BI Ramal Kredit Perbankan 2025 Tumbuh 8%-11%, Ini Pendorongnya

Bank Indonesia (BI) memperkirakan bahwa pertumbuhan kredit perbankan di tahun 2025 akan tumbuh pada kisaran 8-11%.

oleh Natasha AmaniDiterbitkan 18 Juni 2025, 20:00 WIB
Teller menghitung mata uang Rupiah di Jakarta, Kamis (16/7/2020). Penguatan Rupiah dipengaruhi aliran masuk modal asing yang cukup besar pada Mei dan Juni 2020. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Bank Indonesia (BI) memperkirakan bahwa pertumbuhan kredit perbankan di tahun 2025 akan tumbuh pada kisaran 8-11%.

“Dengan perkembangan kredit hingga Mei 2025, dan prospek perekonomian ke depan Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan pada tahun 2025 akan berada pada kisaran 8-11%,” ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo, dalam konferensi pers Rapat Hasil Dewan Gubernur Juni 2025, Rabu (18/8/2025).

Bank Indonesia terus memperkuatkan pinjakan makroprudensial yang akomodatif, termasuk melalui kebijakan insentif likiditas makroprudensial.

BI mencatat, pertumbuhan Kredit pada bulan Mei 2025 tumbuh sebesar 8,43% year-on-year, atau lebih rendah dari 8,88% year-on-year yang tercatat pada April 2025.

Dari sisi penawaran, preferensi perbankan pada penanaman surat-surat berharga masih kuat. Di tengah, standar penyaluran kredit atau lending standard yang juga mulai meningkat.

“Kondisi likuiditas perbankan masih memadai meskipun pertumbuhan dana pihak ketiga cenderung melambat dari awal Januari 2025 sebesar 5,51% year-on-year menjadi 4,29% year-on-year pada Mei 2025,” papar Perry.

Dari sisi permintaan, pertumbuhan kredit terutama didorong oleh sektor industri, jasa sosial, dan lainnya. Sementara kredit ke sektor perdagangan, pertanian, dan jasa dunia usaha perlu terus ditingkatkan untuk mendukung pembiayaan ekonomi, lanjut Perry.

Berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi masing-masing tercatat 13,74%, 4,94%, dan 8,82% semuanya year-on-year data pada Mei 2025.

Adapun pembiayaan syariah tumbuh sebesar 9,19% year-on-year, sementara kredit UMKM tumbuh sebesar 2,17% year-on-year.

 

Likuiditas Makroprudensial Sentuh Rp372 Triliun di Juni 2025

Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta (4/4). Selain itu BI juga meminta masyarakat agar menukarkan uang yang sudah tidak layar edar. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Total insentif kebijakan likuiditas makroprudensial hingga 2 Juni 2025 mencapai sebesar Rp372 triliun.

Angka tersebut mencakup penyaluran kepada kelompok bank BUMN sebesar Rp164 triliun, Bank Umum Swasta Nasional sebesar Rp166,4 triliun, BPD sebesar Rp36 triliun, dan Kantor Cabang Bank Asing sebesar Rp5,6 triliun.

Ke depan, Bank Indonesia akan terus mendorong penyeluruhan kredit pembiayaan perbankan yang didukung oleh perluasan sumber pendanaan, serta memperkuat sinergi dengan pemerintah, otoritas keuangan, kementerian lembaga, perbankan, dan pelaku usaha.

Ketahanan perbankan tetap kuat mendukung stabilitas sistem keuangan. Kondisi likiditas perbankan memadai. Permodalan terjaga pada level tinggi dan risiko kredit rendah.

 

BI Tahan Suku Bunga Juni 2025 Sebesar 5,5 Persen

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo bersiap menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RGD) Bank Indonesia di Jakarta, Kamis (19/12/2019). RDG tersebut, BI memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR) sebesar 5 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga atau BI-Rate sebesar 5,5 persen untuk bulan Juni 2025.

Keputusan tersebut dibuat dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 17 dan 18 Juni 2025.

“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 17 dan 18 Juni 2025 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,5 persen,” ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers RDG Juni 2025, Rabu (18/6/2025).

“Demikian juga suku bunga deposit facility tetap sebesar 4,75 persen dan suku bunga lending facility tetap sebesar 6,25 persen,” lanjut perry.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya