Pasar Menguat dan Rupiah Stabil, Saatnya Tambah Portofolio Saham atau Obligasi?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan performa impresif pada bulan Mei, melonjak 6,0% secara MoM dan ditutup di level 7.175,8.

oleh Pipit Ika RamadhaniDiterbitkan 04 Juni 2025, 15:55 WIB
Pengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (30/12/2019). Pada penutupan IHSG 2019 ditutup melemah cukup signifikan 29,78 (0,47%) ke posisi 6.194.50. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Pasar saham global mencatatkan kenaikan tajam sepanjang Mei. Indeks utama di Amerika Serikat, yakni Dow Jones dan S&P 500, masing-masing menguat 3,9% dan 6,2% secara bulanan (MoM), dan ditutup di level 42.270,1 serta 5.911,7.

Namun, di tengah tren positif tersebut, pasar AS masih dibayangi tantangan signifikan akibat kebijakan perdagangan yang berubah-ubah.

Presiden Donald Trump kembali mengambil langkah agresif terhadap mitra dagang utama, termasuk China. Posisi yang berubah-ubah dalam menerapkan tarif menciptakan ketidakpastian yang mengganggu sentimen pasar. Sebagai dampaknya, indeks S&P 500 sempat turun 0,8% dari puncaknya di pertengahan Mei yang berada di level 5.958,4.

Ketidakpastian terbaru muncul dari perselisihan hukum antara U.S. Court of International Trade (CIT) dan pemerintah federal mengenai kebijakan tarif Trump, yang diperparah oleh tudingan Trump bahwa China telah melanggar kesepakatan dagang awal.

"Pergeseran mendadak dalam kebijakan tarif AS menjadi sumber utama volatilitas pasar saham global," ungkap Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto dalam risetnya, dikutip Rabu (4/6/2025).

Kinerja IHSG Cemerlang 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan performa impresif pada bulan Mei, melonjak 6,0% secara MoM dan ditutup di level 7.175,8.

Kenaikan ini ditopang oleh derasnya arus masuk dana asing yang mencapai Rp 5,5 triliun (setara USD 336,9 juta). Fenomena ini menunjukkan bahwa pepatah lama “sell in May and go away” tampaknya tidak berlaku tahun ini.

Pasar obligasi pemerintah juga menarik minat kuat dari investor asing, yang tercermin dari arus masuk sebesar Rp 20,9 triliun (sekitar USD 1,3 miliar). Di saat yang sama, nilai tukar Rupiah menguat 1,9% secara bulanan, menutup bulan di angka 16.290 per USD. Kinerja positif ini tidak lepas dari membaiknya sentimen risiko global.

Di sisi domestik, langkah Bank Indonesia yang memangkas suku bunga acuan turut memperkuat optimisme investor terhadap prospek pasar Indonesia.

"Pemangkasan suku bunga BI memberi sinyal kuat bahwa stabilitas ekonomi dijaga, dan ini langsung tercermin pada pasar modal," kata Rully.

 

Optimisme Pasar Diuji oleh Lemahnya Fundamental Ekonomi

Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Meski sentimen saat ini terlihat optimistis, sejumlah pihak tetap berhati-hati terhadap keberlanjutan reli pasar saham. Kenaikan IHSG saat ini dinilai belum sepenuhnya didukung oleh fundamental ekonomi yang solid.

Bahkan, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II-2025 diperkirakan akan lebih lemah dibandingkan kuartal sebelumnya.

Konsumsi rumah tangga—komponen utama penggerak ekonomi nasional—diperkirakan hanya tumbuh moderat dan kemungkinan besar tetap di bawah 5,0% secara tahunan (YoY). Sementara itu, pertumbuhan investasi juga diproyeksikan tetap lesu, mengikuti tren yang terjadi pada kuartal I-2025.

Dengan mempertimbangkan ketidakpastian global dan domestik yang terus berlangsung, para analis menyarankan agar investor tetap berhati-hati dalam mengambil posisi di saham.

"Meski pasar terlihat menggairahkan, kami sarankan tetap berhati-hati karena fundamental ekonomi belum mendukung sepenuhnya," tutur Rully.

 

Obligasi Pemerintah dan Rupiah Jadi Titik Terang di Tengah Ketidakpastian

Pengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (30/12/2019). Pada penutupan IHSG 2019 ditutup melemah cukup signifikan 29,78 (0,47%) ke posisi 6.194.50. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Meski pasar saham menghadapi berbagai risiko, obligasi pemerintah justru menawarkan stabilitas yang lebih menjanjikan. Didukung oleh kebijakan moneter longgar dari Bank Indonesia, imbal hasil obligasi diperkirakan tetap stabil, menjadi opsi menarik bagi investor konservatif.

Selain itu, penguatan nilai tukar Rupiah selama Mei menjadi indikator tambahan bahwa tekanan eksternal terhadap pasar keuangan domestik mulai mereda. Stabilitas Rupiah dalam beberapa minggu terakhir memberi sinyal bahwa kepercayaan pasar terhadap kondisi makro ekonomi tetap terjaga.

Kondisi ini memberi celah bagi investor untuk melakukan diversifikasi portofolio tanpa terlalu bergantung pada saham. "Dengan Rupiah yang lebih stabil dan suku bunga yang menurun, pasar obligasi menjadi tempat yang relatif aman di tengah ketidakpastian ekonomi," ulas Rully.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya