Ange Postecoglou dan Paradoks Tottenham: Filosofi Hebat, Hasil Mengecewakan

Ange Postecoglou mengawali dan mengakhiri masa jabatannya di Tottenham dengan penuh semangat, namun performa inkonsisten di tengah musim membuat klub ragu menjadikannya solusi jangka panjang.

oleh Richard Andreas LuturmasDiperbarui 08 Juni 2025, 18:52 WIB
Pelatih kepala Tottenham, Ange Postecoglou, merayakan kemenangannya setelah mengalahkan Manchester United dalam pertandingan final Liga Europa di Stadion San Mames di Bilbao, Spanyol, Kamis dini hari WIB (22-5-2025). (AP Photo/Manu Fernandez)

Liputan6.com, Jakarta Dalam dunia kepelatihan modern, masa jabatan seorang manajer sering terbagi dua: fase 'kepribadian' dan fase 'filosofi'. Yang satu bersifat ledakan jangka pendek, yang lain perjuangan jangka panjang. Jarang keduanya bisa menyatu dalam satu paket.

Ange Postecoglou di Tottenham Hotspur awalnya dianggap sebagai sosok yang sepenuhnya berorientasi filosofi. Ia datang bukan untuk membangkitkan semangat, melainkan untuk memperkenalkan sepak bola progresif khas 'Angeball'. Tottenham seolah siap menapaki jalan panjang menuju kejayaan lewat gaya bermain.

Namun kenyataannya, Postecoglou justru menunjukkan sisi 'kepribadian' dua kali: Saat membawa efek positif langsung di awal musim 2023/2024, dan saat menyelamatkan tim di Liga Europa akhir musim 2024/2025. Di antara dua periode itu, Tottenham justru tampak limbung.


Dua Wajah Postecoglou di Tottenham

Hasil ini membawa pasukan Ange Postecoglou naik ke peringkat keempat klasemen Liga Europa dengan 17 poin, satu angka di belakang Manchester United. (AP Photo/Dave Shopland)

Postecoglou mengambil alih tim dalam situasi sulit. Kepergian Harry Kane adalah pukulan terbesar sepanjang sejarah klub di era Premier League. Ia tidak hanya pencetak gol utama, tapi juga simbol klub. Banyak yang memperkirakan musim Spurs akan diwarnai kalimat “Kalau Kane yang ada, peluang itu bakal jadi gol."

Namun ekspektasi suram itu tak terwujud, sebagian besar karena aura positif yang dibawa Postecoglou. Ia menyuntikkan semangat dan kepercayaan diri sejak awal. Ucapannya lugas, keyakinannya kuat, dan ia piawai menjawab pertanyaan media dengan percaya diri — sebuah perpaduan karisma dan kejelasan arah.

Didukung performa impresif James Maddison, Tottenham sempat memuncaki klasemen. Tapi titik balik terjadi saat laga melawan Chelsea: Bermain dengan sembilan pemain, tetap mempertahankan garis pertahanan tinggi, dan kalah 1-4. Itu memicu rentetan hasil buruk, hanya satu poin dari lima laga, dan Spurs akhirnya finis kelima.


Filosofi Versus Realita di Premier League

Selebrasi bek Tottenham Hotspur, Pedro Porro bersama rekannya, Son Heung-min setelah mencetak gol ketiga timnya ke gawang Nottingham Forest pada laga pekan ke-32 Premier League 2023/2024 di Tottenham Hotspur Stadium, London, Minggu (7/4/2024) malam. (AP Photo/Ian Walton)

Ironisnya, meski filosofi Postecoglou konsisten, starting XI-nya justru tidak. Tak satu pun pemainnya mencatatkan lebih dari 28 penampilan di Premier League dari total 38 laga. Alasan utamanya: Rotasi karena fokus ke Liga Europa dan cedera pemain.

Tapi ada juga pertanyaan soal kebijakan fisik dan rotasi yang diterapkan. Postecoglou mengakui dirinya membuat kesalahan dengan menurunkan pemain terlalu cepat pasca tugas internasional. Ia layak dihargai karena kejujurannya — kualitas langka di dunia pelatih elit.

Lanjut Baca:

Tetapi pengakuan itu juga menyoroti kurangnya pengalaman menangani pemain kelas atas. Sebelumnya, Postecoglou memang sukses di Celtic, tapi level liga yang ia tangani sebelumnya — Jepang, Skotlandia, Australia — jelas jauh di bawah Premier League. Konsistensi fisik dan psikologis di level tertinggi tampaknya masih menjadi tantangan besar baginya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya