Dedi Mulyadi Berencana Hapus PR Sekolah bagi Pelajar di Jawa Barat

Semua proses pembelajaran sekolah harus dikerjakan di sekolah, tidak menjadi beban saat anak berada di rumah.

oleh Dikdik RipaldiDiperbarui 04 Juni 2025, 13:58 WIB
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi, alias Kak Seto, mendatangi langsung barak militer Dedi Mulyadi di Dodik Bela Negara Rindam III/Siliwangi, Cikole, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, 10 Mei 2025. (dok. Instagram @disdikjabar/https://www.instagram.com/p/DJf1tgazjI6/)

Liputan6.com, Bandung - Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi, menyampaikan, Pemerintah Provinsi Jabar berencana menghapus PR sekolah yang biasa diberikan guru kepada siswa. 

“Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana untuk menghapus pekerjaan rumah (PR) bagi anak-anak sekolah,” katanya dalam pernyataan di media sosial, Rabu, 4 Juni 2025.

Dedi mengatakan, semua proses pembelajaran sekolah harus dikerjakan di sekolah, tidak menjadi beban saat anak berada di rumah. 

“Seluruh pekerjaan sekolah dikerjakan di sekolah, tugas-tugas sekolah dikerjakan di sekolah tidak dibawa menjadi beban di rumah,” katanya lagi.

Harapannya, anak-anak bisa lebih fokus melakukan kegiatan lain ketika di rumah, seperti membantu orang tua atau melakukan kegiatan lainnya yang bermanfaat.

“Di rumah itu anak-anak rileks, baca buku, berolahraga, fokus membantu kedua orang tuanya, meringankan beban-beban pekerjaannya, kemudian belajar membereskan rumah, cuci piring, belajar masak, ngepel, dan berbagai kegiatan lainnya yang bermanfaat,” ucap Dedi.

Anak di masing-masing keluarga tetap bisa belajar sepulang sekolah, bukan lewat beban PR melainkan dengan mengikuti kegiatan belajar tambahan seperti les. “Bisa mengikuti les musik, kelas bahasa Inggris, les matematika atau les fisika, dan berbagai kegiatan yang bermanfaat”.

Sebelumnya, kebijakan Dedi Mulyadi di dunia pendidikan seperti memasukan anak bermasalah ke barak, penerapan jam malam, hingga memajukan jam masuk sekolah telah menuai pro-kontra dari berbagai kalangan.

Menanggapi itu, menerutnya, pro-kontra adalah hal wajar, tapi yang terpenting untuk dirawat adalah tujuan bersama dalam mendidik anak agar menjadi lebih baik.

“Untuk itu kebijakan saya pasti ada pro dan kontra, dan bagi saya pro dan kontra adalah hal yang biasa dalam berdemokrasi, tetapi yang terpenting tujuan utama kita adalah untuk mewujudkan anak-anak Jawa Barat yang cageur, bageur, bener, pinter, singer,” kata Dedi.

“Itu adalah cara membangun anak-anak Jawa Barat yang memiiki visi misi orientasi yang kokoh untuk menyambut masa depannya,” pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya