21 Juni 1982: Penembak Presiden Reagan Dinyatakan Tak Bersalah karena Gangguan Jiwa

Keputusan tersebut memicu kontroversi di tengah publik Amerika Serikat.

oleh Benedikta Miranti T.VDiterbitkan 21 Juni 2025, 06:00 WIB
Presiden AS Ronald Reagan (@DavidPriess/Twitter).

Liputan6.com, Warsaw - Tanggal 21 Juni menjadi salah satu momen paling kontroversial dalam sejarah hukum dan politik Amerika Serikat.

Pada hari itu di tahun 1982, John W. Hinckley Jr., pelaku penembakan terhadap Presiden Ronald Reagan, dinyatakan tidak bersalah karena alasan gangguan jiwa (not guilty by reason of insanity).

Mengutip laman History, Sabtu (21/6/2025), vonis ini tidak hanya mengguncang publik Amerika, tetapi juga memicu perdebatan besar mengenai batas tanggung jawab pidana bagi penderita gangguan mental.

John Hinckley Jr. menembak Presiden Reagan pada 30 Maret 1981, tepat di luar Hotel Washington Hilton, dalam upaya yang hampir merenggut nyawa kepala negara.

Dari enam tembakan yang dilepaskannya, satu peluru bersarang di paru-paru kiri Reagan dan nyaris mengenai jantungnya. Tiga orang lainnya—termasuk juru bicara Gedung Putih James Brady—juga mengalami luka serius. Brady bahkan menderita kerusakan otak permanen akibat tembakan di kepala.

Motif di balik aksi brutal tersebut tidak kalah mencengangkan.

Dalam persidangan, tim kuasa hukum Hinckley mengungkap bahwa klien mereka mengalami gangguan kepribadian narsistik dan terobsesi secara patologis terhadap aktris Jodie Foster setelah menonton film Taxi Driver (1976) berulang kali.

Film tersebut menampilkan karakter utama yang mencoba membunuh seorang senator—aksi yang kemudian ditiru oleh Hinckley dalam kehidupan nyata.

Picu Reaksi Publik AS

Presiden ke-40 AS Ronald Reagan (Huffington Post)

Vonis "tidak bersalah karena gangguan jiwa" dari pengadilan federal pada 21 Juni 1982 sontak memicu kemarahan publik. Banyak pihak merasa bahwa seseorang yang berusaha membunuh Presiden seharusnya tetap bertanggung jawab secara hukum.

Namun, sistem peradilan AS kala itu memprioritaskan prinsip bahwa seseorang yang terbukti tidak mampu membedakan benar dan salah karena penyakit mental tidak dapat dianggap bersalah secara pidana.

Sebagai hasilnya, Hinckley tidak dijatuhi hukuman penjara, tetapi ditempatkan di St. Elizabeth’s Hospital, sebuah rumah sakit jiwa di Washington, D.C., demi alasan keselamatan publik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya