Bom JW Marriott, dari Pekanbaru Menuju Jakarta

Bom JW Marriott diduga pertama kali dirakit pada 2000 oleh warga Malaysia Andi Syahrudin dan Iqbal di Kota Pekanbaru, Riau. Tempat terakhir sebelum dibawa ke Jakarta adalah Lampung.

oleh Liputan6Diterbitkan 19 Agustus 2003, 20:19 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Bom yang meledak di Hotel JW Marriott, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, 5 Agustus silam disinyalir telah dirancang para pelaku sejak tiga tahun silam. Mulai pembelian bahan-bahan hingga proses perakitan, bahan peledak itu diduga telah berpindah tempat beberapa kali dari Pulau Sumatra ke Pulau Jawa, sampai akhirnya meledak dan menewaskan belasan orang. Berikut urutan perjalanan bom JW Marriott sesuai tempat dan tahun yang dihimpun SCTV, baru-baru ini.

Bom pertama kali dirakit pada 2000 oleh dua warga Malaysia bernama Andi Syahrudin dan Iqbal yang saat itu berada di Kota Pekanbaru, Riau. Bahan peledak itu dibuat dari enam karung bahan peledak yang terdiri dari enam raw material [bahan kasar] bom. Setelah jadi, bom kemudian dititipkan Iqbal ke Idris alias Joni Hendrawan alias Gembrot yang kini ditahan Kepolisian Daerah Bali.

Masih di tahun yang sama, bom itu beserta bahan-bahan pelengkap lain dipindahkan ke rumah Malikul, masih di Pekanbaru. Setahun kemudian, Idris dan Malikul membawa bahan-bahan bom itu ke rumah Datuk Rajo Ameh, juga masih di Pekanbaru.

Awal 2002, bahan bom dipindahkan ke Dumai oleh Datuk Rajo Ameh bersama Idris dan Muhamad Rois. Setahun berikutnya, ketiga orang tersebut membawa barang itu ke kediaman Asma Latin Sani di Bengkulu [baca: Asmar Pernah Memiliki 50 Kg Bahan Peledak]. Nah, tempat inilah yang diduga kuat sebagai lokasi akhir penyelesaian bom oleh Asmar, yang dibantu dokter Azhari, Noor Din Mohd Top, Tohir, dan Muhamad Rois. Mereka diinformasikan merakit bahan-bahan bom itu menjadi tiga bom rakitan, masing-masing seberat 100 kilogram.

Sekitar April 2003, bom itu dibawa ke Lubuklinggau. Perjalanan kemudian diteruskan Asmar dan Tohir ke Lampung. Selain ketiga bom, kedua orang ini juga membekali diri dengan rompi antibom. Pada Juni 2003, polisi mencium keberadaan Asmar dan Tohir bersama bom rakitan di Ibu Kota. Sampai akhirnya Asmar ditemukan tewas dengan kepala terputus di Hotel JW Marriott. Sementara Tohir sampai sekarang masih buron, namun jejaknya kemungkinan ada di Jakarta.

Dua pekan setelah kejadian yang melukai ratusan orang itu, Polri berhasil menangkap hampir semua tersangka pelaku, kecuali dokter Azhari dan Noor Din Mohd Top [baca: Sepuluh Pelaku Bom Marriott Dibekuk]. Menurut Kepala Bagian Reserse Kriminal Mabes Polri Komisaris Jenderal Polisi Erwin Mappaseng, enam orang diciduk sebelum ledakan terjadi. Mereka yakni Tony Togar, Sardono Siliwangi, Idris alias Ikhsan, Datuk Rajo Ameh, Purwadi, dan Muhammad Rais. Sedangkan empat tersangka--Suprapto, Heru Setyanto, Solihin, dan Malikul--diringkus empat hari setelah peristiwa pengeboman yang menewaskan seorang warga Belanda itu. Para pelaku mengakui Hotel JW Marriott termasuk target kelompoknya.(MTA/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya