PR Sekolah di Jabar Resmi Dihapus, tapi Ada Tugas Pengganti: Menghitung Rumpun Padi

Sepulang sekolah, anak-anak idealnya membantu orang tua di rumah atau melakukan hal produktif di lingkungan sekitar.

oleh Dikdik RipaldiDiperbarui 12 Juni 2025, 07:21 WIB
Ilustrasi siswa, pelajar, murid SMA, anak sekolah. (Photo by Ed Us on Unsplash)

Liputan6.com, Bandung - Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat terbitkan petunjuk teknis mengenai kebijakan gubernur menghapus PR sekolah. Anak sekolah bukan berarti berleha-leha di rumah, mereka sejatinya punya sederet ‘tugas pengganti’ yang dinilai lebih esensial. 

Kepala Disdik Jawa Barat, Purwanto, menerangkan, penerbitan petunjuk teknis adalah tindaklanjut dari Edaran Gubernur Nomor: 81/PK.03/DISDIK Tentang Optimalisasi Pembelajaran. 

Petunjuk itu ditujukan bagi jenjang SMA sederajat. Menegaskan, semua tugas tertulis dari setiap pelajaran harus bisa dioptimalkan di sekolah saat jam belajar. 

Sepulang dari sekolah, anak-anak idealnya membantu orangtua di rumah atau melakukan hal produktif di lingkungan sekitar, termasuk mengembangkan minat dan bakat, sebagaimana tercantum pada poin kelima petunjuk teknis:

Setelah jam pembelajaran efektif, disamping kegiatan yang diarahkan sekolah sebagaimana angka 3, dapat dioptimalkan juga untuk pengembangan mint dan bakat pesera didik di antaranya:

a. Membantu orangtua/wali di rumah serta lingkungan sekitar; dan

b. Pengembangan minat dan bakat peserta didik sesuai tumbuh kembangnya dalam berbagai bidang seperti keagamaan, penguatan literasi, kesenian, olahraga, sains, teknologi, kewirausahaan, dan ekstrakurikuler lainnya yang bermanfaat dalam menunjang penguatan karakter dan peningkatan kompetensi peserta didik.

 

Tugas Pengganti, Menghitung Jumlah Rumpun Padi

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengatakan, anak-anak sepulang sekolah, sepatutnya mengerjakan sesuatu yang produktif selayak mencuci piring, mengepel, memasak, menyetrika, atau kalau perlu pergi membantu orang tuanya kerja di bengkel.

Anak sekolah harus menunaikan minat dan bakatnya semisal lewat seni, membentuk grup musik atau menciptakan lagu, menulis novel, puisi, melukis. Bisa juga mengembangkan kemampuan bahasa dengan membentuk kelompok bermain khusus berbahasa Inggris. 

"Itu adalah pekerjaan rumah (PR) yang harus mendapat penilaian positif dari gurunya," katanya lewat video, Selasa (10/6/2025).

Dia beranggapan, sepulang sekolah adalah waktu anak belajar mengaplikasikan pelajaran sekolah dengan lebih nyata pada kehidupannya sehari-hari, dengan caranya sendiri-sendiri. Yang suka pertanian, misalnya, lebih baik pergi ke sawah mengukur luas petaknya, atau bulak-balik setiap hari menghitung rumpun padi.

"Hitung secara matematik, kemudian hitung, berapa produksi dalam setiap panen?" kata Dedi.

"Atau misalnya ketika ngepel, air bekas yang kotor di-water treatment, karena anak memiliki pengetahuan tentang pengelolaan bahan-bahan kimia yang tidak berbahaya, diubah jadi jernih. Itulah bagian dari keberhasilan anak melakukan pekerjaan rumah (PR)," katanya.

Pendidikan yang terbaik, sambungnya, adalah pendidikan yang memberikan banyak pengalaman bagi muridnya, bagi peserta didiknya. Pengalaman itu lantas meresap memupuk penghayatan hidup. 

"Penghayatan hidup itu pada akhirnya membangun kenyataan hidup,"" tambahnya.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya