Mendag Ungkap Penyebab Surplus Neraca Perdagangan pada April Terendah Sejak 2020

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menjelaskan alasan surplus neraca perdagangan terendah sejak 2020.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 04 Juni 2025, 16:10 WIB
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso. (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan penyebab utama di balik melambatnya surplus neraca perdagangan Indonesia yang hanya mencapai USD 160 juta pada April 2025. Angka ini merupakan yang terendah sejak Mei 2020, meskipun Indonesia tetap mencatatkan surplus selama 60 bulan berturut-turut.

Menurut Budi, secara kumulatif ekspor Indonesia pada Januari hingga April 2025 memang meningkat 6,65% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, penurunan signifikan terjadi pada Maret dan April.

"Jadi, kita ekspor Januari-April dibanding tahun lalu naik memang ya 6,65%. Tetapi Maret-April mengalami penurunan. Jadi setelah kami cek juga di beberapa negara Seperti di Malaysia, Filipina, Vietnam, kita analisa yang pertama kemarin awal April itu masih libur Lebaran ya Jadi masih banyak karena libur sehingga ekspor juga berkurang,”  kata Mendag saat ditemui di Kantornya, Jakarta, Rabu (4/6/2025).

Selain faktor domestik, kondisi global juga turut memengaruhi performa ekspor Indonesia. Budi menjelaskan kebijakan ekonomi yang diambil oleh pemerintahan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump turut memberikan dampak yang luas, termasuk bagi negara-negara ASEAN.

"Terkait kebijakan Trump. Ya apalagi kemarin waktu kami ketemu teman-teman Mendag di Kuala Lumpur waktu KTT ASEAN, kita juga ngobrol ternyata pengaruhnya bagi masing-masing sangat besar bahkan banyak eksportir yang cenderung masih menunggu,” jelasnya.

Ia menambahkan, bukan hanya ekspor ke Amerika Serikat yang terdampak, melainkan ekspor ke negara lain pun ikut melambat karena efek domino dari ketidakpastian global tersebut. 

"Jadi, tidak hanya sekedar ekspor ke Amerikanya tetapi ekspor ke negara lain pun juga saling menunggu. Apalagi sekarang sepertinya belum ada kejelasan lagi begitu Kita juga masih menunggu untuk dijadwalkan negosiasi yang kedua,” ungkapnya.

 

Peningkatan Impor

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso. (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Terkait pertanyaan soal peningkatan impor, Mendag menegaskan bahwa peningkatan tersebut justru menunjukkan adanya geliat ekonomi dalam negeri.

"Impor kita meningkat ya. Tapi impor kita itu impor bahan baku penolong kemudian barang modal yang meningkat ya,” ujarnya.

Dia menuturkan, pertumbuhan impor barang modal dan bahan baku menandakan permintaan dalam negeri juga meningkat, yang merupakan indikator positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Budi berharap perlambatan ekspor yang terjadi pada April akan membaik dalam beberapa bulan ke depan.

"Cuma karena memang ekspornya masih sedikit terganggu. Mudah-mudahan April, Mei, Juni ya Mudah-mudahan bulan depan sudah normal kembali ya,” pungkasnya.

BPS Soal Neraca Perdagangan

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Imam Machdi mengatakan surplus neraca dagang didapatkan dari nilai ekspor yang mencpai US$23,5 miliar miliar dan impor mencapai US$20,59 miliar. (merdeka.com/Imam Buhori)

Sebelumnya, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyampaikan faktor yang membuat neraca perdagangan RI rendah pada April 2025. Diantaranya adanya penurunan nilai ekspor sebesar 10,77 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Pada saat yang sama, terjadi kenaikan nilai impor 8,8 persen secara bulanan dari Maret 2025 ke April 2025.

"Jadi, rendahnya neraca perdagangan Indonesia di bulan April 2025 disebabkan adanya penurunan nilai ekspor sebesar 10,77 persen dibandingkan Maret 2025. Sedangkan nilai impornya mengalami peningkatan 8,80 persen secara month to month,” jelas Pudji.

 

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya