Jemaah Haji dari Selayar 3 Kali Kirim Kargo dari Arab Saudi demi Oleh-oleh untuk Keluarga dan Kerabat

Jemaah haji asal Kepulauan Selayar itu sengaja mengirim kargo tiga kali secara bertahap yang isinya didominasi oleh-oleh. Dua paket yang dikirimkan pertama bahkan sudah sampai di kampung halaman.

oleh Dinny MutiahDiterbitkan 17 Juni 2025, 15:14 WIB
Abdul Latif, jemaah haji asal Kabupaten Kepulauan Selayar, menggunakan jasa kargo untuk mengirimkan oleh-oleh dengan aman ke kampung halaman. (dok. Liputan6.com/Dinny Mutiah/MCH 2025)

Liputan6.com, Jeddah - Abdul Latif duduk tenang di kursi paviliun Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah, Arab Saudi, saat menunggu giliran waktu terbang pulang ke Tanah Air pada Minggu, 15 Juni 2025. Jemaah haji asal Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan itu tak sibuk mengemas ulang bawaannya saat jemaah lain kembali membongkar koper dan tasnya sebelum masuk ruang pemeriksaan imigrasi.

Koper kabinnya berukuran normal. Ia juga membawa kantong kresek ukuran sedang yang menurutnya berisi bekal makanan untuk dimakan selama menunggu penerbangan yang dijadwalkan pada pukul 16.43 WAS, menggunakan maskapai Garuda Indonesia.

Namun bukan berarti bawaannya tak banyak karena ternyata oleh-oleh yang disiapkannya bersama istri untuk keluarga dan kerabat sudah dikirimkan via kargo PT Pos Indonesia sebelum ibadah hajinya selesai. Tidak hanya sekali, ia mengirimkan paket sampai tiga kali dengan ongkos kirim mencapai Rp7 jutaan.

"Yang kemarin terakhir 17 kilo, yang sebelumnya, yang kedua itu 30 (kg). Yang pertama 41 (kg), waktu masih di Madinah," celotehnya.

 

Barang bawaan sebanyak itu didominasi oleh-oleh, seperti tasbih, pouch, tote bag, dan sajadah. Ia juga sempat membeli bed cover dari Tanah Suci. 

"Tasbih yang banyak sih sebenarnya. Itu kan berat dia. Tasbihnya berat. Tambah sajadah yang agak tebal seperti ini, lumayan berat," imbuhnya.

 

Paket Sudah Tiba di Kampung Halaman

Tumpukan payung yang ditinggalkan jemaah haji Indonesia di paviliun Terminal Haji Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah karena dilarang dibawa ke kabin pesawat. (dok. Liputan6.com/Dinny Mutiah/MCH 2025)

Barang-barang terakhir yang dikirimnya via kargo adalah barang-barang yang ia pakai selama di Tanah Suci yang sayang ditinggalkannya, termasuk payung yang tak bisa dilarang dibawa di koper kabin. "Kebetulan kenal sama ibu posnya, tapi ya tetap enggak dapat dispensasi (agar dapat diskon)," sambungnya lagi.

Dua pengiriman kargo pertama, kata Latif, sudah tiba di kampung halamannya yang menyeberang pulau Sulawesi. "PT Pos itu 15 hari sampai di rumah," ujarnya.

Hanya pengiriman terakhir yang memerlukan waktu lebih lama karena banyak paket dari jemaah haji lainnya sudah menumpuk. "Pengirimannya banyak, jadi dia estimasinya tiga pekan. Sampai satu bulan paling lama katanya," ia menerangkan.

Abdul Latif yang berprofesi sebagai guru SMA di Selayar mengaku tak tahu berapa uang yang dihabiskannya untuk membeli oleh-oleh. Meski begitu, wajahnya begitu ceria saat menjelaskan tentang oleh-oleh yang akan dibagikannya nanti.

Oleh-oleh bagi sebagian besar orang Indonesia menjadi cara untuk menjaga dan menjalin silaturahmi, terutama jika sudah bepergian jauh dan lama seperti menunaikan ibadah haji. Apalagi bagi Abdul Latif, perjalanan ke Tanah Suci adalah kesempatan menunaikan ibadah hajinya yang pertama sejak mendaftar sejak 2013.

 

 

Pengalaman Tak Terlupakan dari Haji 2025

Rombongan jemaah haji Kloter UPG 07 sedang menunggu keberangkatan pesawat di paviliun Terminal Haji Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah, Minggu, 15 Juni 2025. (dok. Liputan6.com/Dinny Mutiah/MCH 2025)

Abdul Latif pergi berhaji bersama istrinya, Mardiani Yassin. Perjalanan ke Tanah Suci terasa tambah istimewa karena ia bisa merayakan ulang tahunnya langsung di depan kakbah, kiblat umat muslim seluruh dunia, pada 22 Mei 2025.

"Minta disehatkan, minta dilancarkan ibadahnya. Sekalian mohon diterima ibadah yang dilaksanakan. Bisa dapat diberi rezeki untuk bisa kembali berkali-kali ke sini lagi. aamiin," ujarnya.

Perjalanan hajinya tahun ini juga semakin berwarna karena sempat berjalan kaki 15 kilometer saat puncak haji di Mina. Selepas melontar jumrah di hari kedua, ia memutuskan kembali ke hotel karena jarak dari Jamarat ke hotelnya di Sektor 3 tidak terlalu jauh, hanya satu kilometer.

Setelah istirahat sebentar di hotel, ia kembali ke Jamarat untuk pelontaran jumrah ke-3. Saat itulah, ia kembali ke Mina untuk mengambil barang-barangnya yang ditinggalkan di tenda di Mina. "Kami sempat tersesat, kami jalan sampai 15 kilometer. Kami di Mina utara tendanya, tapi terdamparnya di Mina Selatan. itu total perjalanan di dua kali pelemparan itu kurang lebih 15 kilometer," kata dia.

Ia juga memutuskan berjalan kaki karena merasa lama menunggu jemputan bus. "Tidak terlalu jauh (dari tenda Mina), tapi yang repot itu bawaannya. Semua barang bawaan, kiri kanan, muka belakang," celotehnya.

 

Infografis delapan syarikah yang melayani jemaah haji Indonesia 2025. (dok. Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya