Jathilan, Ketika Kuda Menari Hingga Arwah Menyelinap di Panggung Budaya Yogyakarta

Penonton tidak hanya disuguhi gerakan-gerakan lincah dan atraktif, tetapi juga diselimuti atmosfer magis, apalagi ketika penari mengalami kesurupan

oleh Panji PrayitnoDiterbitkan 29 Juni 2025, 02:00 WIB
Ganjar Milenial Center (GMC) Yogyakarta menggelar Jathilan di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, Selasa (16/5/2023) (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Di balik hiruk-pikuk kota Yogyakarta yang dikenal sebagai pusat seni dan budaya Jawa, tersimpan sebuah kesenian tradisional yang bukan hanya memukau mata tetapi juga mengguncang jiwa penontonnya.

Jathilan lebih dari sekadar pertunjukan tari biasa, Jathilan adalah perwujudan dari semangat mistik, kekuatan supranatural, serta warisan budaya yang sarat akan makna dan simbolisme.

Tarian ini menggunakan properti berupa kuda tiruan yang terbuat dari anyaman bambu, yang disebut kuda lumping, dan dimainkan oleh para penari yang menirukan gerakan kuda dengan irama musik gamelan yang menghentak dan penuh dinamika. Meski tampak sederhana di permukaan, Jathilan menyimpan lapisan-lapisan makna yang lebih dalam, mulai dari semangat keprajuritan, pengorbanan, hingga percampuran antara dunia manusia dan dunia gaib.

Penonton tidak hanya disuguhi gerakan-gerakan lincah dan atraktif, tetapi juga diselimuti atmosfer magis, apalagi ketika penari mengalami kesurupan atau trance, yang menjadi ciri khas tak terpisahkan dari pertunjukan ini.

Jathilan sangat populer di wilayah Yogyakarta dan sering kali ditampilkan dalam berbagai acara, baik yang bersifat sakral seperti upacara adat, bersih desa, hingga acara hiburan rakyat atau festival budaya.

Dalam pertunjukan Jathilan, penonton akan melihat barisan penari laki-laki maupun perempuan yang menari dengan membawa kuda lumping di bawah terik matahari atau sorotan lampu malam, mengikuti irama kendang, gong, kenong, dan suling yang berpadu menciptakan suasana yang meriah sekaligus menegangkan.

Namun momen yang paling dinanti-nanti adalah ketika beberapa penari mulai menunjukkan tanda-tanda kesurupan. Mereka menari dengan mata nanar, tubuh gemetar, dan mulut mengucapkan kata-kata yang tidak dapat dimengerti.

Dalam kondisi ini, mereka sering kali melakukan hal-hal yang di luar batas kewajaran, seperti makan pecahan kaca, mengunyah bunga, bahkan memakan ayam hidup sebuah fenomena yang bagi masyarakat awam tampak mengerikan, namun justru diyakini sebagai bukti kehadiran kekuatan supranatural yang merasuki tubuh sang penari.

Kemunculan Pawang

Pawang atau dukun kemudian muncul untuk menenangkan dan mengendalikan para penari yang kerasukan, menciptakan suasana yang dramatis sekaligus spiritual.Banyak orang percaya bahwa Jathilan bukan hanya seni pertunjukan, melainkan juga medium komunikasi dengan dunia roh.

Dalam tradisi Jawa, kesenian ini dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur dan roh penjaga desa. Tak heran jika sebelum pertunjukan dimulai, sesajen dan doa-doa khusus dipanjatkan agar acara berlangsung lancar dan tidak ada gangguan dari makhluk halus yang tidak diundang.

Jathilan pun menjadi semacam ritual kolektif yang menghubungkan masyarakat dengan akar spiritual mereka, sebuah sarana untuk menyalurkan energi-energi yang tersembunyi, baik dari dalam diri maupun dari luar diri manusia. Di tengah arus modernisasi dan komersialisasi seni, Jathilan tetap bertahan sebagai warisan budaya yang hidup, berkembang, dan tetap mampu menyentuh batin penontonnya.

Bahkan kini, generasi muda banyak yang tertarik untuk belajar menari Jathilan, menjadikannya bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya masa kini. Meski begitu, eksistensi Jathilan tidak lepas dari kontroversi.

Beberapa kalangan menilai unsur kekerasan dan mistik dalam pertunjukan ini bertentangan dengan nilai-nilai rasionalitas dan kesehatan mental. Namun bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, Jathilan bukan untuk ditakar dengan logika semata.

Ia adalah cermin dari cara pandang hidup yang menyatukan dunia nyata dan dunia tak kasatmata. Dalam setiap gerakan tarian, dalam setiap dentum kendang dan jerit kesurupan, terselip pesan tentang keberanian, ketundukan pada alam semesta, serta kesadaran akan keberadaan kekuatan yang lebih tinggi dari manusia.

Maka tak berlebihan jika Jathilan dianggap sebagai salah satu bentuk kesenian yang paling otentik dan menggugah di tanah Jawa, sebuah peristiwa budaya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggetarkan nurani mereka yang menyaksikannya.

Penulis: Belvana Fasya Saad

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya