Liputan6.com, Jakarta Harga minyak naik pada hari Selasa (Rabu waktu Jakarta), di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik karena perang di Ukraina meningkat meskipun ada pembicaraan damai di Turki dan Iran bersiap untuk menolak proposal kesepakatan nuklir AS yang akan menjadi kunci untuk mengurangi sanksi terhadap produsen minyak utama.
Dikutip dari CNBC, Rabu (4/6/2025), harga minyak dunia naik hampir 3% pada hari Senin setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, mempertahankan kenaikan produksi pada bulan Juli sebesar 411.000 barel per hari, sama seperti bulan-bulan sebelumnya dan lebih rendah dari yang ditakutkan sebagian pihak di pasar.
Advertisement
Harga minyak Brent naik USD 1 atau 1,55%, ditutup pada USD 65,63 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 89 sen atau 1,42% dan ditutup pada USD 63,41.
“Premi risiko telah kembali memengaruhi harga minyak menyusul serangan mendalam Ukraina terhadap Rusia selama akhir pekan,” kata Analis Harry Tchilinguirian dari Onyx Capital Group.
“Namun yang lebih penting lagi untuk jumlah barel, ada tarik menarik antara AS dan Iran mengenai pengayaan uranium," lanjut dia.
Ukraina dan Rusia pada akhir pekan meningkatkan perang dengan salah satu pertempuran pesawat tak berawak terbesar dalam konflik mereka, sebuah jembatan jalan raya Rusia diledakkan di atas kereta penumpang dan serangan terhadap pesawat pengebom berkemampuan nuklir jauh di Siberia.
Iran Tolak Usulan AS
Sementara itu, Iran bersiap untuk menolak usulan AS untuk mengakhiri pertikaian nuklir yang telah berlangsung puluhan tahun, kata seorang diplomat Iran pada hari Senin, dengan mengatakan usulan tersebut gagal mengatasi kepentingan Teheran atau melunakkan sikap Washington terhadap pengayaan uranium.
Jika perundingan nuklir gagal, itu dapat berarti sanksi lanjutan terhadap Iran, yang akan membatasi pasokan Iran dan mendukung harga minyak.
Dukungan lebih lanjut datang dari dolar yang lemah. Indeks dolar bertahan mendekati level terendah dalam enam minggu karena investor mempertimbangkan prospek kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump dan potensinya untuk menghambat pertumbuhan dan memicu inflasi.
Kurs Dolar AS
Kurs dolar AS yang lebih lemah membuat komoditas yang dihargakan dalam dolar seperti minyak lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.
“Harga minyak mentah terus meningkat, didukung oleh melemahnya dolar,” kata Priyanka Sachdeva, analis pasar senior di Phillip Nova.
Menambah kekhawatiran pasokan, kebakaran hutan yang terjadi di provinsi Alberta Kanada telah memengaruhi lebih dari 344.000 barel produksi pasir minyak per hari, atau sekitar 7% dari keseluruhan produksi minyak mentah negara itu, menurut perhitungan Reuters.
Dukungan harga lebih lanjut dapat terjadi jika perkiraan penurunan persediaan minyak mentah AS terwujud dalam laporan pasokan mingguan terbaru.