Liputan6.com, Jakarta: Tim investigasi Markas Besar Polri telah menangkap sepuluh pelaku Bom di Hotel Marriott 5 Agustus silam. Identitas para pelaku diketahui setelah tim investigasi menelusuri jejak perjalanan Asmar Latin Sani, eksekutor yang tewas di tempat kejadian. Hal itu diungkapkan Kepala Bagian Reserse Kriminal Mabes Polri Komisaris Jenderal Polisi Erwin Mappaseng di Jakarta, Selasa (19/8) pagi.
Menurut Erwin Mappaseng, enam orang diciduk sebelum ledakan terjadi. Mereka yakni Tony Togar, Sardono Siliwangi, Idris alias Ikhsan, Datuk Rajo Ameh, Purwadi, dan Muhammad Rais. Sedangkan empat tersangka--Suprapto, Heru Setyanto, Solihin, dan Malikul--diringkus empat hari setelah peristiwa pengeboman yang menewaskan belasan korban tersebut [baca: Ledakan Bom Hebat Mengguncang Plaza Mutiara]. Para pelaku mengakui Hotel Marriott termasuk target kelompoknya.
Para tersangka juga menuturkan, bahan peledak yang digunakan berasal dari sisa peledak yang dirangkai dokter Azhari dan Noordin Mohd Top di Pekanbaru, Riau. "Keduanya warga Malaysia yang juga terlibat Bom Bali. Mereka termasuk dalam daftar pencarian orang dan hingga kini buron," ujar Komjen Erwin Mappaseng.
Sebelumnya, tim investigasi mengetahui Asmar Latin Sani memiliki tiga kartu keluarga (KK) dan kartu tanda penduduk (KTP) dengan alamat berbeda. Besar dugaan, ketiga kartu identitas tersebut sengaja dibuat untuk menyulitkan pelacakan [baca: Asmar Memiliki Tiga KTP].(COK/Fransambudi dan Hendro Wahyudi)
Menurut Erwin Mappaseng, enam orang diciduk sebelum ledakan terjadi. Mereka yakni Tony Togar, Sardono Siliwangi, Idris alias Ikhsan, Datuk Rajo Ameh, Purwadi, dan Muhammad Rais. Sedangkan empat tersangka--Suprapto, Heru Setyanto, Solihin, dan Malikul--diringkus empat hari setelah peristiwa pengeboman yang menewaskan belasan korban tersebut [baca: Ledakan Bom Hebat Mengguncang Plaza Mutiara]. Para pelaku mengakui Hotel Marriott termasuk target kelompoknya.
Para tersangka juga menuturkan, bahan peledak yang digunakan berasal dari sisa peledak yang dirangkai dokter Azhari dan Noordin Mohd Top di Pekanbaru, Riau. "Keduanya warga Malaysia yang juga terlibat Bom Bali. Mereka termasuk dalam daftar pencarian orang dan hingga kini buron," ujar Komjen Erwin Mappaseng.
Sebelumnya, tim investigasi mengetahui Asmar Latin Sani memiliki tiga kartu keluarga (KK) dan kartu tanda penduduk (KTP) dengan alamat berbeda. Besar dugaan, ketiga kartu identitas tersebut sengaja dibuat untuk menyulitkan pelacakan [baca: Asmar Memiliki Tiga KTP].(COK/Fransambudi dan Hendro Wahyudi)