santoso melepas ekspor perdana 8.872 pasang produk alas kaki buatan CV Rumah Jeddiah senilai USD 38 ribu, atau sekitar Rp618 juta, ke Kuwait hari ini, Selasa, (3/6/2025) di Surabaya, Jawa Timur.

Liputan6.com, Jakarta Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyasar pasar produk halal Australia, yang punya potensi hingga mencapai USD 8,13 miliar, atau setara Rp 131,7 triliun (kurs Rp 16.200 per dolar AS).

Target itu disampaikannya usai menyaksikan penandatanganan kerjasama antara Kementerian Perdagangan (Kemendag) dengan Global Australian Halal Certification (GAHC) di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (26/6/2025).

Secara global, Mendag menyampaikan, permintaan dunia untuk produk halal mencapai USD 1,3 triliun (Rp 21.060 triliun) pada 2024. Meningkat sekitar 8,31 persen dalam 5 tahun terakhir. Di sisi lain, angka ekspor Indonesia ke Australia secara keseluruhan masih lebih kecil dari potensi pasar produk halal Australia, hanya sekitar USD 4,9 miliar.

"Sementara itu impor produk halal Australia mencapai USD 8,13 miliar. Ini impor produk halal (oleh Australia), artinya pasarnya besar. Sementara ekspor keseluruhan kita ke Australia itu USD 4,9 miliar," ujar dia.

"Sebenarnya masih kecil, sekian persennya itu berarti baru produk halal. Sementara pasarnya atau impor dia ke dunia itu USD 8,13 miliar, jadi cukup besar. Kalau kita bisa masuk ke Australia untuk pasar di sektor halal, saya kira sangat bagus," ungkapnya.

Menurut data yang didapatnya, populasi penduduk muslim di Australia pun terus meningkat setiap tahunnya. Saat ini, tercatat sebanyak 813 ribu orang atau sekitar 3,2 persen populasi di Australia adalah umat muslim.

 

Produk Halal Untuk Gaya Hidup

Menteri Perdagangan Budi Santoso saat ekspose hasil pengawasan barang beredar dan jasa pada Januari-Maret 2025. (Foto: Kementerian Perdagangan)

Di luar angka tersebut, Mendag meyakini potensi produk halal RI di Australia masih jauh lebih besar. Lantaran, produk-produk dengan sertifikasi halal disebutnya juga bisa digunakan oleh umat non-muslim sebagai bagian dari gaya hidup (lifestyle).

"Produk halal itu lifestyle, gaya hidup. Jadi yang memakai tidak musti muslim, siapa saja bisa karena produk halal. Artinya, pasarnya ya tidak hanya 3,2 persen tadi, mudah-mudahan semua memakai produk halal," ucapnya.

Oleh karenanya, ia berharap GAHC bisa menjadi jembatan bagi bagi produk halal Indonesia untuk bersaing di pasar Negeri Kangguru, khususnya untuk produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

 

 

 

Neraca Dagang RI-Australia Masih Defisit

Menteri Perdagangan Budi Santoso meluncurkan GASPOL Goes to Campus bertajuk “Bangga, Bela dan Beli Buatan Indonesia” di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). (Foto: Kementerian Perdagangan)

Lebih lanjut, Mendag juga menyoroti Australia yang merupakan salah satu partner dagang Indonesia, yang menempati peringkat ke-12 pasar ekspor RI. Adapun total nilai perdagangan keduanya mencapai USD 15,39 miliar, menunjukan bahwa neraca dagang RI masih defisit.

Ia lantas kembali berharap GAHC bisa mendongkrak angka ekspor ke negeri tetangga tersebut. Dengan cara turut menarik diaspora Indonesia sebagai pembeli.

"Kami juga berharap, diaspora juga sebagai buyer, sebagai importir. Kita kan punya banyak diaspora di saja ya. Jadi kalau bisa diaspora di sana yang punya kesempatan untuk jadi importir, kita dorong," tuturnya.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya