7 Tahun Jadi Raja: Kisah Kejayaan Lyon yang Kini Tinggal Cerita

Dulu, mereka adalah raja tak terbantahkan. Kini, mereka harus merangkak kembali dari kasta kedua.

oleh Gia Yuda PradanaDiperbarui 25 Juni 2025, 10:49 WIB
Juninho bisa dibilang merupakan eksekutor tendangan bebas terbaik sepanjang masa. Ia tercatat sukses melesatkan 75 gol dari situasi tersebut. Penampilan hebatnya sebagai playmaker juga membuat dirinya mempersembahkan banyak gelar di Olympique Lyon, yaitu 7 gelar Ligue 1 berturut-turut. Juninho juga terkenal sebagai pemain dengan visi dan umpan yang sangat baik. (AFP/Philippe/Merle)

Liputan6.com, Jakarta Lyon baru saja mengalami salah satu momen tergelap dalam sejarah mereka. Klub asal Prancis itu divonis degradasi ke Ligue 2 karena kondisi keuangan yang memburuk.

Keputusan ini diambil oleh DNGC, badan pengawas finansial sepak bola Prancis, setelah pertemuan yang gagal meyakinkan mereka. Padahal, Lyon pernah menjadi simbol kekuatan sepak bola Prancis pada awal 2000-an.

Dulu, mereka adalah raja tak terbantahkan. Kini, mereka harus merangkak kembali dari kasta kedua. Transformasi ini begitu kontras, mengingat betapa hebatnya mereka di masa lalu.


Misi Aulas dan Kebangkitan Lyon

Presiden Lyon, Jean-Michel Aulas (kanan) saat konferensi pers rekrutmen bek kiri FC Porto, Aly Cissokho (kiri) di Lyon, 20 Juli 2009. AFP PHOTO / JEFF PACHOUD

Segalanya berubah sejak Juni 1987, ketika Jean-Michel Aulas mengambil alih klub. Ia datang dengan visi besar: membawa Lyon ke Divisi 1 dalam empat tahun lewat proyek ambisius bertajuk OL – Europe.

Aulas memberi keleluasaan kepada pelatih Raymond Domenech untuk merekrut siapa pun yang dianggap tepat. Hasilnya, promosi langsung dan tiket ke UEFA Cup menjadi awal dari segalanya.

Namun, prestasi stagnan membuat Domenech digantikan Jean Tigana yang langsung membawa Lyon finis kedua pada musim 1994–1995. Tanda-tanda kebangkitan mulai terlihat dari sini.


2002–2008: Era Keemasan yang Tiada Tanding

Hatem Ben Arfa. Gelandang serang berusia 35 tahun yang baru saja bergabung dengan Lille pada Januari 2022 ini pernah menghuni Akademi Lyon selama 2 tahun. Dipromosikan ke tim utama pada 2004/2005, ia total 4 musim memperkuat Lyon di Ligue-1. (AFP/Martin Bureau)

Musim panas 2021, seorang gelandang dinamis dan spesialis set-piece asal Brasil ditransfer ke Lyon. Namanya, Juninho Pernambucano. Kehadirannya di Stade Gerland dianggap sebagai katalis utama dari dominasi luar biasa Lyon.

Gelar pertama Ligue 1 akhirnya datang pada 2002, sekaligus memulai rekor nasional tujuh gelar beruntun. Saat itu, mereka menaklukkan Lens 3-1 di laga penentu, dan sejak itu muncul istilah DNA Lyon—mental pantang menyerah yang terus menjadi identitas klub.

Musim berikutnya, meski kehilangan Jacques Santini yang melatih timnas, Paul Le Guen sukses mempertahankan gelar. Sistem 4-2-3-1 dan kembalinya Sonny Anderson memperkuat dominasi OL.

Namun, ada duka yang menyelimuti saat Marc-Vivien Foe meninggal dunia akibat serangan jantung pada 26 Juni 2003. Sebagai penghormatan, nomor punggung 17 yang dikenakannya dipensiunkan.


Lini Produksi Bintang dan Transisi Tanpa Guncangan

Karim Benzema yang kini tengah menjalani musim pertama bersama Al Ittihad di Saudi Pro League menempati posisi ketiga sebagai pesepak bola Prancis termuda sepanjang sejarah yang mampu mencetak gol di Liga Champions. Saat berusia 17 tahun, 11 bulan dan 17 hari, ia mencetak gol pertamanya di Liga Champions bersama Olympique Lyon saat menang 2-1 atas Rosenborg pada laga matchday keenam Grup F Liga Champions 2005/2006 (6/12/2005). (AFP/Martin Bureau)

Paul Le Guen dikenal jago membina pemain muda, dan strategi itu ia terapkan di Lyon. Nama-nama seperti Michael Essien, Florent Malouda, Peguy Luyindula, dan Hatem Ben Arfa mulai bersinar.

Lanjut Baca:

Musim 2004–2005, mereka unggul 12 poin dan tak terbendung hingga meraih gelar keempat. Saat Le Guen mundur, Gerard Houllier masuk membawa era baru tanpa mengganggu stabilitas. Houllier merekrut John Carew, Fred, Pedretti, dan Tiago sebagai pengganti Essien yang hijrah ke Chelsea dengan saga transfer panjang. Karim Benzema dan Ben Arfa pun mulai sering menghiasi tim utama.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya