AFC Melanggar Janji Netralitas: Kegagalan Menjamin Keadilan di Babak Keempat Kualifikasi Piala Dunia

AFC gagal jaga netralitas dengan pilih Arab Saudi dan Qatar sebagai tuan rumah babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026. Apa dampaknya bagi tim seperti Indonesia?

oleh Richard Andreas LuturmasDiperbarui 14 Juni 2025, 02:40 WIB
Pemain Qatar, Almoez Ali dan rekan-rekannya merayakan kemenangan atas Iran pada laga semifinal Piala Asia 2023 di Al Thumama Stadium, Doha, Qatar, Rabu (07/02/2024). (AP Photo/Thanassis Stavrakis)

Liputan6.com, Jakarta Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) kembali menjadi sorotan karena dianggap melanggar prinsip netralitas. Penunjukan Arab Saudi dan Qatar sebagai tuan rumah babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 memicu kemarahan penggemar.

Keputusan ini dinilai menguntungkan kedua negara yang juga peserta, merugikan tim lain seperti Indonesia. Artikel ini mengungkap kegagalan AFC menjamin keadilan dan latar belakang kontroversi tersebut.

Dari sejarah janji netralitas hingga dampaknya bagi Timnas Indonesia, simak fakta di balik polemik ini. Mari telusuri mengapa AFC gagal memenuhi komitmennya.


Janji Netralitas AFC yang Terabaikan

Pemain Timnas Indonesia, Rizki Ridho (kiri) berduel udara dengan pemain Arab Saudi, Saud Abdulhamid dan Faisal Al-Ghamdi pada laga lanjutan putaran ketiga Grup C Kualifikasi Piala Dunia 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Selasa (19/11/2024). (Bola.com/Abdul Aziz)

AFC sering menjanjikan netralitas dalam penyelenggaraan turnamen sepak bola Asia. Prinsip ini bertujuan memastikan semua tim bersaing dalam kondisi adil.

Namun, Reuters melaporkan bahwa AFC menunjuk Arab Saudi dan Qatar sebagai tuan rumah babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026. Kedua negara ini juga peserta, menimbulkan tuduhan pelanggaran netralitas.

Sejarah menunjukkan AFC kerap memindahkan pertandingan ke venue netral untuk alasan keamanan. The Sun mencatat pertandingan Korea Utara dan Arab Saudi pernah digelar di Laos, menunjukkan komitmen awal AFC.

Karena itu, kali ini fans bertanya-tanya mengapa AFC tidak memilih negara netral seperti Jepang. Keputusan ini memperkuat dugaan bahwa AFC memihak negara-negara Teluk.


Alasan AFC Memilih Arab Saudi dan Qatar

Ilustrasi AFC. (dok. AFC)

AFC beralasan bahwa Arab Saudi dan Qatar memiliki infrastruktur sepak bola terbaik. Stadion modern dan pengalaman menyelenggarakan turnamen besar menjadi faktor utama.

Al Jazeera menyebut Qatar sukses menggelar Piala Dunia 2022, sementara Arab Saudi dipilih untuk Piala Dunia 2034. Logistik dan fasilitas kedua negara dianggap mampu mendukung babak keempat.

Namun, keputusan ini dianggap tidak adil karena memberikan keuntungan kompetitif kepada tuan rumah. Irak, yang juga mengajukan tawaran, tidak mendapat kesempatan serupa.

Kritik muncul semakin kuat karena AFC tidak mempublikasikan proses bidding secara transparan.


Dampak bagi Timnas Indonesia

Bintang Timnas Indonesia, Marselino Ferdinan, berlari setelah mencetak gol ke gawang Arab Saudi dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan, Jakarta, Selasa (19/11/2024) malam WIB. (Bola.com/Abdul Aziz)

Timnas Indonesia, satu-satunya wakil Asia Tenggara di babak keempat, menjadi salah satu tim yang berpotensi dirugikan. Bermain di kandang Arab Saudi atau Qatar menambah tekanan bagi Garuda.

BBC menjelaskan bahwa tim tuan rumah sering mendapat keuntungan psikologis dari dukungan penonton. Indonesia, dengan peringkat FIFA lebih rendah, menghadapi tantangan berat.

Pengundian grup pada 17 Oktober 2025 di Osaka akan menentukan lawan Indonesia. Grup yang sulit dengan tuan rumah dapat memperkecil peluang lolos ke Piala Dunia.

Sudah dipastikan Indonesia akan bermain melawan salah satu tuan rumah, entah itu Qatar atau Arab Saudi.

Arab Saudi dan Qatar mendapat keuntungan besar sebagai tuan rumah. Familiaritas stadion dan dukungan penonton dapat meningkatkan performa mereka.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya